Halaqah 31: Kewajiban untuk Beramal Saleh dan Menjauhi Larangan meskipun Semua Sudah Ditakdirkan
Halaqah yang ke-31 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang kewajiban beramal saleh dan menjauhi larangan meskipun semua sudah ditakdirkan.
Apa hubungan antara ucapan beliau
Apa hubungan antara kalimat ini dengan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang mentakdirkan, Dialah yang menulis ajal, Allah tahu sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan ciptaanNya.
Menunjukkan bahwasanya meskipun segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah sampai masuknya seseorang ke dalam Surga dan maksudnya seseorang ke dalam Neraka bukan kemudian seseorang tidak beramal, bukan kemudian seseorang tidak beramal.
Ini tidak menjadi alasan dia untuk tidak beramal kemudian mengatakan kalau memang Surga & Neraka sudah sudah ditentukan berarti enggak usah saya beramal, kalau memang saya penduduk Surga yang akan masuk kedalam Surga, kalau saya termasuk penduduk Neraka untuk apa saya beramal, ini konsep yang salah keyakinan yang keliru, Allah subhanahu wa ta’ala mentakdirkan dan Allah subhanahu wa Ta’Ala menurunkan syari’at, dua perkara yang harus ada pada diri seorang muslim meyakini takdir Allah dan juga meyakini syari’at Allah.
Itu diumpamakan seperti kacamata harus ada dua kemudian seperti sayap yang tidak mungkin seseorang bisa terbang kecuali dengan dua sayap kita harus beriman dengan takdir Allah sebagaimana kita harus beriman dengan syari’at Allah, ketika dia mengatakan bahwa berarti Allah telah mengetahui sebelum terjadi berarti Allah sudah menentukan siapa yang yang di Neraka siapa yang di Surga berarti ini adalah keimanan dia terhadap takdir Allah, sebagaimana dia beriman dengan takdir Allah dengan ucapan dia tadi, maka dia harus beriman dengan firman Allah
dia harus beriman dengan firman Allah
Jangan dia hanya beriman dengan firman Allah
Beriman dengan firman Allah
Beriman dengan ayat-ayat yang berisi tentang Takdir, tapi ayat-ayat yang berisi tentang keharusan untuk taat kepada Allah meninggalkan kemaksiatan, kewajiban untuk beribadah kepada Allah
Dia tidak beriman dan berpaling dari perintah-perintah tersebut, kemudian inginnya hidup bebas tanpa ada aturan, tanpa mengikuti perintah Allah dan tanpa meninggalkan apa yang Allah larang, kemudian mengatakan semuanya sudah ditakdirkan yah sudah saya tidak beramal kemudian dia mengikuti hawa nafsunya melakukan apa yang dia inginkan.
Inilah awal nafsu jadi yang sesuai dengan hawa nafsunya dia pegang adapun punya tidak sesuai dengan hawa nafsu maka dia tinggalkan.
Setelah beliau menyebutkan tentang keimanan dengan takdir maka beliau sebutkan ini, ingat Allah juga memerintahkan kalian untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan Allah melarang kalian untuk melakukan kemaksiatan kepadaNya, dua perkara ini harus kita pegang yaitu beriman dengan takdir Allah dan beriman dengan syari’at Allah sampai kita meninggal dunia, kalau ada was-was dari syaitan, nah berarti kamu jangan beramal, Kita lawan bahwa saya Allah selain mentakdirkan segala sesuatu tapi Allah juga memerintahkan kita untuk menyembah Allah saja, memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh kita untuk menjalankan perintahnya dan meninggalkan larangannya, sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika menyebutkan bahwasnya segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah kemudian para sahabat mengatakan
Wahai Rasulullah kenapa kita tidak pasrah saja.. tidak perlu beramal, dalam sebuah riwayat maka Nabi mengatakan, mengingatkan kita supaya kita ini diperintahkan untuk beriman dengan Takdir dan juga diperintahkan untuk beriman dengan syariat, beliau hanya mengingatkan satu baris saja
Mengingatkan kepada para sahabat tentang kewajiban untuk beriman dengan syari’at – اعملوا- karena Allah menyuruh kita untuk beramal, beramalah ini mencakup menjalankan perintah dan menjauhi larangan, semuanya termasuk beramal – اعْمَلُوا صَالِحًا – beramal shaleh,
Maka masingmasing akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah.
Yang sudah ditakdirkan oleh Allah masuk ke dalam Surga akan dimudahkan oleh Allah untuk menempuh jalan Surga, digerakkan hatinya untuk bertobat, dimudahkan dia untuk hijrah, dimudahkan dia untuk bertemu dengan orang² yang shaleh, dimudahkan dia untuk menghadiri majelis ilmu, tergerak hatinya untuk melakukan itu, dimudahkan dia untuk menuntut ilmu maka
Masing-masing akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu apa yang sudah ditakdirkan untuk itu.
Oleh karena itu kita harus khusnudon kepada Allah, Alhamdulillah Allah telah memudahkan kita untuk memeluk agama Islam ini dan mungkin sebagian besar kita tinggal di daerah yang sangat tidak kondusif untuk menjaga keimanan, tapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan takdirNya ada saja disana jalan yang membawa kita untuk mengenal hidayah, entah itu di kantor entah itu melalui pernikahan, entah itu di sekolah, entah itu bahkan kadang adanya konflik, ini menjadi sebuah terkadang seseorang mengenal hidayah di sebabnya adalah karena adanya bencana besar menimpa sebuah daerah yang sebelumnya di situ belum terjamah dakwah Sunnah ternyata dengan semangat para ikhwah yang sudah mendapatkan hidayah yang mereka membawa bantuan dan sampai ke sana mereka memberikan ceramah memberikan nasehat tentang pentingnya kita bertauhid meninggalkan kesyirikan dan ternyata semua musibah ini adalah karena yang kita lakukan, ada diantara mereka satu dua orang tiga orang yang mendapatkan hidayah ada saja di sana jalan
Hendaklah kalian beramal bahkan masing-masing akan dimudahkan untuk melakukan apa yang yang dia diciptakan untuk .
Maka ini urutan yang sangat bagus dari Al Imam Abu Ja’far at thahawi, beliau selain mengingatkan kita tentang keharusan beriman dengan takdir juga mengingatkan kita keharusan untuk beriman dengan syari’at Allah subhanahu wata'ala
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
Apa hubungan antara ucapan beliau
وَأَمَرَهُمْ بِطَاعَتِهِ، وَنَهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَتِهِ
Apa hubungan antara kalimat ini dengan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang mentakdirkan, Dialah yang menulis ajal, Allah tahu sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan ciptaanNya.
Menunjukkan bahwasanya meskipun segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah sampai masuknya seseorang ke dalam Surga dan maksudnya seseorang ke dalam Neraka bukan kemudian seseorang tidak beramal, bukan kemudian seseorang tidak beramal.
Ini tidak menjadi alasan dia untuk tidak beramal kemudian mengatakan kalau memang Surga & Neraka sudah sudah ditentukan berarti enggak usah saya beramal, kalau memang saya penduduk Surga yang akan masuk kedalam Surga, kalau saya termasuk penduduk Neraka untuk apa saya beramal, ini konsep yang salah keyakinan yang keliru, Allah subhanahu wa ta’ala mentakdirkan dan Allah subhanahu wa Ta’Ala menurunkan syari’at, dua perkara yang harus ada pada diri seorang muslim meyakini takdir Allah dan juga meyakini syari’at Allah.
Itu diumpamakan seperti kacamata harus ada dua kemudian seperti sayap yang tidak mungkin seseorang bisa terbang kecuali dengan dua sayap kita harus beriman dengan takdir Allah sebagaimana kita harus beriman dengan syari’at Allah, ketika dia mengatakan bahwa berarti Allah telah mengetahui sebelum terjadi berarti Allah sudah menentukan siapa yang yang di Neraka siapa yang di Surga berarti ini adalah keimanan dia terhadap takdir Allah, sebagaimana dia beriman dengan takdir Allah dengan ucapan dia tadi, maka dia harus beriman dengan firman Allah
۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
dia harus beriman dengan firman Allah
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ …
[QS Al Hasyr 7]Jangan dia hanya beriman dengan firman Allah
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
[QS Al Qomar 49]Beriman dengan firman Allah
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
[QS Al Hadid 22]Beriman dengan ayat-ayat yang berisi tentang Takdir, tapi ayat-ayat yang berisi tentang keharusan untuk taat kepada Allah meninggalkan kemaksiatan, kewajiban untuk beribadah kepada Allah
۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُواْ رَبَّكُمُ ..
[QS Al Baqarah 21] ۞ وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ…
[QS Al Isro 23]Dia tidak beriman dan berpaling dari perintah-perintah tersebut, kemudian inginnya hidup bebas tanpa ada aturan, tanpa mengikuti perintah Allah dan tanpa meninggalkan apa yang Allah larang, kemudian mengatakan semuanya sudah ditakdirkan yah sudah saya tidak beramal kemudian dia mengikuti hawa nafsunya melakukan apa yang dia inginkan.
Inilah awal nafsu jadi yang sesuai dengan hawa nafsunya dia pegang adapun punya tidak sesuai dengan hawa nafsu maka dia tinggalkan.
Setelah beliau menyebutkan tentang keimanan dengan takdir maka beliau sebutkan ini, ingat Allah juga memerintahkan kalian untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan Allah melarang kalian untuk melakukan kemaksiatan kepadaNya, dua perkara ini harus kita pegang yaitu beriman dengan takdir Allah dan beriman dengan syari’at Allah sampai kita meninggal dunia, kalau ada was-was dari syaitan, nah berarti kamu jangan beramal, Kita lawan bahwa saya Allah selain mentakdirkan segala sesuatu tapi Allah juga memerintahkan kita untuk menyembah Allah saja, memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh kita untuk menjalankan perintahnya dan meninggalkan larangannya, sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika menyebutkan bahwasnya segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah kemudian para sahabat mengatakan
يا رسول الله، أفلا نَتَّكِلُ
Wahai Rasulullah kenapa kita tidak pasrah saja.. tidak perlu beramal, dalam sebuah riwayat maka Nabi mengatakan, mengingatkan kita supaya kita ini diperintahkan untuk beriman dengan Takdir dan juga diperintahkan untuk beriman dengan syariat, beliau hanya mengingatkan satu baris saja
«اعملوا؛»
Mengingatkan kepada para sahabat tentang kewajiban untuk beriman dengan syari’at – اعملوا- karena Allah menyuruh kita untuk beramal, beramalah ini mencakup menjalankan perintah dan menjauhi larangan, semuanya termasuk beramal – اعْمَلُوا صَالِحًا – beramal shaleh,
فَكلٌّ مُيَسَّرٌ لما خُلِقَ له
Maka masingmasing akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah.
Yang sudah ditakdirkan oleh Allah masuk ke dalam Surga akan dimudahkan oleh Allah untuk menempuh jalan Surga, digerakkan hatinya untuk bertobat, dimudahkan dia untuk hijrah, dimudahkan dia untuk bertemu dengan orang² yang shaleh, dimudahkan dia untuk menghadiri majelis ilmu, tergerak hatinya untuk melakukan itu, dimudahkan dia untuk menuntut ilmu maka
فَكلٌّ مُيَسَّرٌ لما خُلِقَ له
Masing-masing akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu apa yang sudah ditakdirkan untuk itu.
Oleh karena itu kita harus khusnudon kepada Allah, Alhamdulillah Allah telah memudahkan kita untuk memeluk agama Islam ini dan mungkin sebagian besar kita tinggal di daerah yang sangat tidak kondusif untuk menjaga keimanan, tapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan takdirNya ada saja disana jalan yang membawa kita untuk mengenal hidayah, entah itu di kantor entah itu melalui pernikahan, entah itu di sekolah, entah itu bahkan kadang adanya konflik, ini menjadi sebuah terkadang seseorang mengenal hidayah di sebabnya adalah karena adanya bencana besar menimpa sebuah daerah yang sebelumnya di situ belum terjamah dakwah Sunnah ternyata dengan semangat para ikhwah yang sudah mendapatkan hidayah yang mereka membawa bantuan dan sampai ke sana mereka memberikan ceramah memberikan nasehat tentang pentingnya kita bertauhid meninggalkan kesyirikan dan ternyata semua musibah ini adalah karena yang kita lakukan, ada diantara mereka satu dua orang tiga orang yang mendapatkan hidayah ada saja di sana jalan
«اعملوا؛ فَكلٌّ مُيَسَّرٌ لما خُلِقَ له…»
Hendaklah kalian beramal bahkan masing-masing akan dimudahkan untuk melakukan apa yang yang dia diciptakan untuk .
Maka ini urutan yang sangat bagus dari Al Imam Abu Ja’far at thahawi, beliau selain mengingatkan kita tentang keharusan beriman dengan takdir juga mengingatkan kita keharusan untuk beriman dengan syari’at Allah subhanahu wata'ala
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]