Halaqah 111: Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah (Bagian 3)

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-111 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Fadhlul Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

بَابُ مَا جَاءَ فِي غُرْبَةِ الإِسْلاَمِ وَفَضْلِ الغُرَبَاءِ

Bab apa-apa yang datang, maksudnya adalah dalil-dalil yang datang, yang berisi tentang akan terjadinya غُرْبَة الإِسْلاَم keasingan agama Islam dan dalil-dalil tentang keutamaan orang-orang yang asing yaitu orang yang asing karena dia berpegang teguh dengan Islam.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan

لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا

Orang yang mengamalkan amalan di hari-hari tersebut, yaitu di hari-hari kesabaran dia masih berusaha untuk mengamalkan apa yang ada di dalam agama Islam, yang sudah mati di antara manusia atau di antara masyarakat, dia amalkan, banyak orang yang tidak shalat malam dia bangun shalat malam, banyak orang yang tidak memakai hijab dia memakai hijab, dan sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang lain

مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا

maka dia mendapatkan pahala lima puluh orang laki-laki

يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكم

lima puluh orang laki-laki yang dia beramal seperti amalan kalian, ini Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berbicara di hadapan para sahabat. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan tentang apa yang terjadi di masa yang akan datang dan keutamaan orang yang bersabar dan menjelaskan tentang pahala orang-orang yang bersahabar di hari-hari tersebut, pahalanya besar, dia mengamalkan sebuah amalan maka dia mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengamalkan amalan tersebut مِثْلَ عَمَلِكم seperti amalan kalian.

Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan مِثْلَ عَمَلِكم maka para sahabat radhiyallahu ta’ala’anhum bertanya, yang diajak bicara di sini adalah para sahabat, كم disini yang dimaksud oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam كم kita yang ada di depan beliau atau كم di masa tersebut, kok besar sekali lima puluh orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang mengamalkan amalan ini.

قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ؟

Mereka bertanya ya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maksudnya adalah kami, yaitu para sahabatmu atau مِنْهُمْ, atau orang-orang yang ada di zaman kesabaran tadi di hari-hari kesabaran tadi,

قَالَ: «أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan tidak atau bahkan adalah diantara kalian, maksudnya adalah para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Kenapa di sini para sahabat radhiyallahu ta’ala’anhum sampai bertanya demikian, karena kalau dibandingkan dengan amalan sahabat ini pahala yang sangat-sangat besar, kita tahu hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela para sahabatku karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfak dengan emas sebesar gunung uhud, seandainya gunung uhud yang panjang yang ada di sebelah utara kota Madinah, seandainya ini semua adalah berupa emas, kalau ada salah seorang diantara kalian berinfak dengan emas sebesar gunung uhud, bermiliar-miliar, banyak ton, seandainya orang berinfak dengan satu kilogram emas saja itu sudah banyak, kita tidak bisa membayangkan berapa dia berinfak emas sebesar gunung uhud.

Dengan banyaknya, maksud dari hadits ini adalah berinfak dengan ikhlas, kalau riya meskipun satu gunung uhud juga tidak diterima, maksudnya adalah berinfak dengan jumlah sebanyak itu disertai dengan apa keikhlasan di dalam berinfak, pahalanya besar, kuantitasnya luar biasa, kualitasnya juga luar biasa, ikhlas dan banyak infaknya, tergabung di dalamnya dua keutamaan, menunjukkan pahala yang besar yang dimiliki oleh orang ini. Tapi kalau dibandingkan dengan satu mud, kalau ada seorang sahabat yang dia berinfak dengan satu mud makanan, kurma misalnya atau nasi kalau memang ada nasi, kemudian diinfakkan dia sedekahkan kepada orang miskin ternyata Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan

مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ

Pahala yang ada di sini tadi tidak akan sampai pada satu mud yang dikeluarkan oleh seorang sahabat, padahal satu gunung emas tadi dengan ikhlas itu pahalanya sudah banyak sekali, belum lagi Allah subhanahu wata'ala melipatgandakan pahala shodaqoh tadi, tapi dibandingkan dengan satu mud yang dikeluarkan oleh sahabat maka pahala yang dibawa dan diterima oleh sahabat tadi meskipun hanya satu mud itu lebih besar pahalanya.

Dari sisi karena mereka lebih dalam keimanannya, lebih shodiq, lebih ikhlas dan keutamaan-keutamaan amalan hati yang lain, dari sisi yakinnya, dari sisi shidqnya, dari sisi keikhlasan mereka jauh lebih dalam dari pada orang-orang setelah mereka, abarruha qulūban, mereka adalah orang yang paling bersih hatinya, orang yang paling yakin dengan hari akhir sehingga dengan itulah mereka mendahului orang-orang yang datang setelahnya. Tidak mendahului kalian Abu Bakar as Shiddiq dengan banyaknya puasa, dengan banyaknya Shalat tapi ma waqara fi qalbihi wassoddaqot hu al a’mal, dengan sebab apa yang tertancap di dalam hati dia dan di ikuti dengan amalan.

Bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan setelahnya

وَلَا نَصِيفَهُ

bahkan tidak separuhnya, satu mud saja kita sudah terheran-heran melihatnya, seandainya mereka berinfak dengan setengah mud, satu telapak tangan saja mereka infakkan itu masih jauh lebih besar pahala yang mereka dapatkan dari pada salah seorang diantara kita berinfak dengan emas sebesar gunung uhud.

Syahidnya di sini menunjukkan tentang besarnya pahala para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sehingga لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي jangan kalian mencela para sahabat, bagaimana kita mencela orang-orang yang memiliki kedudukan demikian, mengamalkan amalan sedikit saja pahalanya luar biasa yang Allah subhanahu wata'ala lipat gandakan kepada para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Fadhlul Islam]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar