Halaqah 08: Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Dua (Bagian 2)

thumbnail-cadangan
Materi HSI pada halaqah ke-8 dari halaqah silsilah ilmiyyah abdullah roy bab Kitab Nawaqidul Islam adalah tentang penjelasan pembatal keislaman kedua bagian 2. Diantara keyakinan orang-orang musyrikin Quraisy, bahwa dengan menyembah orang-orang shalih tersebut mereka bisa semakin dekat dengan Allah.

Allah berfirman,

(وَٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِیَاۤءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِیُقَرِّبُونَاۤ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰۤ إِنَّ ٱللَّهَ یَحۡكُمُ بَیۡنَهُمۡ فِی مَا هُمۡ فِیهِ یَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَهۡدِی مَنۡ هُوَ كَـٰذِبࣱ كَفَّارࣱ)
[Surat Az-Zumar 3]

“Dan orang-orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, mereka mengatakan, ‘Tidaklah kami menyembah mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah.'”

Mereka mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang jauh dari Allah, banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, banyak lalai kepada Allah. Sedangkan orang-orang shalih tersebut, mereka adalah orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Sehingga kalau kami beribadah kepada orang-orang tersebut, mereka akan mendekatkan diri kami kepada Allah, sehingga kami pun memiliki kemuliaan di dunia.”

Kemudian Allah membantah dan mengatakan,

إِنَّ ٱللَّهَ یَحۡكُمُ بَیۡنَهُمۡ فِی مَا هُمۡ فِیهِ یَخۡتَلِفُونَ

“Sesungguhnya Allah menghukumi diantara mereka di dalam apa yang mereka perselisihkan.”

Yaitu antara Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang musyrikin tersebut, siapa yang benar diantara mereka, apakah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mengajak kepada tauhid dan memperingatkan mereka dari kesyirikan ataukah yang benar adalah orang-orang musyrikin tersebut yang mereka berdo’a dan beribadah kepada orang-orang shalih tersebut dengan maksud supaya dekat dengan Allah.

Allah mengatakan,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَهۡدِی مَنۡ هُوَ كَـٰذِبࣱ كَفَّارࣱ

“Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang berdusta dan sangat kufur.”

Allah mensifati ucapan mereka tadi dengan dua sifat:
1. Dusta
Menunjukkan bahwa ucapan mereka مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِیُقَرِّبُونَاۤ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰۤ yang artinya “Tidaklah kami menyembah mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah” ini adalah ucapan yang tidak benar. Allah katakan, ini adalah kedustaan. Dan Allah lebih tahu tentang hakikatnya.

2. Sangat kufur
Menunjukkan bahwa cara seperti ini tidak dibenarkan secara syari’at.

Diantara alasan mereka meminta do’a orang-orang shalih tersebut dan meminta syafa’at kepada mereka adalah bahwa orang-orang shalih tersebut dalam keadaan hidup. Dan apabila hidup maka dia mendengar. Dan apabila dia mendengar maka kita boleh meminta do’a kepada mereka, sebagaimana ketika orang-orang shalih tersebut hidup kita boleh meminta do’a dari mereka.

Jawabannya:
1. Kita meyakini bahwa mereka, di alam kubur mereka hidup dengan kehidupan alam barzakh, yang berbeda dengan alam kita di dunia. Para Nabi, para syuhada, hidup dengan kehidupan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada kehidupan kita.
Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِي قُبُورِهِمْ يُصَلُّونَ

“Para Nabi, mereka hidup di dalam kuburan mereka, dalam keadaan sholat.” [HR. Al Bazzaar, dan dihasankan oleh Syeikh Al Albani Rahimahullah]

Dan Allah berfirman,

(وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِینَ قُتِلُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ أَمۡوا⁠تَۢاۚ بَلۡ أَحۡیَاۤءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ یُرۡزَقُونَ ۝ فَرِحِینَ بِمَاۤ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَیَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِینَ لَمۡ یَلۡحَقُوا۟ بِهِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ)
[Surat Aal-E-Imran 169 – 170]

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan oleh Allah kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang, yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka dan mereka pun memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka, yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih.

2. Hidupnya seseorang tidak berarti dia mendengar, karena ada orang yang hidup dan dia tidak mendengar.

3. Seandainya dia mendengar di alam barzakh, maka belum tentu dia mendengar do’a orang yang ada di alam dunia ini.
Allah berfirman,

(إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا یَسۡمَعُوا۟ دُعَاۤءَكُمۡ وَلَوۡ سَمِعُوا۟ مَا ٱسۡتَجَابُوا۟ لَكُمۡۖ وَیَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ یَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ وَلَا یُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِیرࣲ)
[Surat Fatir 14]

“Kalau kalian berdo’a kepada mereka, mereka tidak mendengar do’a kalian. Dan seandainya mereka mendengar, mereka tidak mengabulkan do’a kalian. Dan di hari kiamat mereka mengingkari kesyirikan kalian dan tidak ada yang mengabarkan kepadamu seperti Allah Yang Maha Mengetahui.”

4. Tidak semua suara di dunia ini bisa kita dengar, meskipun kita berada di alam yang sama. Lalu bagaimana dengan suara yang ada di alam yang lain?
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Nawaqidul Islam]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar