Halaqah 43: Landasan Ke Dua Ma’rifatu Dinil Islam Bil Adillah: Rukun Iman Ada Enam

thumbnail-cadangan
Materi HSI pada halaqah ke-43 dari halaqah silsilah ilmiyyah abdullah roy bab Kitab Ushul Ats Tsalatsah adalah tentang landasan kedua ma'rifatu dinil islam bil adillah rukun iman ada enam.

Kemudian beliau menyebutkan bahwasanya cabang-cabang keimanan yang jumlahnya 73 ternyata memiliki rukun atau bagian yang paling penting di dalam Iman.

Jumlah rukunnya ada 6 dan dia berada di tingkat yang paling tinggi diantara cabang-cabang keimanan.

Urutan ke-1 sampai ke-6 adalah 6 rangking pertama yang ditempati oleh Arkanul Iman yang merupakan 6 perkara yang paling penting, yang paling besar pahalanya di dalam cabang-cabang keimanan.

Yang paling tinggi adalah ucapan “Laa Ilaaha Illallaah”. Qaulu “Laa Ilaaha Illallaah” masuk di dalam الإيمان بالله (Al-Imanubillah) yang merupakan rukun iman yang paling tinggi (Iman kepada Allah).
Urutan ke-1 sampai ke-6 adalah rukun Iman yang enam.
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat
  3. Iman kepada Kitab
  4. Iman kepada Rasul
  5. Iman kepada Hari akhir
  6. Iman kepada Takdir
Rukun Iman yang 6 ini menempati 6 rangking yang pertama dari cabang-cabang keimanan dan dia adalah arkan atau rukunnya. Kalau satu diantara rukun iman ini tidak ada, maka seseorang bisa keluar dari keimanan.

Adapun yang lain, urutan setelahnya (nomor 7,8,9, dan seterusnya) maka ini terbagi-bagi.
Ada diantaranya yang merupakan:
  1. Ushulul Iman atau arkanul iman, pondasi keimanan
  2. Kamalul Iman Al Wajib
  3. Kamalul Iman Al Mustahab
Ushulul Iman (pondasi keimanan) jumlahnya ada 6 (Rukun Iman), sedangkan urutan ke-7 hingga yang paling rendah (Adnaa) terbagi menjadi 2, yaitu :
  1. Kamalul Iman Al Wajib (Kesempurnaan Iman yang wajib)
  2. Kamalul Iman Al Mustahab (Kesempurnaan Iman yang dianjurkan)
Jangan kita tertipu dengan ucapan kesempurnaan, kemudian dianggap itu tidak harus, misalnya. Tidak.

Kesempurnaan itu ada dua:
  1. Kesempurnaan yang Wajib
  2. Kesempurnaan yang Sunnah
Kesempurnaan yang wajib, misalnya berbakti kepada orang tua, menafkahi istri dan anak, silaturahim, shalat, puasa.

Kesempurnaan yang sunnah, misalnya shalat rawatib, puasa Senin Kamis, shadaqah.

Ini tadi ada di dalam cabang-cabang keimanan dari urutan ke-7 sampai yang akhir.
Kesempurnaan Iman yang wajib kalau sampai ditinggalkan dia berdosa.
Kesempurnaan Iman yang mustahab kalau dia tinggalkan maka dia tidak berdosa.

Maka yang beliau sebutkan di sini adalah yang rukun-rukun dahulu. Diantara 70 cabang lebih tadi beliau isyaratkan sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam mengisyaratkan, ada yang tinggi (A’laa) ada yang rendah (Adnaa).

Ini menunjukkan bahwasanya Iman ada yang berupa amalan bathin dan amalan dhohir. Maka beliau mulai dengan menyebutkan yang rukun di antara cabang-cabang keimanan tadi.

Beliau rahimahullah mengatakan,

وأركانه ستة: أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وبالقدر خيره شره كله من الله.

“Rukunnya ada 6: Beriman kepada Allah, Beriman kepada Malaikat, Beriman kepada Kitab, Beriman kepada Rasul, Beriman kepada Hari Akhir, dan beriman dengan Takdir yang baik dan buruk, semuanya adalah dari Allah.”

Ini menunjukkan tentang keharusan kita memperhatikan tentang perkara-perkara yang dimasukan di dalam agama kita sebagai rukun.

Kalau kita tahu bahwasanya Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, Takdir, Allah jadikan sebagai rukun keimanan yang kalau sampai satu diantara rukun iman tadi tidak ada maka batal keimanannya, maka kita harus punya perhatian dan mempelajari rukun Iman yang 6 ini.

Sebagaimana ketika kita membahas tentang Islam, kita harus punya perhatian besar terhadap rukun Islam yang 5 (lima).
Ketika datang waktu subuh, dhuhur, ashar, rasakanlah bahwasanya kita sedang melakukan perkara yang besar diantara ibadah-ibadah yang diwajibkan oleh Allah.

Ketika datang Ramadhan kita berpuasa selama 30 hari, kita sedang melakukan perkara yang besar dalam agama ini. (Allah masukan ini di dalam rukun).

Kalau kita termasuk orang yang punya harta, maka ingat kewajiban zakat yang ada di dalam harta tersebut, dan ini termasuk syiar, bahkan dia termasuk rukun di dalam agama Islam.

Kalau kita punya kemampuan untuk melakukan haji ke Baitullah, maka jangan ditunda kalau kita memiliki harta, kemampuan fisik, dan mempunyai mahram bagi wanita maka jangan kita tunda, tapi harus kita laksanakan dan segera kita laksanakan, karena ini Allah masukan dalam rukun Islam dan merupakan perkara yang besar di dalam agama ini.

Termasuk masalah rukun Iman ini, maka kita harus pelajari dengan baik. Dan tentunya mempelajari rukun Iman yang 6 ini, dan di dalamnya ilmu dan penjabaran yang luas tentang Iman kepada yang 6.
Dan tidak semua yang ada di dalam rukun Iman wajib kita ketahui semua.

Misalnya, beriman kepada Malaikat.
Tidak wajib bagi kita mengenal semua nama-nama malaikat, mengenal amalan-amalan malaikat, atau nama-nama para Rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Apakah dinamakan beriman kepada Malaikat, beriman kepada Rasul, seorang wajib mengenal dan menghapal nama Malaikat atau Rasul tersebut? Jawabannya bukan sebuah keharusan. Di sana ada kadar tambahan dan di sana ada kadar yang wajib. Kadar dalam beriman dengan rukun Iman yang 6.

Ada kadar yang wajib (yang cukup): kadar wajib yang mencukupi, yaitu mencukupi untuk dinamakan orang yang beriman kepada Allah, beriman kepada Kitab, beriman kepada Rasul, dan seterusnya. Ada kadar yang tambahan (kesempurnaan).

Maka hendaklah kita mengetahui apa itu kadar yang wajib. Jangan sampai kita hanya memiliki sesuatu yang tidak mencukupi wajibnya. Maka kita harus mengetahui apa yang wajib. Jangan sampai yang kita miliki itu masih kurang dari kadarnya. Karena ini adalah kadar minimal yang mencukupi. Kita harus tahu apa kadar yang mencukupi dari beriman kepada Allah, sehingga kita bisa menimbang dan melihat keadaan kita. Ini sudah atau belum?

Dan kita dalam mendakwahi orang lain, kita harus bijaksana. Kalau kita mengetahui mana kadar yang wajib, mana kadar yang harus minimal dimiliki oleh seseorang, maka Insya Allah kita lebih bijaksana dalam mendakwahkan kepada orang lain.

Karena kalau kita tahu mana kadar yang wajib, maka kita tidak membebani orang lain di luar kemampuannya. Pak yang penting antum bisa ini, memahami ini, ini, dan ini, maka itu sudah kadar yang minimal (antum sudah dinamakan orang yang beriman kepada Allah). Setelah itu kalau memang punya kemampuan, silahkan mempelajari lebih luas. Tapi minimal adalah memiliki keimanan ini dan ini.

Sehingga seseorang harus mempunyai target, yang penting dia sudah paham dan yakin bahwasanya Malaikat itu makhluk Allah. Dan diantara Malaikat ada Malaikat yang bernama Jibril atau Malaikat yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu kepada seorang Rasul, maka itu sudah cukup dinamakan dia sebagai orang yang beriman kepada Malaikat.

Ini menjadikan kita lebih bijaksana dalam berdakwah.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Ushul Ats Tsalatsah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar