Halaqah 91: Pembahasan Dalil Keenam

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-91 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Fadhlul Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

Kemudian beliau mendatangkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

وَلَهُم عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ «أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ، حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ! أَصْحَابِي، يَقُولُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Dan didalam hadits Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin mas’ud beliau mengatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda aku akan mendahului kalian di atas telaga, maksudnya adalah telaga Beliau shallallahu 'alaihi wasallam, aku akan mendahului kalian di atas telaga tersebut, akan diangkat kepadaku, diangkat kepadaku seakan-akan mau didatangkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beberapa orang dari ummatku ketika aku mengambil air untuk memberikan gelas tadi kepada orang-orang tadi, tiba-tiba mereka dihalangi dariku maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan wahai Robb mereka ini adalah para sahabat, dikatakan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka setelahmu.

وَلَهُم عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ

Dan didalam shahih Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, beliau mengatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ

Aku akan mendahului kalian di atas telaga, maksudnya adalah telaga Beliau shallallahu 'alaihi wasallam, faroth artinya adalah mutaqoddim, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam akan mendahului kita sampai ketelaga Beliau shallallahu 'alaihi wasallam, menunjukkan bahwasanya diantara iman dengan hari akhir adalah beriman bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki حَوْض dan bahwasanya Beliau shallallahu 'alaihi wasallam akan mendahului kita Beliau shallallahu 'alaihi wasallam akan kesana dan melayani.

Ketika manusia termasuk di antaranya kaum muslimin dalam keadaan mereka kehausan berada di padang mahsyar, panas dan waktu yang sangat panjang kemudian mereka mendapatkan kenikmatan meminum air yang sangat lezat disebutkan dalam hadits أبرد من الثلج dia lebih dingin daripada es, semakin dingin semakin nikmat. Dan dia lebih manis daripada madu, أحلى من العسل, dan ini adalah kenikmatan tersendiri, kemudian dia lebih putih daripada susu, kemudian disebutkan didalam hadits barang siapa yang meminum darinya maka dia tidak akan haus selama-lamanya. Ditambah lagi kenikmatan siapa yang melayani, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Dan disebutkan didalam hadits bahwasanya disana nanti akan disediakan gelas, teko, كنجوم السماء yang disebutkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dia adalah seperti bintang yang ada di langit. ‘Seperti’ di sini disamakan diserupakan dari dua sisi, sisi yang pertama dari sisi indahnya, jadi gelas yang dipakai teko yang dipakai adalah gelas-gelas yang indah dan ini kenikmatan sendiri ketika meminum dari gelasnya dan gelas yang mengkilap yang indah, kemudian yang kedua dilihat dari sisi banyaknya kita itu bahwasanya umat Islam ini adalah umat yang banyak meskipun dia umat yang banyak jangan khawatir kita tidak akan antri ketika meminum telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Allah subhanahu wata'ala telah menyediakan teko yang banyak dan gelas-gelas yang banyak.

Sehingga antum datang langsung, bukan menunggu dalam keadaan menahan hausnya, tidak, langsung disitu dan yang melayani adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditambah lagi kenikmatan yang lain telaga ini adalah telaga yang sangat luas, panjangnya satu bulan perjalanan dan lebarnya juga satu bulan perjalanan dan ini adalah nikmat tersendiri. Berbeda kalau telaganya cuma sedikit sementara yang datang orang banyak, antum ketakutan kehabisan sebelum antum meminum telaga tadi, tapi ini telaga yang sangat luas dengan sifat air yang tadi kita sebutkan.

Aku akan mendahului kalian di atas telaga tersebut

لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ

Akan diangkat kepadaku (seakan-akan mau didatangkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) beberapa orang dari umatku, dari mana Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui itu adalah umat Beliau shallallahu 'alaihi wasallam, dari bekas wudhu, dilihat dari jauh orang-orang ini adalah putih wajahnya tangannya artinya dia berwudhu di dunia makanya Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan min ummati, mereka dari ummatku, dari sekian banyak manusia Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui ciri-ciri ummat Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dari bekas wudhunya

حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ

Ketika aku mengambil air untuk memberikan gelas tadi kepada orang-orang tadi, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam melayani umatnya dan ini adalah kenikmatan tersendiri dilayani oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, senang Beliau shallallahu 'alaihi wasallam melihat mereka yaitu ummatnya datang, memberikan air kepada mereka menghapuskan dahaga dan haus mereka.

اخْتُلِجُوا دُونِي

Tiba-tiba mereka dihalangi dariku, sudah mau dikasihkan air tersebut kepada mereka tiba-tiba dihalangi dari Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dijauhkan dari Beliau shallallahu 'alaihi wasallam, bagaimana perasaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang sangat sayang kepada umatnya ingin memberikan faedah ingin memberikan air yang ada didalam telaga Beliau shallallahu 'alaihi wasallam yang Allah subhanahu wata'ala berikan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam

فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ! أَصْحَابِي

Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan wahai Robb mereka ini adalah para sahabat, orang Islam yang Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengenalnya dari tanda-tanda yang ada di dalam jasad mereka

يَقُولُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Dikatakan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka setelahmu
Yang diucapkan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam

لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

didalamnya ada beberapa faedah. Yang pertama menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengetahui ilmu yang ghoib dan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian Beliau shallallahu 'alaihi wasallam karena disebutkan disini لاَ تَدْرِي engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahmu, yaitu setelah engkau meninggal dunia apa yang mereka lakukan berupa kebaikan berupa kejelekan engkau tidak tahu, kalau Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengetahui lalu bagaimana diyakini bahwasanya orang yang meninggal dunia ini tahu yang dilakukan oleh keluarganya tahu apa yang dilakukan oleh istrinya dan seterusnya, tidak ada yang tahu. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri Beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak tahu apa yang terjadi setelah Beliau shallallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia.

مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Apa yang mereka perbuat, yang mereka ada-adakan setelah dirimu

Kalimat أَحْدَثُوا bisa merupakan kalimat yang umum, masuk di dalamnya murtad sebelumnya Islam kemudian dia murtad dari agamanya dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika Beliau shallallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia tahunya ini sahabatnya setelah itu murtad dan kalau murtad itu Beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak tahu cuma pas meninggal dunia tahunya dia adalah seorang shahabat, pernah bertemu dengan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengaku beriman setelah Beliau shallallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia dia murtad dan ada yang murtad setelah meninggalnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan dia murtad ini bukan dinamakan dengan shahabat, yang diakhiri hidupnya dengan riddah keluar dari agama Islam maka ini tidak dinamakan dengan shahabat karena pengertian shahabat

مَنْ لَقِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْلِماً ثُمَّ مَاتَ عَلَى الإِسْلاَمِ

Orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan dia beriman kemudian meninggal dalam keadaan Islam, dalam keadaan Iman. Kalau dia meninggal dalam keadaan murtad tidak dinamakan dengan shahabat.
Termasuk didalam kalimat أَحْدَثُوا disini orang yang melakukan bid’ah di dalam agama karena bid’ah ini adalah مُحْدَث

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Berarti masuk didalamnya مُحْدَث adalah membuat bid’ah didalam agama sehingga banyak ulama menyebutkan bahwasanya orang-orang khowarij dan orang-orang ahlul bid’ah mereka masuk di dalam hadits ini termasuk orang-orang yang tidak bisa atau tidak meminum telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan sebab mereka membuat bid’ah didalam agama.

Bagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendakwahkan islam dengan pengorbanan yang luar biasa menyampaikan risalah Allah subhanahu wata'ala, ini tata cara ibadah ini akidah ini akhlak kemudian ada sebagian orang yang datang meremehkan sunnah Beliau shallallahu 'alaihi wasallam memilih bid’ah daripada sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ini tidak pantas untuk minum telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Banyak para ulama yang ketika menjelaskan مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ ini maksud di dalamnya ahlul bid’ah, al-murjiah al-mu’tazilah al-khawarij, jadi ini menunjukkan tentang keutamaan Istiqomah di atas Islam yang telah disampaikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka Istiqomah ini menjadi sebab seseorang kelak bisa meminum telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Adapun orang yang memilih bid’ah daripada Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka ini dikhawatirkan dia termasuk orang yang tidak meminum telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

Dengan kehinaan yang seperti ini, sudah datang dalam keadaan berangan-angan ingin minum, sudah mau datang, mau dikasih oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ternyata dijauhkan dari telaga tersebut tentunya dia akhirnya tidak bisa minum dalam keadaan terus masih dalam keadaan haus, kemudian yang kedua dia terhina dengan perlakuan seperti ini. Dia sudah mau datang mau minum dan merasa kita ini umatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ternyata diusir tidak bisa meminum telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka ini adalah pertama dia tetap dalam keadaan haus yang luar biasa sudah lama tidak minum kemudian dalam keadaan terhina dan lebih tersiksa lagi melihat orang lain minum sementara dia sendiri tidak minum.

Jelas hadits ini menunjukkan tentang perintah untuk Istiqomah di atas Islam dan tahdzir peringatan manusia supaya jangan membuat sesuatu yang baru di dalam agama Islam dan bukan berarti mereka tidak meminum dari telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian mereka tidak masuk surga, tidak saling melazimkan antara dua perkara ini.

Jadi saat itu hukumannya dia tidak meminum telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, berbeda dengan umat Islam yang lain tapi bukan berarti mereka diharamkan masuk ke dalam surga, kalau dia muslim dan bid’ahnya tidak sampai mukaffirah maka kelak dia akan masuk ke dalam surga, tapi ini hukuman tersendiri bagi orang yang melakukan bid’ah di dalam agama.

Dan bukan berarti orang yang meminum dari telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian dia tidak masuk neraka, bukan berarti dia tidak masuk neraka, kalau dia termasuk umatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tapi dia melakukan dosa besar maka orang yang melakukan dosa besar taḥta masyiatillah, kalau Allah subhanahu wata'ala menghendaki maka Allah subhanahu wata'ala ampuni dosa besar tadi kalau Allah subhanahu wata'ala menghendaki maka Allah subhanahu wata'ala tidak ampuni dan dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu.

Sehingga nanti akan melewati jembatan shirath mungkin saja orang yang sebelumnya dia meminum telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hilang dahaganya ketika dia melewati jembatan shirath ternyata dia terjatuh kedalam neraka, tapi kalau dia terjatuh dan dia sudah meminum telaganya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka dia tidak akan merasakan kehausan di dalam neraka, tidak merasakan haus di dalam neraka mungkin terbakar sebagian anggota tubuhnya tapi dia tidak merasakan haus karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan

مَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا

Orang yang meminum dari telaga tersebut maka dia tidak akan haus selama-lamanya, seandainya dia masuk ke dalam neraka maka tidak akan haus dalam neraka tersebut.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Fadhlul Islam]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar