Halaqah 41: Landasan Ke Dua Ma’rifatu Dinil Islam Bil Adillah: Cabang Keimanan Tertinggi Adalah Laa Ilaaha Illallaah

thumbnail-cadangan
Materi HSI pada halaqah ke-41 dari halaqah silsilah ilmiyyah abdullah roy bab Kitab Ushul Ats Tsalatsah adalah tentang landasan kedua ma'rifatu dinil islam bil adillah cabang keimanan tertinggi adalah Laa Ilaaha Illallah.

Beliau rahimahullah mengatakan,

فأعلاها قول : لا إله إلا الله

“Yang paling tinggi adalah ucapan Laa Ilaaha Illallaah.”

Ini adalah yang paling tinggi diantara cabang-cabang keimanan.
Kalau iman diibaratkan pohon, pohon ini menjulang ke atas, memiliki cabang-cabang dan daun-daun.

Diantara makna cabang yang paling tinggi adalah orang yang beriltizam dengannya, maka dia mendapatkan pahala yang paling besar. Pahala orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. ikhlas dari hatinya, maka dia akan mendapatkan pahala yang paling besar.

Semuanya berpahala, baik dari nomor 1 sampai nomor 73, dan yang paling besar pahalanya adalah orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah.

Sebelumnya beliau rahimahullah sebutkan,

وأعظم ما أمر الله به التوحيد

“Yang paling besar yang Allah perintahkan adalah Tauhid.”

Yang paling besar kalau kita kerjakan kita dapat pahala yang paling besar, karena Tauhid adalah perintah yang paling besar. Maka orang yang mengerjakannya, dia akan mendapatkan pahala yang paling besar.

Sehingga ketika kelak didatangkan seorang laki-laki, yang dia memiliki dosa yang banyak, didatangkan di depannya 99 sijjil (kitab yang besar, dan kitab tersebut isinya dosa dan maksiat yang dia lakukan di dunia). Murtakibul Kabirah, yaitu orang yang terus melakukan dosa besar, sampai kitab yang besar satu tidak cukup untuk menulis dosanya. Ditambah dengan kitab yang ke dua, terus dia melakukan dosa, kitab yang ke tiga, dst sampai 99 sijjil, yang isinya adalah dosa dan juga maksiat.

(Kemudian dia) ditanya oleh Allah, “Kamu punya kebaikan atau tidak?”
Dia mengatakan, “Tidak, Ya Allah.”

(Orang tersebut) sudah dalam keadaan takut atas dirinya, melihat dosa yang begitu banyak, melihat kitab yang isinya adalah catatan-catatan dosa dan juga maksiat.

Kemudian Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki kebaikan?”
Dia mengatakan, “Tidak ya Allah.”
Kemudian Allah mengatakan kepadanya,

بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ

“Engkau memiliki kebaikan di sisi kami dan sesungguhnya engkau tidak akan didholimi hari ini.”

فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Maka dikeluarkanlah untuknya sebuah kartu yang bertuliskan dua kalimat syahadat.

فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ

Kemudian Allah mengatakan, “Datangkan timbangannya!”

فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ

Laki-laki ini pun bingung karena Allah mengatakan dia memiliki kebaikan.

Kemudian satu kartu tadi ditimbang dengan 99 sijjillaat.
Sebagaimana kita tahu bahwa kartu adalah sesuatu yang tipis dan kecil dibandingkan dengan kitab. Seandainya kartu tersebut dibandingkan dengan satu kitab tentunya lebih berat sebuah kitab. Lalu bagaimana dengan 99 kitab yang disebutkan dalam hadits, kitab tersebut luasnya atau panjangnya sejauh mata memandang.

Maka tidak heran bila laki-laki ini mengatakan, “Ya Allah apa perbandingan antara satu bithaqah ini dengan 99 sijjil ini?”

Karena dia melihat kecilnya sebuah kartu dan hanya satu, kemudian dibandingkan dengan banyaknya sijjil ini dan dia adalah barang yang sangat besar.

فَقَالَ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ ‏
Allah mengatakan kembali, “Sesungguhnya engkau tidak akan didholimi.”

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ ۞ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah :7-8)

Akan engkau akan lihat kebaikan itu sekecil apapun di mata manusia.

قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِي كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

“Maka diletakkanlah pertama kali 99 sijillat pada satu daun timbangan kemudian diletakkan kartu itu (bithaqah) yang bertuliskan أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ – pada daun timbangan yang lain.”

Ternyata apa yang terjadi?
Maka menjadi terlemparlah, menjadi sangat ringanlah 99 sijjillaat tadi.
Saking beratnya bithaqah, sehingga sijjillaat tadi طاشت menjadi terlempar ke atas. Bukan hanya sekedar jalan pelan-pelan, tapi dia (طَاشَتِ) terlempar ke atas dengan sebab ditaruhnya bithaqah yang bertuliskan أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ pada daun yang satunya.

وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

Akhirnya bithaqah itulah yang lebih berat daripada 99 sijjil tadi.

فَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ ‏

“Maka tidak ada yang bisa mengimbangi beratnya nama Allah.”

Ini menunjukkan bahwasanya qaulu “Laa Ilaaha Illallaah” pahalanya sangat besar.
Dan yang menjadi andalan kita (hasanah kita) yang paling besar bukan puasa, shadaqah, shalat kita, tapi Tauhid kita kepada Allah, yaitu kita tidak menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadikanlah Tauhid sebagai amalan andalan kita dalan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.
Ya Allah, aku tidak menyembah fulan dan fulan, akan tetapi Engkau Tahu bahwasanya aku hanya menyembah dirimu.

Jadikan ini sebagai amalan andalan bagi kita ketika kelak kita bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.

Tauhid adalah hasanah yang paling besar, sehingga penting sekali kita menjaga Tauhid karena ini adalah amalan andalan kita.

Jagalah Tauhid, dalami Tauhid, pelajari Tauhid, dakwahkan Tauhid. Karena dakwah ini adalah termasuk yang menjadi sebab seseorang istiqomah di atas agamanya.

Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abdurrazzaq bahwasanya diantara cara untuk istiqomah adalah dengan cara dakwah.

Dengan berdakwah antum bisa belajar, bisa menambah keimanan, dan mungkin dido’akan oleh banyak orang, karena orang yang berdakwah akan dido’akan oleh banyak orang. Akan dido’akan dengan rahmat, dengan ampunan, dikuatkan, dan diberi kesehatan oleh Allah.

Dan ini termasuk usaha kita di dalam menjaga Tauhid. Maka jangan kita sia-siakan nikmat Tauhid yang sudah Allah berikan kepada kita. Maka tidak heran jika Beliau Shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan,

أعلاها قول لا إله إلا الله

“Yang paling tinggi adalah ucapan Laa Ilaaha Illallaah.”

Tentunya apabila diucapkan dengan ikhlash, dengan shidq, dengan mahabbah, dan terpenuhi di dalamnya syarat Laa Ilaaha Illallaah, yang jumlahnya ada 7.

Para ulama mengatakan bahwasanya 7 syarat Laa Ilaaha Illallaah ibarat gigi pada sebuah kunci. Dikatakan kepada Wahab Ibnu Munabbih, di zaman beliau ada orang yang mengatakan kepada beliau,

أَلَيْسَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ

“Bukankah ucapan Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci Surga?”

Ada sebagian orang yang dia menyepelekan masalah dosa dan juga maksiat, karena dia mengatakan Laa Ilaaha Illallaah. Kemudian dia mengatakan, Saya sudah mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah, berarti saya telah mempunyai kunci untuk masuk ke dalam Surga (menyepelekan tentang maksiat dan dosa).

Kemudian Wahab Ibnu Munabbih mengatakan,

بلى ؛ ولكن ما من مفتاح إلا له أسنان ، فإن أتيت بمفتاح له أسنان فُتح لك ، وإلا لم يُفتح لك ” ، يشير بالأسنان إلى شروط «لا إله إلا الله» الواجب التزامها على كل مكلف

بلى ؛ ولكن ما من مفتاح إلا له أسنان

Iya benar. Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci Surga. Orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah berarti dia punya kuncinya. Tapi bukankah setiap kunci itu pasti punya gigi. Kalau engkau datang membawa kunci yang memiliki gigi, maka akan dibukakan pintu surga.

Jumlah gigi (syarat) Laa Ilaaha Illallaah ada 7:
  1. Al-Ilmu (mengilmui)
  2. Ash-Shidqu (membenarkan)
  3. Al-Mahabbah (mencintai)
  4. Al-Inqiyadu (menaati)
  5. Al-Ikhlash
  6. Al-Yaqin (meyakini)
  7. Al-Qabul (menerima)
Mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah, harus berdasarkan ilmu, jujur dalam mengucapkannya, tidak bohong, senang dan cinta dengan kalimat ini.

Mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dengan gembira dan senang dan apabila mendengar orang lain mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah.

Kemudian dia meng-inqiyad yaitu melaksanakan konsekuensi dari ucapan Laa Ilaaha Illallaah. Dia tinggalkan kesyirikan, dia berlepas diri dari orang-orang musyrik dan juga kesyirikan.

Ikhlash di dalam mengucapkannya, bukan riya, yakin terhadap apa yang ada di dalamnya berupa kandungannya. Yakin bahwasanya tidak ada yang disembah kecuali Allah. Kemudian dia menerima, tidak memberontak dan membangkang dari kalimat Laa Ilaaha Illallaah.

Apabila terpenuhi 7 syarat ini maka dia telah mendatangkan kunci Surga lengkap dengan giginya dan akan dibukakan pintu Surga untuknya. Tapi jika mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah tapi ada gigi yang patah satu atau lebih, maka tidak bisa untuk membuka.

Mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah tapi tidak ikhlas, tidak yakin, tidak ada mahabbah, patah giginya, maka tidak ada faidahnya.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam من قال لا اله الا الله دخل الجنة adalah benar, bahwasanya orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah, akan masuk Surga tetapi dengan kunci yang memiliki 7 gigi ini.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Ushul Ats Tsalatsah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar