Halaqah 126: Beriman Kepada Hari Akhir dengan Pembahasan tentang Al Qantharah

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-126 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Masih tentang beriman kepada hari akhir dan poin-poin yang harus kita imani yang berkaitan dengan hari akhir bahwasanya diantara beriman dengan hari akhir adalah beriman dengan ash-shirath.

Dan sebagian ahlul bida’ ada yang mengingkari sebabnya berulang diantaranya adalah karena mereka menganggap ini sesuatu yang tidak masuk akal bagaimana jembatan lebih kecil daripada rambut di naiki dan berjalan diatasnya manusia sebanyak itu dan perbandingan antara besarnya sebatang tadi dengan yang menyeberangi adalah sangat jauh sehingga mereka mengingkari ash-shirath dan mereka mengartikan ash-shirath hanyalah cara menuju surga bukan jalan yang hakiki, diantaranya adalah orang-orang mu’tazilah yang sebagaimana kita tahu mereka adalah orang-orang yang mengedepankan akalnya di atas dalil.

Adapun Ahlus Sunnah Waljama’ah maka mereka beriman dengan apa yang datang dari Allah subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya berupa kabar yang ghaib termasuk diantaranya adalah kabar-kabar yang berkaitan dengan ash-shirath ini, tidak ada yang mustahil bagi Allah subhanahu wata'ala, sesuatu yang lebih dahsyat daripada itu Allah subhanahu wata'ala ‘ala kulli syaiin qodīr sehingga mereka beriman dengan adanya ash-shirath.

Kemudian setelah itu beliau mengatakan

فَإِذَا عَبَرُوا عَلَيْهِ

Apabila mereka (orang-orang yang beriman) sudah melewati/menyeberangi ash-shirath

وَقَفُوا عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ

maka mereka akan berhenti di sebuah qonthoroh.

Qonthoroh secara bahasa adalah jembatan yang agak tinggi, adapun secara istilah adalah jembatan lain setelah shirath (karena shirath terletak di atas jahannam) yang terletak antara neraka dan surga, ini dikatakan dan disebutkan berdasarkan dalil.

Dan qonthoroh ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang beriman, Allah subhanahu wata'ala kumpulkan mereka di qonthoroh setelah mereka melewati neraka sebelum mereka masuk semuanya ke dalam surga, mereka akan berhenti di sebuah qonthoroh (demikian datang dalam hadits) antara surga dan neraka. Yang terjadi adalah

فَيُقْتَصَّ لِبَعْضِهِم مِن بَعْضٍ

maka akan di qishash untuk sebagian mereka dari sebagian yang lain, dan qishashnya disini adalah berbeda dengan qishash yang terjadi di padang mahsyar, diantara perbedaannya kalau qishash yang pertama sebelum shirath adapun yang kedua adalah setelah shirath, yang pertama dahulu ini qishashnya umum baik antara orang-orang yang beriman ataupun dengan orang-orang kafir, dimana akan didatangkan orang yang dzhalim dengan orang yang didzhalimi sampai disana ada orang yang muflis yang datang di hari kiamat dalam keadaan dia membawa pahala shalat pahala zakat pahala puasa tapi karena dia banyak mendzhalimi orang akhirnya dia harus membagi-bagikan pahala tadi untuk orang-orang yang dia dzhalimi, ini qishos yang terjadi di padang mahsyar dan itu umum.

Adapun qishash yang terjadi di qonthoroh ini adalah khusus untuk orang-orang yang beriman saja, orang-orang musyrikin munafiqin orang-orang ahlul kitab mereka sudah terlebih dahulu masuk kedalam neraka, di sini tinggal orang-orang yang beriman. Yang terjadi di qishash yang pertama dahulu itu adalah yang berkaitan dengan kedzhaliman harta fisik kehormatan adapun yang terjadi di qonthoroh maka yang dibersihkan disini adalah ghil yaitu rasa hasad atau dendam kebencian kepada seorang muslim yang lain, ini tidak sampai kepada kedzhaliman fisik atau harta kehormatan tetapi ada perasaan yang tidak enak dengan muslim yang lain mungkin benci atau hasad, inilah yang akan dibersihkan oleh Allah subhanahu wata'ala disana.

Di dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan

يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ

Orang-orang beriman selamat dari neraka

فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ

maka mereka ditahan di sebuah qonthoroh antara surga dan neraka, makanya kita berani mengatakan qonthoroh tersebut berada antara surga dan neraka

فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ

maka di qishash untuk sebagian dari sebagian yang lain

مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا

Kedzhaliman-kedzhaliman yang terjadi di antara mereka di dunia, dan sekali lagi yang dimaksud dengan kedzhaliman disini yang berkaitan dengan hati (hasad kebencian) dan itu adalah tentunya secara bahasa dia adalah termasuk kedzhaliman karena yang namanya kedzhaliman menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, harusnya hatinya bersih harusnya sesama muslim dia mencintai karena Allah subhanahu wata'ala menghilangkan dendam

حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا

sehingga ketika mereka sudah dibersihkan dan disucikan, yaitu dibersihkan dendam dan hasad dan kebencian yang ada dalam hati mereka, mereka saling bertemu satu dengan yang lain di sana sampai akhirnya Allah subhanahu wata'ala membersihkan sehingga tidak ada lagi di dalam hati mereka kebencian terhadap si fulan hasad kepada si fulan dendam kepada si fulan tidak ada yang demikian, Allah subhanahu wata'ala bersihkan dulu, kalau sudah bersih semuanya

أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ

barulah diizinkan bagi mereka untuk masuk ke dalam surga, tidak akan masuk surga kecuali orang yang sudah benar-benar bersih karena surga ini adalah thūba, dia adalah tempat yang paling baik tempat yang paling bersih yang masuk di sana juga harus orang-orang yang bersih, kalau masih di sana ada kedzhaliman harus diselesaikan terlebih dahulu.

Allah subhanahu wata'ala dengan hikmah-Nya menjadikan di sana qonthoroh yang disitu orang-orang beriman saling bertemu satu dengan yang lain dan Allah subhanahu wata'ala hilangkan Allah subhanahu wata'ala bersihkan dari diri mereka sifat-sifat yang tidak baik, Allah subhanahu wata'ala mengatakan

طِبۡتُمۡ فَٱدۡخُلُوهَا خَٰلِدِينَ ٧٣
[Az-Zumar]

kalian sudah baik sudah bersih maka hendaklah kalian masuk kedalam surga dalam keadaan kalian kekal di dalamnya. Dan Allah subhanahu wata'ala mengatakan

وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلّٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ

Dan kami akan hilangkan apa yang ada di dalam dada-dada mereka berubah ghil (tidak ada sifat dendam kebencian kepada seorang muslim Allah subhanahu wata'ala akan menghilangkannya Allah subhanahu wata'ala akan mencabutnya) mengalir dibawahnya sungai-sungai

وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ
[Al-A’raf:43]

Kemudian mereka mengatakan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah subhanahu wata'ala) yang telah memberikan hidayah kepada kami, kami tidak akan mendapatkan hidayah kecuali Allah subhanahu wata'ala Dia-lah yang memberikan hidayah

Ini menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala akan menghilangkan ghil tadi dari orang-orang yang beriman, makanya disini beliau mengatakan

فَإِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا؛ أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ

Ini sama dengan lafadz yang ada dalam hadits, apabila mereka sudah dibersihkan dan disucikan maka barulah mereka diizinkan untuk masuk kedalam surga.

Apakah mereka langsung masuk ke dalam surga? ternyata disana ada fase yang dinamakan dengan syafa’at (untuk dibuka pintu surga), sehingga beliau disini mengatakan

وَأَوَّلُ مَن يَسْتَفْتِحُ بَابَ الْجَنَّةِ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم

Dan yang pertama kali akan meminta dibuka pintu surga adalah Nabi Muḥammad shallallahu 'alaihi wasallam.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar