Halaqah 68: Dalil yang Menunjukkan Penafian Sifat Kekurangan Bagi Allah Subhanahu wata'ala Secara Global (Bagian 2)

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-68 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Masuk kita pada penyebutan ayat-ayat yang isinya adalah penafian secara mujmal (global), Allah subhanahu wata'ala menafikan dari dirinya kekurangan secara umum secara global di dalam beberapa ayat.

Beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ: فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka janganlah kalian menjadikan bagi Allah أَندَاداً (sekutu-sekutu) وَأَنتُمْ تَعْلَمُون sedangkan kalian mengetahui.

Janganlah kalian menjadikan bagi Allah subhanahu wata'ala sekutu-sekutu yaitu yang kalian sembah selain Allah subhanahu wata'ala, menyembah Allah subhanahu wata'ala dan juga menyembah kepada sekutunya Allah subhanahu wata'ala menurut mereka, padahal hakikatnya tidak ada sekutu bagi Allah subhanahu wata'ala dalam mencipta memberikan rezeki dan seterusnya.

Adapun manusia atau musyrikun maka mereka menjadikan sekutu bagi Allah subhanahu wata'ala gholibnya adalah dalam masalah ibadah, janganlah kalian menjadikan bagi Allah subhanahu wata'ala sekutu-sekutu sedangkan kalian mengetahui yaitu sedangkan kalian mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wata'ala Dia-lah yang mencipta dan Dia-lah yang menurunkan air Dia-lah yang menumbuhkan tanaman itulah yang dimaksud dengan وَأَنتُمْ تَعْلَمُون sedangkan kalian mengetahui dan ini berdasarkan apa yang ada sebelumnya yaitu dalam surat Al-Baqarah Allah subhanahu wata'ala mengatakan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١

Wahai manusia, hendaklah kalian menyembah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.

Kemudian Allah subhanahu wata'ala mengatakan

ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا

Yang telah menjadikan bumi ini terhampar

وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ

Dan menjadikan langit ini bangunan

وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ

Dan Dia-lah yang menurunkan dari langit air

فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ

Kemudian Allah subhanahu wata'ala mengeluarkan dengan sebab air tersebut tanam-tanaman sebagai rezeki bagi kalian.

Setelah itu yaitu setelah Allah subhanahu wata'ala menyebutkan bahwasanya Dia-lah yang mencipta, menjadikan bumi terhampar, menjadikan langit bangunan dan Dia-lah yang menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, maka Allah subhanahu wata'ala mengatakan

فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا

Maka janganlah kalian menjadikan bagi Allah subhanahu wata'ala sekutu-sekutu.

Kalau memang Allah subhanahu wata'ala Dia-lah yang mencipta dan melakukan itu semuanya dan kita mengakui yang demikian maka jangan kita menyekutukan Allah subhanahu wata'ala menjadikan di sana sekutu-sekutu bagi Allah subhanahu wata'ala yang kita berdoa kepadanya meminta kepadanya

وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢

Sedangkan kalian mengetahui

Yaitu mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wata'ala Dia-lah yang melakukan itu semuanya, kalimat وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ menunjukkan bahwasanya keyakinan Allah subhanahu wata'ala mencipta memberikan rezeki dan seterusnya ini adalah sudah di fitrahkan dalam hati manusia

فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ

Ini adalah fitrah Allah subhanahu wata'ala, Allah subhanahu wata'ala telah menjadikan manusia meyakini yang demikian, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

Tidak ada seseorang yang dilahirkan kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fitrah, fitrah yaitu meyakini bahwasanya Allah subhanahu wata'ala Dia-lah yang menciptakan dirinya, memberikan rezeki, ini menunjukkan bahwasanya keyakinan itu adalah keyakinan yang fitrah.

Yang terjadi antara para rasul dan juga kaumnya bukan dalam masalah ini, tapi didalam masalah Tauhid Al Uluhiyah, mereka tidak sedang mempermasalahkan tentang fitrah mereka, fitrah mereka bagus, fitrah kaumnya bagus di atas fitrah, Allah subhanahu wata'ala yang mencipta memberikan rezeki dan seterusnya cuma yang rusak adalah tentang tauhid uluhiyah yang ada pada diri mereka sehingga rusaklah mereka.

Disini juga bisa kita ambil bahwasanya tauhid rububiyah ini mengharuskan tauhid uluhiyah karena Allah subhanahu wata'ala ketika menyebutkan rububiyahnya Allah subhanahu wata'ala mengatakan

فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُون

Janganlah kalian menjadikan bagi Allah subhanahu wata'ala sekutu-sekutu.

Berarti di sini syahidnya dalam firman Allah فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً janganlah kalian menjadikan bagi Allah subhanahu wata'ala sekutu-sekutu, berarti Allah subhanahu wata'ala menafikan disini, Allah subhanahu wata'ala melarang dan Allah subhanahu wata'ala menafikan, Allah subhanahu wata'ala menafikan dari dirinya sifat niddiyah sehingga Allah subhanahu wata'ala melarang kita menjadikan bagi Allah subhanahu wata'ala sifat niddiyah yaitu memiliki sekutu, berarti kalau di sini adalah penafian sebagaimana sudah kita sebutkan kaidahnya, kita harus menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat niddiyah ini yaitu ke Esa-an, kita tetapkan sifat Aḥadiyah bagi Allah subhanahu wata'ala.

Dan Aḥadiyah disini baik Aḥadiyah dalam masalah nama dalam masalah sifat dalam masalah Dzat, tidak ada Dzat yang serupa dengan Dzat Allah subhanahu wata'ala, tidak ada sifat yang serupa dengan sifat Allah subhanahu wata'ala dan yang dimaksud dengan tidak ada yang serupa dengan sifat Allah subhanahu wata'ala bukan berarti tidak ada yang serupa namanya, tidak, tapi hakikatnya, kalau namanya mungkin sama. Allah subhanahu wata'ala memiliki sifat hidup kita juga memiliki sifat hidup, namanya sama yaitu sifat hidup tapi yang dimaksud disini adalah hakikatnya, hakikat sifat hidup kita berbeda dengan sifat hakikat dari sifat hidup Allah subhanahu wata'ala, sehingga tetap disini kita katakan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala tidak ada yang serupa dengan-Nya di dalam masalah sifat-Nya.

Demikian pula didalam nama-Nya tidak ada yang serupa dengan Allah subhanahu wata'ala dalam nama-Nya, kalau disana ada nama yang serupa, misalnya Allah subhanahu wata'ala di antara nama-Nya adalah Ar-Rohim, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam disifati dengan rahim juga

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

رَءُوفٞ رَّحِيمٞ itu diantara sifat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Allah subhanahu wata'ala juga memiliki nama Ar-Ro’ūf dan juga memiliki nama Ar-Rohim, apakah sama antara nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang dikatakan rahim dan juga Allah subhanahu wata'ala Ar-Rahim jawabannya tidak, jadi meskipun sama tapi hakikatnya berbeda, nama yang sama tapi hakikatnya berbeda.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar