Halaqah 63: Pijakan Keislaman Seorang Muslim Tidak Akan Kokoh Kecuali dengan Taslim dan Istislam
Halaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang pijakan keislaman seseorang muslim tidak akan kokoh kecuali dengan taslim dan istislam.
Beliau mengatakan rahimahullah,
Dan seseorang tidak kuat tidak tetap kakinya di dalam Islam kecuali apabila dia berdiri di atas punggung penyerahan diri,
Taslim wa Istislam maknanya sama maksudnya adalah seorang tidak kuat keislamannya sampai dia benar-benar menyerahkan diri termasuk diantaranya dengan masalah akidah didalam masalah rukyatullah , didalam masalah Kalamullah, mari kita sama-sama menyerahkan diri kepada Allah apa yang Allah kabarkan yang kita imani apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kita imani sebagaimana datangnya,
Maka barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui apa yang dilarang untuk diketahui tentang masalah sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala, ini tidak mungkin kita mengetahui kecuali dengan wahyu, apabila seseorang ingin memahami sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala dengan akalnya maka ini adalah sesuatu yang dilarang yang demikian, kalau kita memang ingin mengenal Allah tentang sifat-sifat Allah maka kita harus mengenalnya dengan jalannya yaitu dengan Al-Qur’an dengan hadist dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu taala anhum adapun seseorang yang dengan sombongnya dia ingin mengenal dengan akalnya kalau sampai datang Al-Qur’an dan hadits berbeda dengan akalnya maka dia tolak dalil tersebut atau takwil
Dan dia tidak Qonaah pemahamannya tidak merasa cukup pemahamannya dengan menyerahkan diri kepada dalil tapi dia lebih qana’ah dengan akalnya sesuai dengan akal baru qonaah tapi kalau tidak sesuai dengan akal ya ditolak yaitu ucapan Mua’tazilah, bagaimana kita bisa melihat Allah padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak memiliki arah kalau kita melihat berarti Allah memiliki arah,
Kalau demikian keadaannya seseorang dalam beragama tidak menyerahkan diri kepada Allah didalam pemahaman juga tidak menyerahkan diri, akalnya tidak Taslim maka apa yang dia dapatkan itu akan menghalanginya dari tauhid yang murni apa yang dia dapatkan yang terjadi setelah itu akan menghalangi dia dari tauhid yang murni, dia tidak akan mendapatkan tauhid yang terhalangi dengan sebelumnya mengikuti hawa nafsu dengan sebab dia mendahulukan akalnya adapun ahlussunnah ketika mereka benar-benar menyerahkan diri kepada Allah memahami Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar maka mereka akan mendapatkan tauhidul qols mereka akan mendapatkan tauhid yang murni dalam masalah rububiyah dengan masalah uluhiyah dengan masalah nama dan juga sifat Allah benar-benar akan lurus akan benar pemahaman mereka tapi kalau mereka mendahulukan akal maka mereka akan terhalangi memahami tauhid ini dengan tauhid yang benar, mereka akan terhalang dari kemurnian tauhid pasti di sana ada khalal pasti di sana ada kekurangan di dalam tauhidnya ya dengan masalah nama dan juga sifat Allah dengan masalah rububiyah Allah dalam masalah uluhiyah Allah ,coba ketika mereka memahami tauhid yang dibawa oleh para Nabi dan juga para Rasul intinya adalah tauhid rububiyah, seseorang dinamakan bertauhid kalau dia mengenal Allah dengan hatinya akhirnya orang yang melakukan kesyirikan di dalam masalah tauhidul uluhiyah dimata mereka adalah sesuatu yang sangat tidak masalah mau bertawasul dengan orang yang meninggal mau bertawasul dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak masalah yang penting dia tahu bahwasanya Allah itu ada, yang penting yang meyakini bahwasanya Allah itu yang mencipta, bagaimana dia bisa mendapatkan tauhid yang murni kalau dia masih mengagungkan akalnya di atas Al-Qur’an dan juga hadits,
Demikian pula akan menghalangi dia dari mengenal Allah dengan pengenalan yang shafi/ pengenalan yang bersih kalau dia mengenal Allah pasti di sana ada kotorannya ada kekurangannya sebabnya adalah karena dia tidak kembali kepada Dalil dan menyerahkan diri kepada dalil masih ada di sana hawa nafsu dan juga kesombongan, seandainya mereka mengenal Allah hanya mengenal Allah dengan pengenalan yang sangat kurang, mengenal Allah sebagai pencipta mengenal Allah sebagai pemberi rezeki tapi didalam masalah Al Uluhiyah mereka sangat kurang
Dan akan menghalangi mereka dari keimanan yang benar.
Akibatnya mereka berada di antara kekufuran dan juga keimanan di antara kekufuran, antara iman dan kufur ada sebagian yang mereka yang mereka shahih mereka imani mereka beriman dengan rububiyah mereka secara umum mentanzih menyucikan Allah tapi mereka terjatuh juga di dalam kesalahan yaitu sampai mengingkari sifat Allah ingin dia menyucikan Allah tapi dia mengingkari istiwa dia mengingkari rukyatullah mengingkari bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullah dan bahwasanya dia bukan makhluk tapi disisi yang lain ada keimanan keimanan dengan Rasulullah betul beriman bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala yang pencipta,
Antara keimanan dan juga kekufuran,
Iman dari satu sisi dia iman dari sisi yang lain dia kufur,
Antara membenarkan dan juga mendustakan sebagian yang dia benarkan tapi ada sebagian yang lain yang dia dustakan dia takwil dia ingkari,
Ada sesuatu yang dia benarkan/setujui ada sebagian yang lain dia ingkari
Dalam keadaan dia memberikan was² kepada yang lain, membisiki kepada yang lain.
Berdakwah mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, berdebat untuk mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, ini adalah Ahlu Kalam yang memang mereka adalah kaum yang suka berdebat didalam agamanya, mereka taadzub tertipu dengan akal mereka,
Dalam keadaan dia juga bingung.
Orang semakin belajar ilmu kalam semakin bingung sebagaimana ini diucapkan sendiri oleh tokoh mereka, mereka sudah mendatangi berbagai negeri/madrasah, semakin makin mendalami semakin mereka bingung didalam agamanya, sampa mereka berangan-angan seandainya mereka mati kelak seperti matinya orang² tua yang ada naisamud yg mereka berada diatas fitrah , ana seorang muslim apa yang Allah katakan ana imani dan apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ana imani dan jalankan sampai meninggal dunia selesai, kita beriman sesuai yang diinginkan oleh, kita beriman sesuai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ini selesai tidak ada keraguan/kebingungan didalam hati mereka, mereka selalu berkeinginan demikian seandainya aku mati sebagaimana matinya orang-orang tua di Naisamud (mereka diatas fitrah) karena sudah didalam ilmu Kalam susah untuk keluar darinya terlalu banyak subhat yang masuk didalamnya bahkan mau tidur pun terbawa, ketika dalam shalat terbawa subhat nya, dalam keadaan apapun terbawa subhat nya, sulit untuk menghilangkan sesuatu yang selalu bertahun² mereka pelajari. Alhamdulillah yang telah menyelamatkan diri demikian tidak sampai kita terbawa/tergiur untuk mempelajari ilmu Kalam ini, untuk mengenal Allah kita tidak butuh dengan ilmu kalam
Dalam keadaan dia ragu-ragu
Itu keadaan ahlul kalam secara umum mereka didalam keraguan agamanya sehingga keraguan tadi nampak dari keinginan mereka untuk berdebat, adapun Ahlu Sunnah maka mereka berada diatas keyakinan tidak membutuhkan perdebatan orang² yang kebingungan tersebut , kita berada diatas keyakinan didalam agama kalau mereka ingin berdebat silahkan berdebat dengan orang-orang yang ragu adapun Ahlu Sunnah bukan orang² yang ragu,
Mereka dalam keadaan menyimpang
Mereka adalah orang yang ragu² bukan orang yang beriman dan membenarkan.
Didatangkan ayat dan hadits berbeda dengan Ahlu Sunnah mereka membenarkan beriman, adapun mereka maka senantiasa ada keraguan didalam hati mereka.
Dan mereka bukan orang yang menolak ataupun mendustakan. Artinya murni bukan seorang yang beriman dan bukan murni orang yang kafir, ini adalah keadaan ahlu bid’ah ada sebagian dari mereka imani/benarkan dan ada sebagian yang mereka ingkari dan takwil tapi tidak sampai kepada kekufuran.
Ini adalah sifat-sifat yang beliau sebutkan sifati orang² yang bingung didalam agamanya.
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
Beliau mengatakan rahimahullah,
ولا تثبت قدم الإسلام إلا على ظهر التسليم والاستسلام
Dan seseorang tidak kuat tidak tetap kakinya di dalam Islam kecuali apabila dia berdiri di atas punggung penyerahan diri,
Taslim wa Istislam maknanya sama maksudnya adalah seorang tidak kuat keislamannya sampai dia benar-benar menyerahkan diri termasuk diantaranya dengan masalah akidah didalam masalah rukyatullah , didalam masalah Kalamullah, mari kita sama-sama menyerahkan diri kepada Allah apa yang Allah kabarkan yang kita imani apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kita imani sebagaimana datangnya,
فمن رام علم ما حُظر عنه علمه ولم يقنع بالتسليم فهمه؛ حجبه مرامه عن خالص التوحيد وصافي المعرفة وصحيح الإيمان
Maka barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui apa yang dilarang untuk diketahui tentang masalah sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala, ini tidak mungkin kita mengetahui kecuali dengan wahyu, apabila seseorang ingin memahami sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala dengan akalnya maka ini adalah sesuatu yang dilarang yang demikian, kalau kita memang ingin mengenal Allah tentang sifat-sifat Allah maka kita harus mengenalnya dengan jalannya yaitu dengan Al-Qur’an dengan hadist dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu taala anhum adapun seseorang yang dengan sombongnya dia ingin mengenal dengan akalnya kalau sampai datang Al-Qur’an dan hadits berbeda dengan akalnya maka dia tolak dalil tersebut atau takwil
ولم يقنع بالتسليم فهمه؛
Dan dia tidak Qonaah pemahamannya tidak merasa cukup pemahamannya dengan menyerahkan diri kepada dalil tapi dia lebih qana’ah dengan akalnya sesuai dengan akal baru qonaah tapi kalau tidak sesuai dengan akal ya ditolak yaitu ucapan Mua’tazilah, bagaimana kita bisa melihat Allah padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak memiliki arah kalau kita melihat berarti Allah memiliki arah,
حجبه مرامه عن خالص التوحيد
Kalau demikian keadaannya seseorang dalam beragama tidak menyerahkan diri kepada Allah didalam pemahaman juga tidak menyerahkan diri, akalnya tidak Taslim maka apa yang dia dapatkan itu akan menghalanginya dari tauhid yang murni apa yang dia dapatkan yang terjadi setelah itu akan menghalangi dia dari tauhid yang murni, dia tidak akan mendapatkan tauhid yang terhalangi dengan sebelumnya mengikuti hawa nafsu dengan sebab dia mendahulukan akalnya adapun ahlussunnah ketika mereka benar-benar menyerahkan diri kepada Allah memahami Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar maka mereka akan mendapatkan tauhidul qols mereka akan mendapatkan tauhid yang murni dalam masalah rububiyah dengan masalah uluhiyah dengan masalah nama dan juga sifat Allah benar-benar akan lurus akan benar pemahaman mereka tapi kalau mereka mendahulukan akal maka mereka akan terhalangi memahami tauhid ini dengan tauhid yang benar, mereka akan terhalang dari kemurnian tauhid pasti di sana ada khalal pasti di sana ada kekurangan di dalam tauhidnya ya dengan masalah nama dan juga sifat Allah dengan masalah rububiyah Allah dalam masalah uluhiyah Allah ,coba ketika mereka memahami tauhid yang dibawa oleh para Nabi dan juga para Rasul intinya adalah tauhid rububiyah, seseorang dinamakan bertauhid kalau dia mengenal Allah dengan hatinya akhirnya orang yang melakukan kesyirikan di dalam masalah tauhidul uluhiyah dimata mereka adalah sesuatu yang sangat tidak masalah mau bertawasul dengan orang yang meninggal mau bertawasul dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak masalah yang penting dia tahu bahwasanya Allah itu ada, yang penting yang meyakini bahwasanya Allah itu yang mencipta, bagaimana dia bisa mendapatkan tauhid yang murni kalau dia masih mengagungkan akalnya di atas Al-Qur’an dan juga hadits,
وصافي المعرفة
Demikian pula akan menghalangi dia dari mengenal Allah dengan pengenalan yang shafi/ pengenalan yang bersih kalau dia mengenal Allah pasti di sana ada kotorannya ada kekurangannya sebabnya adalah karena dia tidak kembali kepada Dalil dan menyerahkan diri kepada dalil masih ada di sana hawa nafsu dan juga kesombongan, seandainya mereka mengenal Allah hanya mengenal Allah dengan pengenalan yang sangat kurang, mengenal Allah sebagai pencipta mengenal Allah sebagai pemberi rezeki tapi didalam masalah Al Uluhiyah mereka sangat kurang
وصحيح الإيمان،
Dan akan menghalangi mereka dari keimanan yang benar.
فيتذبذب بين الكفر والإيمان،
Akibatnya mereka berada di antara kekufuran dan juga keimanan di antara kekufuran, antara iman dan kufur ada sebagian yang mereka yang mereka shahih mereka imani mereka beriman dengan rububiyah mereka secara umum mentanzih menyucikan Allah tapi mereka terjatuh juga di dalam kesalahan yaitu sampai mengingkari sifat Allah ingin dia menyucikan Allah tapi dia mengingkari istiwa dia mengingkari rukyatullah mengingkari bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullah dan bahwasanya dia bukan makhluk tapi disisi yang lain ada keimanan keimanan dengan Rasulullah betul beriman bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala yang pencipta,
فيتذبذب بين الكفر والإيمان،
Antara keimanan dan juga kekufuran,
Iman dari satu sisi dia iman dari sisi yang lain dia kufur,
والتصديق والتكذيب،
Antara membenarkan dan juga mendustakan sebagian yang dia benarkan tapi ada sebagian yang lain yang dia dustakan dia takwil dia ingkari,
والإقرار والإنكار
Ada sesuatu yang dia benarkan/setujui ada sebagian yang lain dia ingkari
موسوساً تائهاً
Dalam keadaan dia memberikan was² kepada yang lain, membisiki kepada yang lain.
Berdakwah mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, berdebat untuk mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, ini adalah Ahlu Kalam yang memang mereka adalah kaum yang suka berdebat didalam agamanya, mereka taadzub tertipu dengan akal mereka,
موسوساً تائهاً
Dalam keadaan dia juga bingung.
Orang semakin belajar ilmu kalam semakin bingung sebagaimana ini diucapkan sendiri oleh tokoh mereka, mereka sudah mendatangi berbagai negeri/madrasah, semakin makin mendalami semakin mereka bingung didalam agamanya, sampa mereka berangan-angan seandainya mereka mati kelak seperti matinya orang² tua yang ada naisamud yg mereka berada diatas fitrah , ana seorang muslim apa yang Allah katakan ana imani dan apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ana imani dan jalankan sampai meninggal dunia selesai, kita beriman sesuai yang diinginkan oleh, kita beriman sesuai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ini selesai tidak ada keraguan/kebingungan didalam hati mereka, mereka selalu berkeinginan demikian seandainya aku mati sebagaimana matinya orang-orang tua di Naisamud (mereka diatas fitrah) karena sudah didalam ilmu Kalam susah untuk keluar darinya terlalu banyak subhat yang masuk didalamnya bahkan mau tidur pun terbawa, ketika dalam shalat terbawa subhat nya, dalam keadaan apapun terbawa subhat nya, sulit untuk menghilangkan sesuatu yang selalu bertahun² mereka pelajari. Alhamdulillah yang telah menyelamatkan diri demikian tidak sampai kita terbawa/tergiur untuk mempelajari ilmu Kalam ini, untuk mengenal Allah kita tidak butuh dengan ilmu kalam
شاكًا جائظ
Dalam keadaan dia ragu-ragu
Itu keadaan ahlul kalam secara umum mereka didalam keraguan agamanya sehingga keraguan tadi nampak dari keinginan mereka untuk berdebat, adapun Ahlu Sunnah maka mereka berada diatas keyakinan tidak membutuhkan perdebatan orang² yang kebingungan tersebut , kita berada diatas keyakinan didalam agama kalau mereka ingin berdebat silahkan berdebat dengan orang-orang yang ragu adapun Ahlu Sunnah bukan orang² yang ragu,
Mereka dalam keadaan menyimpang
لا مؤمنًا مصدقًا
Mereka adalah orang yang ragu² bukan orang yang beriman dan membenarkan.
Didatangkan ayat dan hadits berbeda dengan Ahlu Sunnah mereka membenarkan beriman, adapun mereka maka senantiasa ada keraguan didalam hati mereka.
ولا جاحداً مكذباً
Dan mereka bukan orang yang menolak ataupun mendustakan. Artinya murni bukan seorang yang beriman dan bukan murni orang yang kafir, ini adalah keadaan ahlu bid’ah ada sebagian dari mereka imani/benarkan dan ada sebagian yang mereka ingkari dan takwil tapi tidak sampai kepada kekufuran.
Ini adalah sifat-sifat yang beliau sebutkan sifati orang² yang bingung didalam agamanya.
موسوساً تائهاً شاكاً لا مؤمناً مصدقاً، ولا جاحداً مكذباً..
***[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]