Halaqah 52: Beriman Kepada Syafaat Nabi (Bagian 2)
Halaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Ushulus Sunnah yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah adalah tentang beriman kepada syafaat nabi bagian 2.
Disana ada Syafaat di akhirat sebagaimana Syafaat ada didunia demikian pula syafaat diakhirat, kita beriman dengan adanya Syafaat diakhirat secara umum sebagaimana yang demikian datang didalam dalil² yang banyak, Allah subhanahu wata'ala menyebutkan didalam Al Qur’an bahwa kelak diakhirat ada syafaat, contoh misalnya beliau mengatakan misalnya
tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan ijin Allah ,..
[QS Al Baqarah 255]
Menunjukkan bahwa di akhirat ada Syafaat dan syafaat tersebut tidak terjadi kecuali dengan ijin Allah subhanahu wata'ala, dan Allah mengatakan
Dan tidak akan bermanfaat Syafaat dihari tersebut disisi Allah kecuali untuk orang yang Allah ijinkan,..
[QS Saba 23]
Menunjukkan bahwasanya kelak dihari kiamat akan ada yang dinamakan dengan syafaat, akan ada sebagian hamba² Allah yang memintakan kebaikan untuk orang lain, para Nabi, orang² yang beriman, para Malaikat sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh dalil Allah subhanahu wata'ala akan menampakkan keutamaan mereka dihadapan makhluk² Allah yang lain , Allah akan nampakan keutamaan para anbiya diantara kaumnya , Allah akan nampakan keutamaan para malaikat dan orang² yang beriman diijinkan memberikan syafaat bagi orang-orang yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata'ala.
Para ulama menyebutkan bahwa Syafaat diakhirat ada dua macam,
❶ Syafaat yang khusus untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
❷ Dan ada Syafaat yang umum.
Al imam Ahmad bin Hambal disini mengatakan
Beriman dengan Syafaat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu diakhirat disana ada Syafaat yang khusus bagi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Syafaat yang khusus bagi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini ada tiga macam,
① syafaat uzma (Syafaat yang paling besar)
Syafaat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk orang² yang mereka berada di Padang Mahsyar menunggu Allah subhanahu wata'ala memberikan keputusan, menunggu Allah subhanahu wata'ala melakukan hisab perhitungan bagi mereka, mereka berada di Padang Mahsyar dalam keadaan yang sangat lama kemudian matahari didekatkan mereka dalam keadaan berkeringat yang keluar dari mereka sesuai dengan kadar dosa mereka dalam keadaan yang sangat payah dan melelahkan maka manusia saat itu ingin segera diadili/dihisab sampai ada diantara mereka yang berkeinginan seandainya hisab ini segera meskipun dia akhirnya masuk kedalam Neraka. Ini menunjukkan bagaimana payahnya mereka di Padang Mahsyar tentunya ini adalah bagi orang² yang mereka tidak beriman, adapun orang² yang beriman tentunya Allah subhanahu wata'ala tidak akan menyamakan keadaan mereka dengan selain mereka, orang² yang beriman tentunya Allah akan muliakan, Allah berikan mereka keamanan
Orang² yang beriman yang tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedholiman sungguh merekalah yang mendapatkan keamanan dan merekalah orang² yang mendapatkan petunjuk
[QS Al An’am 82]
Manusia saat itu mendatangi para Nabi, yang pertama kali mereka datangi adalah Nabi Adam alaihi salam, mereka berkata kepada Nabi Adam alaihi salam, _engkau adalah bapak manusia dan engkau melihat keadaan kami, maka mintalah kepada Allah yaitu untuk disegerakan hari pembalasan/perhitungan_
Maka Nabi Adam alaihi salam meminta udzur dan mengirim manusia untuk mendatangi Nabi Nuh alaihi salam (Rasul yang pertama) datanglah mereka kepada Nabi Nuh dan Nabi Nuh juga meminta udzur beliau menyuruh manusia untuk mendatangi Nabi Ibrahim, datanglah mereka kepada Nabi Ibrahim dan beliau juga meminta udzur, menyuruh manusia untuk mendatangi Nabi Musa, beliau juga meminta udzur menyuruh manusia untuk mendatangi Nabi Isa dan Nabi Isa alaihi salam menyuruh manusia untuk mendatangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian mereka berkata _wahai Muhammad engkau adalah Rasulullah dan engkau adalah penutup para Nabi Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang maka berikanlah syafaat untuk Kami kepada Allah/berdoa lah kepada Allah supaya Allah menyegerakan hari pembalasan bukankah engkau melihat bagaimana keadaan kami_ maka Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersujud dihadapan Allah subhanahu wata'ala kemudian Allah subhanahu wata'ala membukakan untuk beliau berbagai pujian untuk Allah yang belum diajarkan kepada seorangpun sebelumnya, jadi ketika sujud Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diajarkan berbagai pujian yang belum pernah diberikan/ajarkan oleh Allah kepada yang lain sebelum Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian dikatakan kepada beliau
_Wahai Muhammad hendaklah engkau angkat kepalamu (beliau dalam keadaan bersujud), dan mintalah engkau akan diberi, dan berikanlah Syafaat mereka niscaya akan dikabulkan dan akan diijinkan untuk memberikan Syafaat_
Maka beliau mengangkat kepala beliau dan meminta kepada Allah subhanahu wata'ala.
Inilah yang dimaksud dengan Syafaat Uzma, dari kisah tadi bahwasanya ini adalah kekhususan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak diberikan kepada yang lain/Nabi² yang lain.
Didalam sebuah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau mengatakan,
_Aku telah diberikan 5 perkara tidak ada seorangpun diantara para Nabi yang diberikan 5 perkara ini, ini adalah keistimewaan beliau diantaranya yang disebutkan
Dan aku diberikan syafaat.
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika beliau menjelaskan tentang ucapan Nabi وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ, beliau mengatakan
Maksud dari ucapan beliau diberikan Syafaat itu adalah Syafaat yang paling besar maksudnya adalah Syafaat yang ada di Padang Mahsyar Syafaat untuk seluruh manusia supaya Allah subhanahu wata'ala menyegerakan hari pembalasan untuk mereka.
Ini adalah syafaat yang paling besar dinamakan dengan syafaat Uzma karena yang diberikan adalah seluruh manusia tidak dikecualikan.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Ushulus Sunnah yang ditulis oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah]
Disana ada Syafaat di akhirat sebagaimana Syafaat ada didunia demikian pula syafaat diakhirat, kita beriman dengan adanya Syafaat diakhirat secara umum sebagaimana yang demikian datang didalam dalil² yang banyak, Allah subhanahu wata'ala menyebutkan didalam Al Qur’an bahwa kelak diakhirat ada syafaat, contoh misalnya beliau mengatakan misalnya
…مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ..
tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan ijin Allah ,..
[QS Al Baqarah 255]
Menunjukkan bahwa di akhirat ada Syafaat dan syafaat tersebut tidak terjadi kecuali dengan ijin Allah subhanahu wata'ala, dan Allah mengatakan
وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُۥ ۚ ..
Dan tidak akan bermanfaat Syafaat dihari tersebut disisi Allah kecuali untuk orang yang Allah ijinkan,..
[QS Saba 23]
Menunjukkan bahwasanya kelak dihari kiamat akan ada yang dinamakan dengan syafaat, akan ada sebagian hamba² Allah yang memintakan kebaikan untuk orang lain, para Nabi, orang² yang beriman, para Malaikat sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh dalil Allah subhanahu wata'ala akan menampakkan keutamaan mereka dihadapan makhluk² Allah yang lain , Allah akan nampakan keutamaan para anbiya diantara kaumnya , Allah akan nampakan keutamaan para malaikat dan orang² yang beriman diijinkan memberikan syafaat bagi orang-orang yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata'ala.
Para ulama menyebutkan bahwa Syafaat diakhirat ada dua macam,
❶ Syafaat yang khusus untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
❷ Dan ada Syafaat yang umum.
Al imam Ahmad bin Hambal disini mengatakan
والإيمان بشفاعة النبي
Beriman dengan Syafaat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu diakhirat disana ada Syafaat yang khusus bagi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Syafaat yang khusus bagi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini ada tiga macam,
① syafaat uzma (Syafaat yang paling besar)
Syafaat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk orang² yang mereka berada di Padang Mahsyar menunggu Allah subhanahu wata'ala memberikan keputusan, menunggu Allah subhanahu wata'ala melakukan hisab perhitungan bagi mereka, mereka berada di Padang Mahsyar dalam keadaan yang sangat lama kemudian matahari didekatkan mereka dalam keadaan berkeringat yang keluar dari mereka sesuai dengan kadar dosa mereka dalam keadaan yang sangat payah dan melelahkan maka manusia saat itu ingin segera diadili/dihisab sampai ada diantara mereka yang berkeinginan seandainya hisab ini segera meskipun dia akhirnya masuk kedalam Neraka. Ini menunjukkan bagaimana payahnya mereka di Padang Mahsyar tentunya ini adalah bagi orang² yang mereka tidak beriman, adapun orang² yang beriman tentunya Allah subhanahu wata'ala tidak akan menyamakan keadaan mereka dengan selain mereka, orang² yang beriman tentunya Allah akan muliakan, Allah berikan mereka keamanan
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
Orang² yang beriman yang tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedholiman sungguh merekalah yang mendapatkan keamanan dan merekalah orang² yang mendapatkan petunjuk
[QS Al An’am 82]
Manusia saat itu mendatangi para Nabi, yang pertama kali mereka datangi adalah Nabi Adam alaihi salam, mereka berkata kepada Nabi Adam alaihi salam, _engkau adalah bapak manusia dan engkau melihat keadaan kami, maka mintalah kepada Allah yaitu untuk disegerakan hari pembalasan/perhitungan_
Maka Nabi Adam alaihi salam meminta udzur dan mengirim manusia untuk mendatangi Nabi Nuh alaihi salam (Rasul yang pertama) datanglah mereka kepada Nabi Nuh dan Nabi Nuh juga meminta udzur beliau menyuruh manusia untuk mendatangi Nabi Ibrahim, datanglah mereka kepada Nabi Ibrahim dan beliau juga meminta udzur, menyuruh manusia untuk mendatangi Nabi Musa, beliau juga meminta udzur menyuruh manusia untuk mendatangi Nabi Isa dan Nabi Isa alaihi salam menyuruh manusia untuk mendatangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian mereka berkata _wahai Muhammad engkau adalah Rasulullah dan engkau adalah penutup para Nabi Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang maka berikanlah syafaat untuk Kami kepada Allah/berdoa lah kepada Allah supaya Allah menyegerakan hari pembalasan bukankah engkau melihat bagaimana keadaan kami_ maka Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersujud dihadapan Allah subhanahu wata'ala kemudian Allah subhanahu wata'ala membukakan untuk beliau berbagai pujian untuk Allah yang belum diajarkan kepada seorangpun sebelumnya, jadi ketika sujud Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diajarkan berbagai pujian yang belum pernah diberikan/ajarkan oleh Allah kepada yang lain sebelum Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian dikatakan kepada beliau
يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، سَلْ تُعْطَهْ، اشْفَعْ تُشَفَّعْ
_Wahai Muhammad hendaklah engkau angkat kepalamu (beliau dalam keadaan bersujud), dan mintalah engkau akan diberi, dan berikanlah Syafaat mereka niscaya akan dikabulkan dan akan diijinkan untuk memberikan Syafaat_
Maka beliau mengangkat kepala beliau dan meminta kepada Allah subhanahu wata'ala.
Inilah yang dimaksud dengan Syafaat Uzma, dari kisah tadi bahwasanya ini adalah kekhususan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak diberikan kepada yang lain/Nabi² yang lain.
Didalam sebuah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau mengatakan,
أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ من الأنبي قَبْلِي …. وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ
_Aku telah diberikan 5 perkara tidak ada seorangpun diantara para Nabi yang diberikan 5 perkara ini, ini adalah keistimewaan beliau diantaranya yang disebutkan
وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ
Dan aku diberikan syafaat.
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika beliau menjelaskan tentang ucapan Nabi وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ, beliau mengatakan
يعني بذلك شفاعة العجم
Maksud dari ucapan beliau diberikan Syafaat itu adalah Syafaat yang paling besar maksudnya adalah Syafaat yang ada di Padang Mahsyar Syafaat untuk seluruh manusia supaya Allah subhanahu wata'ala menyegerakan hari pembalasan untuk mereka.
Ini adalah syafaat yang paling besar dinamakan dengan syafaat Uzma karena yang diberikan adalah seluruh manusia tidak dikecualikan.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Ushulus Sunnah yang ditulis oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah]