Halaqah 45: Penjelasan Beberapa Ayat yang Menunjukkan Sifat Marah Bagi Allah (QS An Nisa 93) (Bagian 2)

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-45 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki sifat Al-Ghodhob, sifat marah.

فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا
[An-Nisa’:93]

Orang yang membunuh seorang yang beriman dengan sengaja maka balasannya adalah jahannam خَٰلِدٗا فِيهَا . Dan ini menunjukkan bahwasanya ini adalah dosa besar, ketika sebuah dosa diancam dengan neraka atau jahanam ini menunjukkan bahwasanya dosa itu adalah termasuk dosa besar. Pelaku dosa besar kalau dia tidak bertobat dari dosanya sebelum dia meninggal dunia maka di hari kiamat dia tahta masyiatillah, dia berada di bawah kehendak Allah subhanahu wata'ala, kalau Allah subhanahu wata'ala menghendaki Allah subhanahu wata'ala mengampuni dosa membunuhnya ini dan kalau Allah subhanahu wata'ala menghendaki maka Allah subhanahu wata'ala akan memasukkan dia ke dalam jahanam untuk diadzab sementara disana.

Diazab sementara lalu apa makna firman Allah subhanahu wata'ala

خَٰلِدٗا فِيهَا

Dia dalam keadaan kholid di dalamnya, bukankah kholid artinya mereka adalah kekal di dalam neraka? Para ulama di sini memiliki penjelasan dan juga pengarahan bahwasanya Al-khulud di dalam bahasa Arab terkadang maknanya adalah selamanya didalam neraka dan terkadang maknanya adalah al-khulud disini adalah tinggal di dalam neraka dalam waktu yang sangat lama sehingga dinamakan dengan khulud, mereka tinggal lama di dalam neraka dan ini adalah menunjukkan tentang adzab yang pedih yang diterima oleh orang yang membunuh tanpa hak.

Dan tinggal di dalam neraka sebentar, adzab dan kepedihan yang sangat, kita di dunia menaruh ujung jari kita di atas api dalam waktu satu detik saja kita tidak mampu atau kita merasa kepanasan, satu detik saja, lalu bagaimana kalau lebih daripada itu, sepuluh detik, satu menit, lima menit, itu baru neraka dunia. Dan disebutkan dalam hadits bahwasanya neraka yang ada pada kita di dunia ini itu adalah satu diantara tujuh puluh bagian neraka di akhirat, menunjukkan bahwasanya suhu api di sana jauh lebih tinggi daripada api yang ada di dunia ini, yang seperti ini saja kita tidak tahan lalu bagaimana seandainya suhunya dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali.

Seandainya seseorang berada dalam tempat tersebut satu hari saja maka ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan, lalu bagaimana seandainya dia tinggal di sana dalam waktu yang sangat lama خَٰلِدٗا فِيهَا artinya adalah tinggal yang sangat lama, menunjukkan tentang bagaimana besarnya dosa orang yang membunuh tanpa hak, yang harusnya seseorang muslim takut dengan masalah ini, takut kepada Allah subhanahu wata'ala jangan sampai dia bermudah-mudahan didalam membunuh. Dan Allahua’lam diantara sebab mudahnya seseorang melakukan pembunuhan di zaman sekarang adanya tontonan-tontonan yang di situ di ajarkan tentang kekerasan, pembunuhan, peperangan bahkan di dalam permainan-permainan juga di sana ada melatih atau mencontohkan kepada anak-anak kekerasan-kekerasan tersebut, sehingga sebagian mempraktekkan ini kepada temannya.

Satu orang misalnya karena mereka habis melihat tontonan yang di situ ada pengeroyokan dan seterusnya, satu orang temannya melakukan kesalahan kemudian di kroyok ramai-ramai, dipukulin ramai-ramai dan mereka tidak sadar ternyata temannya ini sudah terluka, kepalanya terluka ininya dan itu sehingga dia meninggal dunia, maka waspada seseorang dari permainan-permainan seperti ini. Kemudian خَٰلِدٗا فِيهَا, dia kekal di dalamnya

وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ

Dan Allah subhanahu wata'ala akan marah kepadanya, dan disini syahidnya Allah subhanahu wata'ala akan marah kepadanya, menunjukkan bahwasanya di antara sifat Allah subhanahu wata'ala adalah Ghodhob, dan Ghodhob atau marah ini adalah sifat fi’liyyah yang berkaitan dengan Dzat Allah subhanahu wata'ala dan Dia termasuk sifat Khobariyyah, fi’liyyah khobariyah, Fi’liyyah karena dia berkaitan dengan Masyiatullah, Allah subhanahu wata'ala marah kepada siapa yang di kehendaki dan kapan Dia kehendaki, dan Dia termasuk sifat yang Khobariyyah karena sifat Ghodhob ini tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil sehingga dia adalah sifat fi’liyyah khobariyyah.

وَلَعَنَهُ

Dan Allah subhanahu wata'ala melaknatnya.

Sebelumnya ketika kita menetapkan sifat ghodhob (marah) bagi Allah subhanahu wata'ala maka kita menetapkan sifat ghodhob tersebut, marah tersebut sesuai dengan keagungan Allah subhanahu wata'ala, tidak sama dengan marah yang dimiliki oleh makhluk. Sebagian Ahlul bid’ah mereka menolak sifat ghodhob, ada yang menafikannya seperti mu’tazilah, ada yang menta’wilnya dengan irodah, lagi-lagi mereka menta’wilnya dengan irodah yaitu keinginan untuk mengadzab, mereka ta’wil dengan irodah mengatakan bahwasanya ghodhob (marah) inikan yang namanya marah itukan mendidihnya darah padahal Allah subhanahu wata'ala kan tidak punya darah kata mereka, sehingga kalau kita mensifati Allah subhanahu wata'ala dengan Ghodhob berarti kita mensifati bahwasanya Allah subhanahu wata'ala punya darah dan seterusnya, dan darah tersebut mendidih kemudian terjadilah yang dinamakan dengan marah, maka ini ucapan yang bathil.

Tidak meladzimkan ketika kita mensifati Allah subhanahu wata'ala dengan Ghodhob bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki apa yang dimiliki oleh makhluk berupa darah, kita katakan Allah subhanahu wata'ala marah sesuai dengan keagungannya tidak sama dengan marahnya makhluk, makhluk mereka marah dan Allah subhanahu wata'ala memiliki sifat marah dan marahnya Allah subhanahu wata'ala tidak sama dengan marahnya makhluk. Didalam Al-Quran Allah subhanahu wata'ala mengatakan

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنَادَوۡنَ لَمَقۡتُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُ مِن مَّقۡتِكُمۡ أَنفُسَكُمۡ
[Ghafir:10]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir akan dipanggil, sungguh kemarahan Allah subhanahu wata'ala lebih besar daripada kemarahan kalian terhadap diri kalian sendiri.

Jadi saat itu orang-orang kafir mereka benci dan marah terhadap diri mereka sendiri, menyesal karena mereka di dunia mengikuti hawa nafsunya, tidak beriman, kufur, akhirnya di hari tersebut, di hari kiamat mereka marah pada diri mereka sendiri dan kemarahan Allah subhanahu wata'ala kepada mereka lebih besar, ini menunjukkan bahwasanya makhluk juga memiliki sifat maqt. Dan Allah subhanahu wata'ala mengatakan

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا

Dan ketika Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan ghodhban (dalam keadaan marah) أَسِفٗا (dengan marah yang sangat)

قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ
[Al-A’raf:150]

Beliau mengatakan sungguh jelek apa yang kalian lakukan setelahku (karena mereka menyembah patung seekor sapi).

Berarti makhluk memiliki sifat ghodhob tapi beda antara ghodhob yang dimiliki oleh Allah subhanahu wata'ala dengan ghodhob yang dimiliki oleh makhluk, ini qaidah akan terus berulang-ulang, itsbat bi la tamtsil, kita menetapkan tanpa kita menyerupakan, dan tanzih bi la ta’til, kita mensucikan tanpa kita meniadakan, tanpa kita menafikan sifat-sifat Allah subhanahu wata'ala.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar