Halaqah 113: Dalil Keenam (Bagian 1)

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-113 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Fadhlul Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

بَابُ مَا جَاءَ فِي غُرْبَةِ الإِسْلاَمِ وَفَضْلِ الغُرَبَاءِ

Bab apa-apa yang datang, maksudnya adalah dalil-dalil yang datang, yang berisi tentang akan terjadinya غُرْبَة الإِسْلاَم keasingan agama Islam dan dalil-dalil tentang keutamaan orang-orang yang asing yaitu orang yang asing karena dia berpegang teguh dengan Islam.

Beliau mengatakan rahimahullah

وَرَوَى ابْنُ وَضَّاحٍ مَعْنَاهُ: مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah makna hadits ini, yaitu makna hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi diatas, Syaikh al-Albani menyebutkan hadits ini didalam silsilah hadits ash-shahihah.

Disini disebutkan hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi dan juga Ibnu Majah berarti ashabus sunan kecuali an-Nasa’i meriwayatkan hadits ini, dan dihukumi oleh Syaikh al-Albani bahwasanya hadits ini adalah hadits yang dhoif, maksudnya lafadz yang diawal tadi, adapun fakrah ayyamusshobr maka ini adalah hadits yang tsabitah

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ

maka ini adalah hadits yang shahih. Adapun ayat tadi maka pemahamannya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ

Hendaklah kalian memperhatikan diri kalian sendiri, ini jangan diartikan ego atau yang lain bahkan kita katakan termasuk perhatian kita terhadap diri sendiri adalah ketika kita memperhatikan orang lain, karena nanti akan ditanya oleh Allah subhanahu wata'ala

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Dan orang yang meninggalkan kemungkaran, tidak saling melarang dari kemungkaran sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ [ المائدة:78-79

Kemudian didalam surah Al-A’raf kenapa mereka mengingkari kemungkaran mereka mengatakan مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ. Ketika ada sebagian kelompok, kenapa kalian memberikan nasihat kepada orang yang Allah subhanahu wata'ala sudah akan menghancurkan mereka, kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wata'ala mereka hancur, akan hancur, kenapa kalian memberikan nasihat kepada mereka

قَالُواْ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ [ الأعراف:164

Kami ingin meminta uzur kepada Allah subhanahu wata'ala, karena kami nanti akan di tanya, yang penting kami beramar ma’ruf nahi mungkar, masalah mereka mendapatkan hidayah atau tidak mendapatkan hidayah itu Allah subhanahu wata'ala yang menentukan, kami hanya melaksanakan yang diperintahkan.

Ketika kita beramar ma’ruf nahi mungkar berarti kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri, illa qolīlan min man anjaina min hum, siapa yang diselamatkan, orang yang sedikit tadi yang mereka yanhauna anil fasadi fil ardh, mereka melarang dari kerusakan, kita tidak ingin hancur bersama mereka,

لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ
[Al Anfal:25]

Tidak menimpa fitnah tersebut kepada orang-orang yang dzalim saja tapi juga mengenai yang lain, jadi orang yang beramal ma’ruf nahi mungkar berarti dia telah memperhatikan dirinya sendiri, ketika Allah subhanahu wata'ala mengatakan

عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ

hendaklah kalian perhatian dengan diri kalian, maksudnya adalah disuruh kita beramar ma’ruf nahi mungkar, justru kita disuruh untuk tidak beramar ma’ruf nahi mungkar, justru kalimat عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ perintah bagi kita untuk apa beramar ma’ruf nahi mungkar

لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ

Tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat, yaitu setelah kalian beramar ma’ruf nahi mungkar ada orang yang sesat itu tidak akan memudhororti kalian, Allah subhanahu wata'ala yang menentukan hidayah, selama kalian beramar ma’ruf nahi mungkar dan berpegang dengan agama kalian, tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat setelah itu, itu maksud ayat ini.

Jadi hadits ini lafadz yang awalnya dhaif tapi lafadz yang setelahnya adalah lafadz yang yang shahih. Lafadz yang shahih disebutkan dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Syaikh al-Albani dalam silsilah hadits ash-shahihah dikeluarkan oleh Ibnu Nasr di dalam as-sunnah

إن من ورائكم أيام الصبر للمتمسك فيهن يومئذ بما أنتم عليـه أجر خمسين منكم قالوا: يا نبي الله أو منهم؟ قال: بل منكم

Ini dikeluarkan oleh Ibnu Nasr di dalam as-sunnah.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Fadhlul Islam]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar