Halaqah 54: Dalil yang Menunjukkan Sifat Tangan (Lanjutan) dan Mata bagi Allah Subhanahu wata'ala

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-54 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Firman Allah subhanahu wata'ala

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَة

Dan berkata orang-orang Yahudi tangan Allah subhanahu wata'ala terbelenggu, Allah subhanahu wata'ala Maha Mendengar apa yang diucapkan oleh musuh-musuh Allah subhanahu wata'ala tentang diri Allah subhanahu wata'ala, Allah subhanahu wata'ala Maha Mendengar. Berkata orang-orang Yahud tangan Allah subhanahu wata'ala terbelenggu maksudnya adalah Allah subhanahu wata'ala tidak mau memberi kepada kami Allah subhanahu wata'ala tidak mau memberikan kekayaan kepada kami, ini ucapan yang kukuh, kemudian Allah subhanahu wata'ala mengatakan

غُلَّتْ أَيْدِيهِم

Yang terbelenggu adalah tangan-tangan mereka, maksudnya adalah yang bakhil yang tidak mau berinfaq itu mereka orang-orang yahud, orang-orang Yahudi adalah min abkholinnas (orang yang paling bakhil), orang yang paling sulit untuk berinfaq itu adalah orang-orang yahud,

غُلَّتْ أَيْدِيهِم

Terlalu cinta dengan dunia

وَلُعِنُواْبِمَا قَالُواْ

Dan mereka dilaknat dengan sebab ucapan mereka, yaitu mengejek Allah subhanahu wata'ala menghina Allah subhanahu wata'ala, dengan mengatakan seperti itu bahwasanya tangan Allah subhanahu wata'ala terbelenggu maka mereka dilaknat dengan sebab mensifati Allah subhanahu wata'ala dengan kebakhilan

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَان ِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاء

Akan tetapi يَدَاهُ kedua tangan Allah subhanahu wata'ala adalah terbuka, terbentang, maksudnya

يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاء

Allah subhanahu wata'ala berinfaq (memberikan rezeki) sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, bukan dengan kehendak orang yahud

ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ

Allah subhanahu wata'ala meluaskan rezeki bagi siapa yang dikehendaki

وَيَقۡدِرُۚ

Dan Allah subhanahu wata'ala juga menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki dengan hikmah dari Allah subhanahu wata'ala. Ketika Allah subhanahu wata'ala menjadikan sebagian orang menjadi fakir, menjadi miskin apakah berarti Allah subhanahu wata'ala bakhil?

تعالى الله عما يصفون

Maha Tinggi Allah subhanahu wata'ala dari apa yang mereka sifatkan. Allah subhanahu wata'ala menjadikan sebagian orang miskin dengan hikmah-Nya karena Allah subhanahu wata'ala tahu kalau orang ini menjadi orang kaya tambah rusak dan Allah subhanahu wata'ala menjadikan sebagian menjadi orang yang kaya dengan hikmah-Nya, jangan dikatakan seperti yang diucapkan oleh orang-orang Yahud mengatakan bahwasanya tangan Allah subhanahu wata'ala terbelenggu maksudnya Allah subhanahu wata'ala tidak memberi kepada mereka,

غُلَّتْ أَيْدِيهِم

Yang bakhil adalah mereka orang-orang Yahudi dan mereka dilaknat dengan sebab ucapan tadi, apa yang menjadikan mereka dilaknat karena mereka mensifati Allah subhanahu wata'ala dengan kebakhilan mengatakan bahwasanya tangan Allah subhanahu wata'ala terbelenggu, dan ini adalah keyakinan yang salah.

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَان

Bahkan kedua tangan Allah subhanahu wata'ala ini terbentang, berarti Allah subhanahu wata'ala memiliki dua tangan sebagaimana ayat yang pertama tadi, tidak boleh kita menolaknya, tidak boleh kita mentakwilnya tidak boleh kita mentafwidnya yaitu meyakini bahwasanya dia memiliki makna tapi kita tidak mengetahui makna, jangan kita takwil menjadi qudroh atau dengan ni’mah.

Mungkin ada pertanyaan, ustadz di sana ada sebagian ayat yang menunjukkan bahwasanya disebutkan oleh Allah subhanahu wata'ala tangan ini dengan satu, Allah subhanahu wata'ala mengatakan

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ

Maha Suci Allah subhanahu wata'ala atau Maha Berkah Allah subhanahu wata'ala yang di tangan-Nya kerajaan, dan banyak

والذي نفس محمد بيده

Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kenapa di sini disebutkan satu, tadi kita katakan Allah subhanahu wata'ala memiliki dua tangan?

Para ulama menjelaskan tidak ada pertentangan disini karena terkadang disebutkan mufrad maksudnya adalah lil jins, untuk menunjukkan jenisnya, jadi Allah subhanahu wata'ala memiliki dua tangan ketika dikatakan

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ

Yad di sini adalah mufrad maksudnya adalah lil jins (menunjukkan jenisnya) tidak ada pertentangan, Allah subhanahu wata'ala memiliki dua tangan sebagaimana ini sahih dalam surat Shad dan juga Al-Maidah.

Didalam ayat yang lain Allah subhanahu wata'ala menyebutkan tangan ini dengan jamak, Allah subhanahu wata'ala mengatakan

أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّا خَلَقۡنَا لَهُم مِّمَّا عَمِلَتۡ أَيۡدِينَآ أَنۡعَٰمٗا فَهُمۡ لَهَا مَٰلِكُونَ
[Yaasiin:71]

Apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami menciptakan untuk mereka dari apa yang dilakukan oleh tangan-tangan Kami, أَنۡعَٰمٗا hewan-hewan ternak فَهُمۡ لَهَا مَٰلِكُون yang mereka memiliki hewan ternak tadi.

Di sini أَيۡدِينَآ jamak, para ulama menjelaskan diantara maknanya, tidak ada di sana pertentangan, Al-Jamak disini menunjukkan ta’dzim itu yang pertama, kemudian ada yang mengatakan bahwasanya ini adalah lil musyakalah, asalnya adalah kedua tangan kami tapi ketika yang setelahnya adalah Allah subhanahu wata'ala menggunakan dhamir jama’ yaitu نا maka lil musyakalah, untuk supaya serasi sehingga sebelumnya menggunakan kalimat yang jamak juga, ini dikatakan oleh sebagian ahlul lughah dan ada dalam bahasa Arab demikian, berarti tidak ada disini pertentangan, Allah subhanahu wata'ala Dia-lah yang memiliki tangan dan jumlah tangan Allah subhanahu wata'ala adalah dua tangan sebagaimana ini jelas dalam surat shaad dan juga surat Al-Maidah.

Kemudian setelahnya

وَقَولُهُ

Dan juga Firman Allah subhanahu wata'ala

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

Dan bersabarlah terhadap hukum dari Robb-mu, dan hukum di sini Allahu A’lam mencakup dua yaitu hukum yang qodhari dan juga hukum Syar’i, hukum yang qodhari yaitu takdir Allah subhanahu wata'ala kita disuruh untuk bersabar, hukum yang Syar’i yaitu aturan-aturan Allah subhanahu wata'ala Syariat Allah subhanahu wata'ala kita bersabar di dalam menjalankannya. Bersabarlah engkau terhadap hukum Robbmu فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا maka sesungguhnya engkau adalah dengan mata-mata Kami, ini menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki mata dan maknanya engkau adalah dengan mata-mata Kami ini maksudnya adalah Kami senantiasa melihatmu, itu adalah keladziman, Allah subhanahu wata'ala memiliki mata berarti kita senantiasa dilihat oleh Allah subhanahu wata'ala.

Kemudian Firman Allah subhanahu wata'ala

وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاء لِّمَن كَانَ كُفِرَ

Dan kami mengangkut dia, yaitu mengangkut Nuh ‘alaihissalam, di atas sesuatu yang memiliki alwah yaitu papan-papan dan paku, artinya kapal yang mereka miliki sangat sederhana papan dan juga paku, kapal yang besar yang dinaiki oleh Nuh dan orang-orang yang beriman dengan beliau.

Di tengah-tengah banjir yang sedemikian besarnya, tidak ada banjir yang lebih besar dari banjir tersebut baik sebelumnya maupun setelahnya, banjir yang sangat besar tapi Allah subhanahu wata'ala dengan kekuasaan-Nya berjalan kapal yang sederhana ini yang terbuat dari papan dan juga paku saja tapi dia تَجْرِي berjalan diatas air بِأَعْيُنِنَا dengan mata-mata Kami, dilihat oleh Allah subhanahu wata'ala diperhatikan oleh Allah subhanahu wata'ala dan dijaga oleh Allah subhanahu wata'ala sehingga dia tidak tenggelam, Allah subhanahu wata'ala yang menjaganya Allah subhanahu wata'ala yang melihatnya, berarti ayat ini juga menunjukkan tentang sifat mata bagi Allah subhanahu wata'ala

جَزَاء لِّمَن كَانَ كُفِر

Kenapa Allah subhanahu wata'ala menjaganya, ini adalah balasan bagi orang yang dikufuri, yaitu balasan untuk nabi Nuh yang dikufuri oleh kaumnya, yang didustakankan oleh kaumnya. Kemudian juga firman Allah subhanahu wata'ala

وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي

Dan Aku melemparkan pada dirimu kecintaan dari-Ku, maksudnya Allah subhanahu wata'ala jadikan orang itu suka kepada nabi Musa ‘Alaihissalam, siapa yang menjadikan istri Fir’aun menjadi senang dan suka dengan nabi Musa yang tidak dia kenal yang ditemukan di sungai, Allah subhanahu wata'ala yang menjadikannya, sehingga ini menjadi sebab selamatnya dia dan diambilnya dia dari sungai, kemudian dia merayu Fir’aun supaya membiarkan anak ini untuk tetap hidup, Allah subhanahu wata'ala yang menjadikan wanita tadi menjadi suka kepada nabi Musa, ini bentuk penjagaan Allah subhanahu wata'ala menjadikan seseorang yang itu berada di keluarga musuh nabi Musa ‘Alaihissalam dan juga kaumnya ternyata mereka menjadi cinta dan suka kepada nabi Musa ‘Alaihisalam.

وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي

Dan supaya engkau diperlakukan kepadamu عَلَى عَيْنِي diatas mata-Ku, maksudnya adalah di atas perhatian dari Allah subhanahu wata'ala penglihatan dari Allah subhanahu wata'ala, jadi diperlakukan nabi Musa di dalam istana Fir’aun di rawat dan seterusnya dan Allah subhanahu wata'ala melihatnya, Allah subhanahu wata'ala yang menjaganya, ini juga menetapkan sifat ‘ain bagi Allah subhanahu wata'ala.

Pada dua ayat yang pertama disebutkan أَعْيُن dan ini adalah jamak, ayat yang terakhir disebutkan عَيْنِي yaitu satu mata, mana yang benar? semuanya benar, dan di sana ada hadist yang menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki dua mata sebagaimana Allah subhanahu wata'ala memiliki dua tangan maka Allah subhanahu wata'ala memiliki dua mata yaitu di dalam sebuah hadits ketika Nabi ﷺ menceritakan tentang sifat dari Dajjal, beliau ﷺ mengatakan

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ

Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala tidak أَعْوَر,

أَلاَ وَإِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى

Ketahuilah bahwasanya dajjal ini adalah أَعْوَر mata bagian kanannya.

الأَعْوَر di dalam bahasa Arab ini adalah sifat bagi orang yang punya dua mata, salah satu diantara dua matanya ini tidak bisa untuk melihat, di dalam bahasa Arab namanya الأَعْوَر dan orang yang cacat seperti itu dinamakan dengan أَعْوَر. Ketika Nabi ﷺ mengatakan

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ

Allah subhanahu wata'ala bukan أَعْوَر menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki dua mata dan dua mata Allah subhanahu wata'ala adalah sempurna sehingga Ahlus Sunnah meyakini bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki dua mata sesuai dengan keagungan Allah subhanahu wata'ala, adapun Dajjal maka dia memiliki dua mata tapi mata sebelah kanannya tidak bisa untuk melihat, jadi Dajjal memiliki dua mata adapun orang yang menggambarkan karena kebodohannya bahwasanya Dajjal ini hanya memiliki satu mata ini salah besar, sehingga katanya ada di mana itu ada bayi yang lahir dengan satu mata saja ini jangan-jangan dajjal, ini salah memahami. Dajjal itu dua mata cuma salah satu diantara dua matanya adalah yaitu mata kanannya ini tidak bisa untuk melihat, mata kirinya itu seperti anggur, ini keadaan dajjal, dan ini dalil Ahlus sunnah wal jama’ah bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki dua mata.

Ketika Allah subhanahu wata'ala menyebutkan tentang bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki أَعْيُن atau memiliki mata-mata, kenapa di sini menggunakan lafadz jamak? ini adalah untuk musyakalah untuk keserasian karena setelahnya menggunakan dhamir jamak maka Allah subhanahu wata'ala menjamakkan ‘ain, atau untuk ta’dzim untuk pengagungan, adapun عَيْني mataku maka yang dimaksud adalah lil jins untuk menunjukkan jenis dan ini ada di dalam bahasa arab yang demikian dan dengan demikian tidak ada disana pertentangan antara ayat-ayat ini.

Jadi Allah subhanahu wata'ala memiliki dua mata sesuai dengan keagungan-Nya, adapun أَعْيُن yang disebutkan dalam sebagian ayat maka ini adalah lil musyakalah untuk keserasian, kemudian adapun عَيْن yaitu mufrad maka ini adalah untuk menunjukkan jenis. Allahu A’lam
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar