Halaqah 61: Memahami Hadis Tentang Rukyatullah Sesuai Dengan yang Dipahami Rasulullah
Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang memahami hadis tentang rukyatullah sesuai dengan yang dipahami rasulullah.
Setelah beliau menyebut ayat maka beliau mengatakan,
Dan setiap yang datang didalam permasalahan ini yaitu didalam masalah rukyatullah,
Berupa hadits yang shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka itu seperti apa yang beliau shallallahu 'alaihi wasallam katakan,
Disana ada hadits² dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menunjukkan tentang benarnya rukyatullah subhanahu wata'ala , seperti misalnya hadist Jarir radhiyallahu taala anhu beliau menyebutkan
Kami dalam keadaan duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
Tiba² beliau melihat kepada bulan dimalam bulan purnama,
Kemudian beliau mengatakan
Sesungguhnya kalian (orang² yang beriman secara umum) akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini,
Apa yang dimaksud sebagaimana melihat bulan ini?
maksudnya adalah,
Kalian tidak akan saling mendhalimi ketika melihat Allah subhanahu wa ta’ala tidak saling mendhalimi, yaitu tidak saling menyikut/ tidak saling memukul satu dengan yang lain sebagaimana ketika kalian melihat bulan.
Kita ketika melihat bulan maka masing-masing berada di tempatnya yang tidak ada orang yang saling berperang karena sama-sama ingin melihat bulan seperti itulah kalian akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala dihari kiamat yaitu tidak akan saling mendhalimi satu dengan yang lain, masing-masing melihat Allah ditempatnya,
Dalam riwayat lain/atau dibaca
Kalian tidak saling berdesak-desakan di dalam melihat Allah berarti < كَمَا > disini persamaan di sini adalah sama-sama tidak berdesak-desakan, sama-sama tidak saling mendholimi satu dengan yang lain,
kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.
Jadi yang ditashbih disini yang disamakan disini bukan yang dilihat bukan berarti menyamakan Allah dengan bulan, tidak tapi yang disamakan disini adalah kaifiyati rukyat ,bagaimana melihat yaitu sama-sama tidak saling berdesak-desakan sama-sama tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.
Dalam riwayat yang lain,
Kalian akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan < عَيانًا> yaitu dengan ain/mata kalian semakin menjelaskan makna ucapan beliau.
Dalam hadits Abu Hurairah,
Ada sebagian orang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
Wahai Rasulullah apakah Kami akan melihat Allah Rabb kami di hari kiamat,
ini adalah ucapan orang-orang yang rindu dan cinta kepada Allah
apakah kami akan melihat Allah di hari kiamat, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan
Apakah kalian saling memudharoti ketika melihat bulan di malam bulan purnama,
Mereka mengatakan tidak wahai Rasulullah
Apakah kalian saling memudharoti dalam
Melihat matahari yang tidak ada di sana awan?
Mereka mengatakan tidak wahai Rasulullah
Sesungguhnya kalian akan melihat Allah demikian.
Yaitu tidak saling memudharoti satu dengan yang lain.
Berarti yang bisa kita ambil kita akan melihat Allah dan kita tidak akan berdesak-desakan di dalam melihat Allah bagaimanapun banyaknya orang-orang yang beriman bagaimanapun banyaknya ahlul Jannah mereka akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak akan mendesak-desakan satu dengan yang lain. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan tentang Dajjal, Dajjal mengaku sebagai Rabbul alamin maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada umat Islam diantara hal yang membedakan antara Dajjal yang mengaku sebagai Rabbul alamin dengan Allahu Rabbul alamin, apa yang membedakan?
kita tidak akan melihat Allah kecuali setelah kita meninggal, yaitu di dalam surga, adapun kita dalam keadaan masih hidup kemudian ada orang yang mengaku sebagai rabbul alamin maka ini jelas Dajjal, ini adalah kadzab/pendusta,
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan,
Ketahuilah oleh kalian bahwasanya seseorang diantara kalian tidak akan melihat Allah subhanahu wata'ala sampai dia meninggal dunia.
Kalau kita masih dalam keadaan hidup di dunia kemudian ada yang mengaku dia adalah Rabbul’alamin maka itu jelas dusta, maka ini pentingnya kita belajar agama supaya kita selamat dari fitnah, lihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengabarkan tentang akan adanya Dajjal bagaimana beliau mengajarkan kepada kita supaya kita selamat dari Dajjal, karena fitnahnya besar ketika Dajjal keluar itu manusia dalam keadaan musibah yang besar mereka dalam keadaan paceklik yang panjang enggak ada hujan, bagaimana manusia hidup tanpa adanya air, bagaimana mereka menanam kalau enggak ada hujan berarti enggak ada tanaman kalau nggak ada tanaman bagaimana mereka makan, ekonomi dalam keadaan sangat terperosok, keluar Dajjal dalam keadaan manusia membutuhkan dan sangat membutuhkan ditambah lagi Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Dajjal tersebut ketika dia mengatakan,
Wahai bumi keluarkan apa yang ada pada dirimu, maka keluarlah tanaman wahai langit turunkan hujan maka turun hujan,
Manusia yang dalam keadaan mereka kelaparan dalam keadaan mereka kehausan melihat yang demikian tentunya sangat terpukau ketika Dajjal mengatakan aku adalah Rabbul alamin, banyak diantara mereka yang beriman dengan Dajjal terutama orang yang tidak belajar agama orang yang tidak mengenal Allah adapun orang-orang yang beriman maka mereka terbekali dengan ilmu, oh dulu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sudah berpesan bagaimanapun dia dalam keadaan kekurangan tapi dia tahu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sudah mengatakan bahwasanya kita enggak mungkin melihat Allah didunia ini kita akan melihat Allah kelak Surga, berarti ini bukan Allah ini Dajjal, dengan sebab ilmu maka dia selamat karena dia mau belajar apa yang terjadi di dunia ini dan apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini Allah subhanahu wa taala sudah bekali kita, di dalam Al-Qur’an semuanya, memang itu adalah petunjuk bagi manusia ,
Maka orang yang mengarungi kehidupan dunia ini dan dia berpegang apa yang ada di dalam Al-Qur’an dia akan dengan selamat dengan mudah dia akan mengarungi kehidupan.
Itu adalah dalil-dalil dari sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menunjukkan tentang kebenaran rukyatullah, maka sebagaimana yang beliau sebutkan setiap hadist² yang berbicara tentang masalah rukyatullah dan itu adalah hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, harus hadits yang shahih adapun hadits yang maudhu kita tidak memerlukan yang demikian, kalau itu adalah hadits yang shahih maka yang demikian adalah seperti yang diucapkan oleh Nabi maksudnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nabi kita pahami dengan bahasa Arab yang dengannya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berbicara kita pahami Dengan pemahaman para shahabat dengan pemahaman mereka telah direkomendasi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zaman ku yaitu para sahabat,
Berarti yang diinginkan oleh Nabi itulah disampaikan oleh para sahabat radhiyallahu taala sebagaimana kita memahami ayat sesuai dengan kehendak Allah demikian pula kita memahami hadits sesuai dengan kehendak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk Rasulullah
Aku beriman dengan Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
Jangan kita memahami Dengan pemahaman lain,
Maka itu seperti yang beliau sampaikan,
Dan maknanya sesuai apa yang beliau kehendaki,
Kami beriman, kami tidak mendatangkan dari kehendak kami sendiri,
Oleh karenanya berhati² didalam memaknai sebuah ayat/hadits bukan hanya sekedar seseorang mendapatkan ayat/hadits tapi sudah sesuaikah pemahaman kita dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan juga RasulNya, kita kembali kepada bahasa Arab ( belajar bahasa Arab) kita kembali kepada pemahaman para salaf, kita menelaah ucapan para ulama Ahlu Sunnah wal jama’ah para mufasirin dari kalangan Ahlu Sunnah jama’ah, Ahlu hadits dari kalangan Ahlu Sunnah wal jama’ah,kita berusaha dalam memahami makna dari ayat dan juga hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
Setelah beliau menyebut ayat maka beliau mengatakan,
وكل ما جاء في ذلك من الحديث الصحيح عن الرسول صلى الله عليه وسلم فهو كما قال،
Dan setiap yang datang didalam permasalahan ini yaitu didalam masalah rukyatullah,
من الحديث الصحيح عن الرسول اللهshallallahu 'alaihi wasallam فهو كما قال
Berupa hadits yang shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka itu seperti apa yang beliau shallallahu 'alaihi wasallam katakan,
Disana ada hadits² dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menunjukkan tentang benarnya rukyatullah subhanahu wata'ala , seperti misalnya hadist Jarir radhiyallahu taala anhu beliau menyebutkan
كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النبي اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ
Kami dalam keadaan duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
Tiba² beliau melihat kepada bulan dimalam bulan purnama,
Kemudian beliau mengatakan
قَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القمر، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Sesungguhnya kalian (orang² yang beriman secara umum) akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini,
Apa yang dimaksud sebagaimana melihat bulan ini?
maksudnya adalah,
، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Kalian tidak akan saling mendhalimi ketika melihat Allah subhanahu wa ta’ala tidak saling mendhalimi, yaitu tidak saling menyikut/ tidak saling memukul satu dengan yang lain sebagaimana ketika kalian melihat bulan.
Kita ketika melihat bulan maka masing-masing berada di tempatnya yang tidak ada orang yang saling berperang karena sama-sama ingin melihat bulan seperti itulah kalian akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala dihari kiamat yaitu tidak akan saling mendhalimi satu dengan yang lain, masing-masing melihat Allah ditempatnya,
عَلى الأرائِكِ يَنْظُرُونَ﴾ ﴿تَعْرِفُ في وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ
Dalam riwayat lain/atau dibaca
لَا تٓضَامونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Kalian tidak saling berdesak-desakan di dalam melihat Allah berarti < كَمَا > disini persamaan di sini adalah sama-sama tidak berdesak-desakan, sama-sama tidak saling mendholimi satu dengan yang lain,
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ
kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.
Jadi yang ditashbih disini yang disamakan disini bukan yang dilihat bukan berarti menyamakan Allah dengan bulan, tidak tapi yang disamakan disini adalah kaifiyati rukyat ,bagaimana melihat yaitu sama-sama tidak saling berdesak-desakan sama-sama tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.
Dalam riwayat yang lain,
إنَّكم سترَوْن ربَّكم عَيانًا
Kalian akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan < عَيانًا> yaitu dengan ain/mata kalian semakin menjelaskan makna ucapan beliau.
Dalam hadits Abu Hurairah,
Ada sebagian orang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
يا رَسولَ اللَّهِ عن رَبَّنَا يَومَ القِيَامَةِ؟
Wahai Rasulullah apakah Kami akan melihat Allah Rabb kami di hari kiamat,
ini adalah ucapan orang-orang yang rindu dan cinta kepada Allah
apakah kami akan melihat Allah di hari kiamat, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan
هل تُضارّون في رؤية القمر ليلة البدر؟
Apakah kalian saling memudharoti ketika melihat bulan di malam bulan purnama,
قالوا: لا يا رَسولَ اللَّهِ
Mereka mengatakan tidak wahai Rasulullah
قال: هل تُضارّون في الشمس ليس دونها سحاب؟
Apakah kalian saling memudharoti dalam
Melihat matahari yang tidak ada di sana awan?
قالوا : لا يا رَسولَ اللَّهِ
Mereka mengatakan tidak wahai Rasulullah
فإنكم ترونه كذلك
Sesungguhnya kalian akan melihat Allah demikian.
Yaitu tidak saling memudharoti satu dengan yang lain.
Berarti yang bisa kita ambil kita akan melihat Allah dan kita tidak akan berdesak-desakan di dalam melihat Allah bagaimanapun banyaknya orang-orang yang beriman bagaimanapun banyaknya ahlul Jannah mereka akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak akan mendesak-desakan satu dengan yang lain. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan tentang Dajjal, Dajjal mengaku sebagai Rabbul alamin maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada umat Islam diantara hal yang membedakan antara Dajjal yang mengaku sebagai Rabbul alamin dengan Allahu Rabbul alamin, apa yang membedakan?
kita tidak akan melihat Allah kecuali setelah kita meninggal, yaitu di dalam surga, adapun kita dalam keadaan masih hidup kemudian ada orang yang mengaku sebagai rabbul alamin maka ini jelas Dajjal, ini adalah kadzab/pendusta,
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan,
وتعلَمونَ أنَّه لن يرى أحدٌ منكم ربَّه subhanahu wata'ala حتى يموتَ،
Ketahuilah oleh kalian bahwasanya seseorang diantara kalian tidak akan melihat Allah subhanahu wata'ala sampai dia meninggal dunia.
Kalau kita masih dalam keadaan hidup di dunia kemudian ada yang mengaku dia adalah Rabbul’alamin maka itu jelas dusta, maka ini pentingnya kita belajar agama supaya kita selamat dari fitnah, lihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengabarkan tentang akan adanya Dajjal bagaimana beliau mengajarkan kepada kita supaya kita selamat dari Dajjal, karena fitnahnya besar ketika Dajjal keluar itu manusia dalam keadaan musibah yang besar mereka dalam keadaan paceklik yang panjang enggak ada hujan, bagaimana manusia hidup tanpa adanya air, bagaimana mereka menanam kalau enggak ada hujan berarti enggak ada tanaman kalau nggak ada tanaman bagaimana mereka makan, ekonomi dalam keadaan sangat terperosok, keluar Dajjal dalam keadaan manusia membutuhkan dan sangat membutuhkan ditambah lagi Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Dajjal tersebut ketika dia mengatakan,
Wahai bumi keluarkan apa yang ada pada dirimu, maka keluarlah tanaman wahai langit turunkan hujan maka turun hujan,
Manusia yang dalam keadaan mereka kelaparan dalam keadaan mereka kehausan melihat yang demikian tentunya sangat terpukau ketika Dajjal mengatakan aku adalah Rabbul alamin, banyak diantara mereka yang beriman dengan Dajjal terutama orang yang tidak belajar agama orang yang tidak mengenal Allah adapun orang-orang yang beriman maka mereka terbekali dengan ilmu, oh dulu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sudah berpesan bagaimanapun dia dalam keadaan kekurangan tapi dia tahu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sudah mengatakan bahwasanya kita enggak mungkin melihat Allah didunia ini kita akan melihat Allah kelak Surga, berarti ini bukan Allah ini Dajjal, dengan sebab ilmu maka dia selamat karena dia mau belajar apa yang terjadi di dunia ini dan apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini Allah subhanahu wa taala sudah bekali kita, di dalam Al-Qur’an semuanya, memang itu adalah petunjuk bagi manusia ,
هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ …
Maka orang yang mengarungi kehidupan dunia ini dan dia berpegang apa yang ada di dalam Al-Qur’an dia akan dengan selamat dengan mudah dia akan mengarungi kehidupan.
Itu adalah dalil-dalil dari sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menunjukkan tentang kebenaran rukyatullah, maka sebagaimana yang beliau sebutkan setiap hadist² yang berbicara tentang masalah rukyatullah dan itu adalah hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, harus hadits yang shahih adapun hadits yang maudhu kita tidak memerlukan yang demikian, kalau itu adalah hadits yang shahih maka yang demikian adalah seperti yang diucapkan oleh Nabi maksudnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nabi kita pahami dengan bahasa Arab yang dengannya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berbicara kita pahami Dengan pemahaman para shahabat dengan pemahaman mereka telah direkomendasi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zaman ku yaitu para sahabat,
Berarti yang diinginkan oleh Nabi itulah disampaikan oleh para sahabat radhiyallahu taala sebagaimana kita memahami ayat sesuai dengan kehendak Allah demikian pula kita memahami hadits sesuai dengan kehendak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk Rasulullah
أمانة بالرسول الله وبما جاء عن الرسول الله على مرضى رسول الله
Aku beriman dengan Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
Jangan kita memahami Dengan pemahaman lain,
فهوا كما قال
Maka itu seperti yang beliau sampaikan,
ومعناه على ما أراد،
Dan maknanya sesuai apa yang beliau kehendaki,
Kami beriman, kami tidak mendatangkan dari kehendak kami sendiri,
Oleh karenanya berhati² didalam memaknai sebuah ayat/hadits bukan hanya sekedar seseorang mendapatkan ayat/hadits tapi sudah sesuaikah pemahaman kita dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan juga RasulNya, kita kembali kepada bahasa Arab ( belajar bahasa Arab) kita kembali kepada pemahaman para salaf, kita menelaah ucapan para ulama Ahlu Sunnah wal jama’ah para mufasirin dari kalangan Ahlu Sunnah jama’ah, Ahlu hadits dari kalangan Ahlu Sunnah wal jama’ah,kita berusaha dalam memahami makna dari ayat dan juga hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]