Halaqah 76: Pembahasan Dalil Keenam Hadits Shahih Riwayat Jarir bin Abdillah

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-76 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Fadhlul Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

Beliau mengatakan

وَعَنْ جَرِيرٍ: أَنَّ رَجُلًا تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ،

Dari Jarir bahwasanya seorang laki-laki bersadaqoh dengan sebuah sadaqoh kemudian manusia mengikutinya.

Ada seorang laki-laki bersadaqoh kemudian manusia mengikuti laki-laki ini dalam bersadaqoh, kisahnya disebutkan didalam sahih muslim

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ

Beliau mengatakan datang beberapa orang dari Al A’rob yaitu dari kalangan Arab badui

إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ الصُّوفُ

mereka memakai pakaian dari suff dan ini bukan pakaian yang mewah, ini pakaian orang yang kesusahan

فَرَأَى سُوءَ حَالِهِمْ قَدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat orang-orang arab Badui tadi dalam keadaan yang memprihatinkan dan mereka telah ditimpa oleh Hajah yaitu keperluan, mereka adalah orang-orang yang fakir miskin mereka membutuhkan bantuan dari orang lain.

فَحَثَّ النَّاسَ عَلَى الصَّدَقَةِ

maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mendorong manusia, para sahabat Beliau shallallahu 'alaihi wasallam untuk bersadaqoh

فَأَبْطَئُوا عَنْهُ

tapi ternyata mereka lambat saat itu dalam melaksanakan anjuran dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karena sifatnya masih حَثّ yaitu anjuran dan yang datang di sini adalah orang-orang Arab badui maka saat itu mereka lambat di dalam melaksanakan

حَتَّى رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ

terlihat yang demikian di wajah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ketika Beliau shallallahu 'alaihi wasallam melihat para sahabatnya kok pada lambat untuk menolong orang-orang Arab badui ini padahal Beliau shallallahu 'alaihi wasallam sudah melihat bagaimana memprihatinkannya keadaan mereka ini

قَالَ ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ جَاءَ بِصُرَّةٍ مِنْ وَرِقٍ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ ثُمَّ تَتَابَعُوا

Kemudian ada seorang laki-laki dari kalangan Anshar datang dengan صُرَّةٍ مِنْ وَرِقٍ maksudnya adalah dengan sekeranjang anggur, kemudian datang yang lain juga membawa sodaqohnya, ketika manusia melihat seorang Anshar ini dia membawa sekeranjang anggur maka yang lain tergerak hatinya untuk ikut bersadaqoh akhirnya mereka pun banyak diantara mereka yang mengeluarkan sadaqoh diberikan kepada orang-orang Arab badui tadi.

حَتَّى عُرِفَ السُّرُورُ فِي وَجْهِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sehingga diketahui kegembiraan kebahagiaan pada wajah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, gembira karena para sahabat mereka berinfak dan bersedekah tentunya mereka mendapatkan pahala kemudian juga gembira melihat orang-orang Arab badui tadi yang datang dalam keadaan memprihatinkan keadaannya kemudian mereka terbantu mendapatkan makanan yang cukup, pakaian yang bagus maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam kelihatan gembira dari wajah Beliau shallallahu 'alaihi wasallam, karena ini bukan untuk kepentingan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam tapi untuk kepentingan orang-orang yang fakir miskin tersebut dan orang yang bersedekah mendapatkan pahalanya dan orang fuqara’ tadi dia mendapatkan faedahnya.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً

inilah yang ingin dibawakan oleh beliau di sini.

«فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً؛

Barang siapa yang menempuh didalam islam jalan yang baik, mengamalkan di dalam Islam amalan yang baik, amalan tersebut memang sudah masru’ di dalam Islam kemudian diamalkan, seperti orang yang bersadaqoh tadi sadaqoh memang sesuatu yang disyariatkan di dalam agama Islam kemudian dia mengamalkannya maka ini adalah makna

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً

dia melakukan amalan yang shaleh, sesuatu yang memang dimasru’kan di dalam agama Islam kemudian dia hidupkan di tengah-tengah manusia yang mereka tidak mengamalkan tidak menghidupkan amalan tadi

فَلَهُ أَجْرُهَا

maka dia mendapatkan pahalanya, tentunya kalau dia ikhlas فَلَهُ أَجْرُهَا maka dia mendapatkan pahala sunnah tadi.

وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدَهُ

Dan dia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkan sunnah tadi setelah dirinya.

Seperti tadi bersadaqoh manusia masih dalam keadaan males-malesan, ragu tapi ketika dia hidupkan sunnah ini dan dia membawa sampai disebutkan didalam riwayat dia sampai berat untuk membawa anggur tadi, jadi dia tidak hanya membawa sedikit saja tapi sampai keberatan bukan sedikit yang dia keluarkan maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya.

Karena orang-orang tadi tergerak hati mereka ketika melihat orang ini melakukan sunnah tergerak hati mereka untuk bershadaqah ketika melihat orang lain bersadaqoh sehingga orang tadi selain dia mendapatkan pahala shodaqoh yang dia keluarkan dia juga akan mengalir kepadanya pahala shodaqoh yang dilakukan oleh orang-orang yang tadi mengikuti dia.

Mungkin ada diantara mereka yang bershodaqoh dengan emas 10 ons misalnya dan dia dalam keadaan ikhlas mengeluarkan emas tadi mendapatkan pahala yang besar maka orang yang pertama tadi meskipun dia hanya bersadaqoh dengan anggur maka dia juga akan mendapatkan pahalanya karena dia menjadi orang yang pertama kali dan dia yang menghidupkan sunnah tadi dan ini menunjukkan tentang keutamaan menjadi qudwah bagi orang lain dalam kebaikan.

Banyak orang yang mendapatkan hidayah karena melihat kita semangat dalam melakukan kebaikan

مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

Tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikitpun.

Jadi orang-orang yang mengikuti tadi dan dia bersadaqoh mereka juga dapat pahalanya tidak berkurang dari pahala mereka, tetapi Allah menambahkan pada diri orang yang mengamalkan pertama kali tadi. Jadi digandakan oleh Allah dan dobelnya ini diberikan ke pada orang yang mengamalkan pertama kali tadi tanpa dikurangi dari orang yang mengikutinya.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Fadhlul Islam]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar