Halaqah 01: Pengantar Ushulussittah

thumbnail-cadangan
Materi HSI pada halaqah ke-1 dari halaqah silsilah ilmiyyah abdullah roy bab Sirah nabawiyah adalah tentang pengantar ushulussittah. Kita akan bersama-sama mempelajari sebuah kitab yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi rahimahullah yaitu kitab yang berjudul Al-Ushulul As-Sittah.

• Al-Ushulul As-Sittah atau enam kaidah
Kitab ini termasuk karangan beliau yang sangat bermanfaat, kitab ini ringkas akan tetapi mengandung banyak faedah. Dan hendaknya seorang muslim mengetahui faedah-faedah ini.

Didalam kitab ini, beliau menyebutkan enam perkara yang sangat penting.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi adalah seorang ulama yang lahir pada tahun 1115 Hijriyyah.

Beliau menimba ilmu agama semenjak kecil dan diantara gurunya adalah bapak beliau sendiri, demikian pula ulama-ulama besar yang lain di zaman beliau, seperti Syaikh Muhammad Al Hayah, As Sindi, dan juga yang lain.

Dan didalam mencari ilmu, beliau telah pergi ke beberapa daerah diantaranya ke Bashrah, demikian pula ke daerah-daerah di Hijaz seperti Mekkah dan juga Madinah dan menimba ilmu dari para ulama yang tinggal disana.

Dan hampir-hampir beliau menuju ke kota Syam (daerah Syam) untuk menimba ilmu, hanya karena ada rintangan dan halangan tertentu akhirnya beliau mengurungkan niatnya.

Dan beliau termasuk ulama yang gigih didalam menghidupkan Al Quran, As Sunnah, mengajak manusia kembali kepada Allah, bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beliau (rahimahullah) meninggal pada tahun 1206 Hijriyyah. Dan telah meninggalkan banyak karangan (yang sangat bermanfaat).

Diantaranya adalah:
√ Al Ushuluts Tsalatsah
√ Al Qawa’idul Arba’
√ Ushulul Iman
√ Kasyfusy Syubuhat
√ Kitabut Tauhid

Dan diantaranya kitab yang in sya Allah akan kita pelajari yaitu Al-Ushulu As-Sittah (enam kaidah).

Beliau berkata:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Memulai kitabnya dengan basmallah.

Meniru dan mengikuti apa yang Allah lakukan didalam Al Quranul Karim, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai kitabnya dengan basmallah.

Demikian pula mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, ketika beliau menulis surat yang isinya adalah dakwah kepada raja-raja yang ada di zaman beliau (shallallahu ‘alayhi wa sallam) beliau memulai kitabnya dengan basmallah.

Oleh karena itu disini pengarang memulai kitab nya dengan basmallah بسم الله الرحمن الرحيم

Dan ba (ب) disini adalah (ب) al isti’anah yaitu (ب) yang fungsinya adalah memohon pertolongan.

Orang yang mengatakan (بسم اللّه الرحمن الرحيم ) pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

• Ismillah dengan nama Allah.
Kalimat mufrad yang tunggal yaitu ism dan dia disandarkan pada kalimat lafdzu jalalah dan maknanya adalah mencakup seluruh nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang yang mengatakan بسم الله الرحمن الرحيم berarti dia telah beristi’anah (memohon) pertolongan dengan seluruh nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

• Allah (lafdzu jalalah).
Allah (lafdzu jalalah) adalah nama Allah yang paling a’dham (paling besar) yang disandarkan kepadanya nama-nama Allah yang lain.

Oleh karena itu setelahnya disebutkan Ar-rahman Ar-rahim dan Ar-rahman Ar-rahim adalah nama diantara nama-nama Allah. Diambil dari Ar-rahmah yang artinya kasih sayang.

• Perbedaan Ar-rahman dan Ar-rahim
Perbedaan antara Ar-rahman dengan Ar-rahim disebutkan oleh para ulama diantaranya,

√ Ar-rahman adalah kasih sayang Allah yang lebih umum mencakup orang yang beriman dan mencakup orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

⇒ Orang kafir juga mendapatkan bagian dari kasih sayang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah memberikan rejeki kepada mereka, memberikan makan kepada mereka, memberikan minum kepada mereka, memberikan kesehatan kepada mereka, memberikan anak, memberikan istri, memberikan harta, dan ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

√ Ar-rahim, maka mengandung rahmat mengandung kasih sayang yang lebih khusus yaitu kasih sayang yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman.

⇒ Berupa hidayah kepada jalan yang lurus, berupa keimanan, berupa rasa tenang ketika dzikrullah.

Ini semua adalah kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetapi dikhususkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang yang beriman dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Ushulussittah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar