Halaqah 21: Penjelasan Pokok Kelima Kitab Ushulussittah (Bagian 4)

thumbnail-cadangan
Materi HSI pada halaqah ke-21 dari halaqah silsilah ilmiyyah abdullah roy bab kitab Ushulussittah adalah tentang penjelasan pokok kelima kitab Ushulussittah bagian 4. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyebutkan dan ini dinamakan dengan haditsul wali, didalam hadits qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barangsiapa yang memusuhi waliku niscaya aku akan mengumumkan peperangan kepadanya” (Hadits riwayat Bukhari nomor 6021/6502)

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong walinya dan barangsiapa yang memusuhi wali diantara wali-wali Allah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumumkan peperangan kepadanya.

Kemudian Allah menyebutkan tentang sifat-sifat wali.

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

‘Dan tidaklah hambaku bertaqarrub kepadaku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang aku wajibkan atasnya”

Diantara sifat wali Allah adalah melakukan kewajiban-kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah dan rasul Nya, mengerjakan shalat lima waktu mengerjakan puasa dibulan Ramadhan dan juga mengerjakan kewajiban-kewajiban yang lain, dan kewajiban ini adalah sesuatu yang sangat dan paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun seorang yang dianggap wali kemudian dia tidak melakukan shalat lima waktu, ketika Ramadhan dia tidak berpuasa, maka ini bukan seorang wali.

Kemudian Allah mengatakan:

وَلا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Dan senantiasa hambaku bertaqarrub kepadaku dengan perkara-perkara yang sunnah sehingga aku mencintai dia.

Diantara sifat-sifat wali-wali Allah adalah mereka bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang sunnah.
  • Shalat sunnah.
  • Puasa-puasa sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا

Maka apabila aku mencintai orang tersebut, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala maka;
  • Aku akan menjadi pendengarannya yang dia akan mendengar dengannya.
  • Aku akan menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya.
  • Aku akan menjadi tangannya yang dia akan memukul dengannya.
  • Aku akan menjadi kakinya yang dia berjalan dengan kaki tersebut.
Maksudnya sebagaimana disebutkan oleh para ulama, dia akan diberikan taufiq untuk meninggalkan kemaksiatan.
  • Tidak mendengar kecuali yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Tidak melihat kecuali yang di ridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Tidak memukul kecuali pada yang hak pada tempatnya.
  • Tidak berjalan kesebuah tempat kecuali ketempat yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apabila Allah mencintai seseorang, maka dia akan diberikan taufiq untuk meninggalkan kemaksiatan

Dan ini adalah sifat diantara sifat-sifat wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang yang dicintai oleh Allah meninggalkan kemaksiatan.

Oleh karena itu bagaimana kita mengatakan bahwasanya orang yang minum minuman keras, berzinah, melakukan kemaksiatan-kemaksiatan akan tetapi dia memakai pakaian seorang ulama kemudian kita katakan bahwa dia adalah seorang wali diantara wali-wali Allah.

Seorang wali adalah orang yang meninggalkan kemaksiatan.

وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Apabila dia meminta kepadamu kata Allah, niscaya aku akan memberikan dan apabila dia memohon perlindungan niscaya aku akan melindungi orang tersebut.
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Ushulussittah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar