Halaqah 32: Segala Sesuatu Berjalan Sesuai dengan Takdir dan Kehendak Allah
Halaqah yang ke-32 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang segala sesuatu berjalan sesuai dengan takdir dan kehendak Allah.
Beliau mengatakan rahimahullah
Dan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini
Terjadi
Berjalan, jalannya dia berhentinya dia kehidupan dia kematian dia nikmat dan juga musibah, terjadi dia
Itu semua terjadi dengan Qudratullah /dengan kekuasaan Allah , Allah yang menjadikan itu semuanya
Dan juga dengan kehendak Allah, semuanya dengan kehendak Allah, kullu syaii, segala sesuatu.
Di sini mencakup ketaatan dan juga kemaksiatan, sujudnya orang yang sujud, puasanya orang yang berpuasa adalah dengan masyiatullah, Allah yang menghendaki orang tersebut berpuasa maka akhirnya dia berpuasa, Allah yang menganggap yang bisa bersujud maka akhirnya dia bisa bersujud, Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, termasuk diantaranya adalah maksiat , maksiatnya orang yang melakukan kemaksiatan maka itu juga dengan kehendak Allah, segala sesuatu tidak mungkin di sana ada sesuatu yang terjadi di permukaan bumi ini di luar dari Allah enggak mungkin, bahkan semuanya terjadi dengan kehendak Allah, termasuk diam dan bergeraknya sebuah benda adalah dengan kehendak Allah , diamnya rumah yang sedang kita tempati sekarang bergeraknya kipas angin yang sedang kita nikmati sekarang maka itu adalah kehendak Allah, diamnya kamera yang ada di depan kita itu adalah dengan kehendak Allah, kalau Allah menghendaki dia bergerak, kalau Allah menghendaki kipas angin tersebut berhenti maka akan berhenti maka dia bergerak dengan kehendak Allah dan berhenti dengan kehendak Allah.
Ini keyakinan Ahlussunnah wal jamaah & ini juga bantahan terhadap orang-orang Qodariyyah yang mereka mengatakan bahwasanya yang menghendaki kemaksiatan dan perbuatan kita adalah kita sendiri tidak ada campur tangan Allah subhanahu wa taala, tidak ada campur tangan Allah tapi ini adalah kehendak Kita semuanya, oleh karenanya disebutkan oleh penulis disini karena adanya firqah yang sesat salah faham didalam permasalahan ini, jadi mereka menggagap itu adalah mensucikan Allah , ketika mereka mengatakan yang menghendaki kemaksiatannya adalah kita sendiri bukan Allah yang menghendaki tujuan mereka apa ingin mensucikan Allah apakah yang akan dibenarkan? jawabannya adalah meniru karena mereka sampai kepada keyakinan tadi bukan berdasarkan dalil tapi berdasarkan akal tidak kembali kepada dalil Adapun ahlussunnah maka mereka kembali kepada dalil,
Dan tidaklah kalian menghendaki kecuali apabila Allah subhanahu wa taala Rabbul alamin menghendakinya.
Sesungguhnya urusan Allah apabila Allah subhanahu wa taala menghendaki sesuatu tinggal mengatakan kun jadilah, fayakun maka jadilah sesuatu tersebut.
Ini keyakinan Ahlussunnah wal jamaah, tapi apakah yang dikehendaki oleh Allah pasti dicintai oleh Allah?
Al Jawab : la.. Tidak semua yang dikehendaki oleh Allah kemudian dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, ketika Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki kemaksiatan maka bukan berarti Allah subhanahu wa ta’ala mencintai kemaksiatan tersebut, ini adalah Masyiah nama lainnya adalah iradah kauniyah, yang tidak ada kaitannya dengan kecintaan Allah, terkadang Allah mencipta sesuatu dan Allah tidak mencintai sesuatu tersebut.
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
Beliau mengatakan rahimahullah
وَكُلُّ شَيْءٍ يَجْرِي بِتَقْدِيرِهِ وَمَشِيئَتِهِ
Dan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini
يَجْرِي
Terjadi
Berjalan, jalannya dia berhentinya dia kehidupan dia kematian dia nikmat dan juga musibah, terjadi dia
بِتَقْدِيرِهِ وَمَشِيئَتِهِ
Itu semua terjadi dengan Qudratullah /dengan kekuasaan Allah , Allah yang menjadikan itu semuanya
وَمَشِيئَتِهِ
Dan juga dengan kehendak Allah, semuanya dengan kehendak Allah, kullu syaii, segala sesuatu.
Di sini mencakup ketaatan dan juga kemaksiatan, sujudnya orang yang sujud, puasanya orang yang berpuasa adalah dengan masyiatullah, Allah yang menghendaki orang tersebut berpuasa maka akhirnya dia berpuasa, Allah yang menganggap yang bisa bersujud maka akhirnya dia bisa bersujud, Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, termasuk diantaranya adalah maksiat , maksiatnya orang yang melakukan kemaksiatan maka itu juga dengan kehendak Allah, segala sesuatu tidak mungkin di sana ada sesuatu yang terjadi di permukaan bumi ini di luar dari Allah enggak mungkin, bahkan semuanya terjadi dengan kehendak Allah, termasuk diam dan bergeraknya sebuah benda adalah dengan kehendak Allah , diamnya rumah yang sedang kita tempati sekarang bergeraknya kipas angin yang sedang kita nikmati sekarang maka itu adalah kehendak Allah, diamnya kamera yang ada di depan kita itu adalah dengan kehendak Allah, kalau Allah menghendaki dia bergerak, kalau Allah menghendaki kipas angin tersebut berhenti maka akan berhenti maka dia bergerak dengan kehendak Allah dan berhenti dengan kehendak Allah.
Ini keyakinan Ahlussunnah wal jamaah & ini juga bantahan terhadap orang-orang Qodariyyah yang mereka mengatakan bahwasanya yang menghendaki kemaksiatan dan perbuatan kita adalah kita sendiri tidak ada campur tangan Allah subhanahu wa taala, tidak ada campur tangan Allah tapi ini adalah kehendak Kita semuanya, oleh karenanya disebutkan oleh penulis disini karena adanya firqah yang sesat salah faham didalam permasalahan ini, jadi mereka menggagap itu adalah mensucikan Allah , ketika mereka mengatakan yang menghendaki kemaksiatannya adalah kita sendiri bukan Allah yang menghendaki tujuan mereka apa ingin mensucikan Allah apakah yang akan dibenarkan? jawabannya adalah meniru karena mereka sampai kepada keyakinan tadi bukan berdasarkan dalil tapi berdasarkan akal tidak kembali kepada dalil Adapun ahlussunnah maka mereka kembali kepada dalil,
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ .
[QS at Taqwir 29]Dan tidaklah kalian menghendaki kecuali apabila Allah subhanahu wa taala Rabbul alamin menghendakinya.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ .
[QS Yasin 82]Sesungguhnya urusan Allah apabila Allah subhanahu wa taala menghendaki sesuatu tinggal mengatakan kun jadilah, fayakun maka jadilah sesuatu tersebut.
Ini keyakinan Ahlussunnah wal jamaah, tapi apakah yang dikehendaki oleh Allah pasti dicintai oleh Allah?
Al Jawab : la.. Tidak semua yang dikehendaki oleh Allah kemudian dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, ketika Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki kemaksiatan maka bukan berarti Allah subhanahu wa ta’ala mencintai kemaksiatan tersebut, ini adalah Masyiah nama lainnya adalah iradah kauniyah, yang tidak ada kaitannya dengan kecintaan Allah, terkadang Allah mencipta sesuatu dan Allah tidak mencintai sesuatu tersebut.
وَكُلُّ شَيْءٍ يَجْرِي بِتَقْدِيرِهِ وَمَشِيئَتِهِ
***[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]