Halaqah 58: Dalil yang Menunjukkan Sifat Melihat bagi Allah Subhanahu wata'ala

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Disini beliau akan membawakan untuk kita ayat-ayat yang menunjukkan bahwasanya diantara sifat Allah subhanahu wata'ala adalah Ar-Ru’yah. Allah subhanahu wata'ala mengatakan

إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى

Sesungguhnya aku bersama kalian berdua, yaitu berdua disini adalah nabi Musa dan juga nabi Harun ketika Allah subhanahu wata'ala menyuruh keduanya untuk melakukan perkara yang sangat besar, perkara yang menakutkan, hanya dua orang saja nabi Musa dan juga nabi Harun disuruh oleh Allah subhanahu wata'ala untuk mendatangi fir’aun yang dikenal dengan kebengisannya kekejamannya dan dia memiliki ribuan pasukan dengan senjata lengkap, tinggal dia mengatakan bunuh tinggal dia mengatakan siksa

ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ

Pergilah kalian berdua kepada fira’un sesungguhnya dia telah melampaui batas

فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَ

Maka ucapkanlah oleh kalian berdua kepada fir’aun dengan ucapan yang لَيِّن (lembut), dia memang melampaui batas bahkan dia mengatakan aku adalah Robb yang paling tinggi, kekufuran yang sharih, tapi adab dalam berdakwah asalnya adalah kita berlemah lembut supaya apa?

لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡش

Semoga dengan ucapan yang lembut ini dia ingat atau ada di dalam dirinya rasa takut sehingga dia bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala, apa yang dilakukan oleh nabi Musa dan juga nabi Harun sebelumnya ketika diperintahkan untuk menghadap kepada fir’aun dan mendakwahi, ini perkara yang lebih besar juga, mendakwahi yaitu mengajak dia untuk menyembah Allah subhanahu wata'ala padahal dia mengatakan dirinya adalah tuhan, ini perkara yang besar menyampaikan kepada seorang raja sesuatu yang sangat bertentangan dengan apa yang dia ucapkan bahkan dia mengambil manfaat dari ucapan dia, ingin menyuruh manusia untuk menyembahnya menjadikan manusia semakin mengagungkan dia, jadi nabi Musa dan juga nabi Harun disuruh untuk mengucapkan dan mendakwahi fir’aun ini tugas yang berat

قَالَا رَبَّنَآ إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفۡرُطَ عَلَيۡنَآ أَوۡ أَن يَطۡغَىٰ

Keduanya berkata wahai Robb kami, mengadu kepada Allah subhanahu wata'ala mengatakan, wahai Robb kami sesungguhnya kami takut kalau sampai fir’aun berlebihan atau dia mendzhalimi kami, sebagaimana yang terjadi pada yang lain, fir’aun dia membunuh seluruh bayi Bani Israil, melakukan apa yang dia inginkan berupa kedzoliman maka ini adalah takut yang thabi’i (tabiat manusia)

قَالَ لَا تَخَافَآۖ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ

Kemudian Allah subhanahu wata'ala mengatakan kepada keduanya, mengatakan قَالَ لَا تَخَافَآۖ jangan kalian berdua takut wahai Musa wahai Harun jangan kalian berdua takut, hilangkan rasa takut yang ada pada diri kalian إِنَّنِي sesungguhnya aku مَعَكُمَآ bersama kalian berdua أَسۡمَعُ وَأَرَى aku mendengar dan aku melihat, Subhanallah. Allah subhanahu wata'ala mengutus keduanya bukan membiarkan begitu saja tapi Allah subhanahu wata'ala menjanjikan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala bersama keduanya, dan disini sifat Ma’iyah bagi Allah subhanahu wata'ala disebutkan dalam ayat ini dan insya Allah subhanahu wata'ala nanti akan ada ayat-ayat yang secara khusus yang disebutkan oleh Syaikhul Islam yang menunjukkan tentang sifat ma’iyah ini.

Dan sifat ma’iyah yang disebutkan dalam ayat ini, ma’iyah artinya adalah kebersamaan, ini adalah kebersamaan yang khusus yang Allah subhanahu wata'ala berikan kepada wali-wali, karena sifat ma’iyah nanti Insya Allah subhanahu wata'ala akan sampai, ada dua, ada ma’iyah yang ‘ammah, ma’iyah yang umum yaitu Allah subhanahu wata'ala bersama makhluknya maksudnya adalah dengan ilmunya sebagaimana Firman Allah subhanahu wata'ala

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ
(Q.S Al-Hadid 57: 4)

Dan dia bersama kalian dimanapun kalian berada

هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ
المجادلة – 7

Dia bersama mereka dimanapun mereka berada, ini adalah ma’iyah yang umum, Allah subhanahu wata'ala bersama makhluk-Nya maksudnya adalah dengan ilmu-Nya.

Disana ada ma’iyah yang khusus yang konsekuensinya adalah Allah subhanahu wata'ala menolong mereka, menjaga mereka dari perkara yang buruk, maka ini adalah ma’iyah yang khusus yang Allah subhanahu wata'ala berikan kepada wali-wali-Nya, ditolong oleh Allah subhanahu wata'ala dicintai oleh Allah subhanahu wata'ala maka Allah subhanahu wata'ala mengatakan

إِنَّنِي مَعَكُمَآ

Sesungguhnya Aku bersama kalian.

Kalau Allah subhanahu wata'ala sudah bersama kita menjaga kita apa yang ditakuti oleh seorang hamba Allah subhanahu wata'ala, semua yang ada di depan dia ciptaan Allah subhanahu wata'ala, Allah subhanahu wata'ala yang menggerakkkan Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan fir’aun dan Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan seluruh bala tentara fir’aun, Allah subhanahu wata'ala sudah menjanjikan

إِنَّنِي مَعَكُمَآ

Aku bersama kalian berdua. Muncul di dalam hati mereka tenang dan tidak merasa takut, Allah subhanahu wata'ala yang akan menjaga mereka

أَسۡمَعُ وَأَرَى

Aku mendengar dan Aku melihat, Aku mendengar apa yang kalian ucapkan apa yang diucapkan oleh fir’aun, Aku melihat apa yang kalian lakukan dan apa yang dilakukan oleh fir’aun, tidak ada yang samar bagi Allah subhanahu wata'ala.

Maka seseorang ketika mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki sifat ma’iyah dan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala mendengar dan juga melihat ini akan sangat berpengaruh pada ketenangan hidupnya. Sebagai seorang Da’i, sebagai seorang yang berpegang teguh dengan sunnah di tengah-tengah masyarakat yang mereka belum mengenal, kalau kita mengenal Allah subhanahu wata'ala dan berusaha mendekat kepada Allah subhanahu wata'ala dan mentaati Allah subhanahu wata'ala dengan menjalankan perintah menjauhi larangan, menjadi orang yang bertakwa menjadi orang yang merasa diawasi oleh Allah subhanahu wata'ala maka seseorang akan mendapatkan Ma’iyatullah kebersamaan Allah subhanahu wata'ala dengan dirinya, yaitu Allah subhanahu wata'ala akan menolongnya memudahkan urusannya menjadikan terang hidupnya memberikan kepadanya jalan keluar dalam setiap masalah yang dihadapi di dunia ini.

أَسۡمَعُ وَأَرَى

Aku mendengar dan Aku melihat, di sini ada penetapan sifat As-Sami’ yaitu pada kalimat أَسۡمَعُ aku mendengar, وَأَرَى dan juga sifat Ru’yah yaitu melihat dan tambahan sifat yang lain yaitu sifat ma’iyah bagi Allah subhanahu wata'ala.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar