Halaqah 72: Perjanjian yang Allah Ambil atas Nabi Adam dan Keturunannya

Halaqah yang ke-72 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang perjanjian yang Allah ambil atas nabi Adam dan keturunannya.

Beliau mengatakan rahimahullah,

وَالْمِيثَاقُ الَّذِي أَخَذَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ آدَمَ وَذُرِّيَّتِهِ حَقٌّ

Dan perjanjian yang Allah subhanahu wa ta’ala ambil dari Adam dan juga keturunannya maka ini adalah Haq.

Diantara akidah Ahlussunnah wal jamaah bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala dahulu telah mengambil sebuah perjanjian dari Nabi Adam alaihissalam sebagai bapak manusia dan juga anak keturunan beliau ini adalah hak ini adalah benar adanya karena yang demikian berdasarkan dalil yang shahih bahkan dalilnya adalah dalil yang mutawatir secara makna sebagaimana ini dijelaskan oleh syekh Albani rahimahullah di dalam silsilah Al Hadits shahihah berdasarkan semua hadits yaitu hadits Abdullah bin Abbas yang diangkat sampai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di mana beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan,

إنَّ اللَّهَ تعالى أخذَ الميثاقَ من ظَهرِ آدمَ عليهِ السَّلامُ بنعمانَ يومِ عرفةَ فأخرج من صلبِه كلَّ ذرِّيَّةٍ ذراها فنثرها بين يدَيه كالذر ثم كلَّمهم قُبُلًا قال أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mengambil perjanjian dari punggung Adam di hari Arafah kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang sulbinya, Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau Allah subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang Sulbinya langsung dunia Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau.

Ini sesuatu yang harus kita yakini berdasarkan hadits yang shahih Allah semata mengeluarkan seluruh keturunan Nabi Adam alaihissalam saat ini termasuk di antaranya kita meskipun kita tidak mengingatnya tapi inilah yang digambarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

فنثرها بين يدَيه

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan mereka di depan Nabi Adam alaihissalam,

كالذر

Seperti semut-semut yang kecil meletakkan keturunan Nabi Adam alaihissalam di depan Nabi Adam alaihissalam seperti كالذر itu seperti semut kecil yang banyak dan semuanya adalah keturunan nabi Adam alaihissalam manusia kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berbicara kepada mereka semuanya dan mengatakan,

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ

Bukankah Aku adalah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian.

Sehingga wajib bagi kalian untuk menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun di sini Allah subhanahu wa ta’ala mengambil Misaq Allah mengambil perjanjian dengan Nabi Adam alaihissalam dan juga seluruh keturunannya,

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ

Bukankah Aku adalah Rabb kalian ?

Apa jawab mereka?

بَلَى

Mereka mengatakan iya, ya Allah semuanya mengakui bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Rabb mereka, pengakuan yang merupakan janji dari mereka untuk menyembah kepada Allah saja tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

Ini adalah Misaq, ini perjanjian yang berat berarti di sana sudah ada janji yang Allah subhanahu wa ta’ala dari Nabi Adam alaihissalam dan juga keturunannya dan janji yang harus kita tepati maka muwahidun / orang-orang yang bertauhid orang-orang Islam dari semenjak umat nabi-nabi terdahulu dan yang mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wasallam merekalah orang-orang yang menempati janji mereka adalah orang-orang yang menempati janji karena kita sudah mengakui di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala adalah Rabb kita yang kita harus mengesakannya mentauhidkan tidak boleh menyekutukannya Dia dengan sesuatu apa ketika diperintahkan untuk menyempurnakan janji kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Setelah perjanjian tersebut Allah subhanahu wa taala bukan hanya mencukupkan diri dengan perjanjian yang sudah Allah ambil kepada mereka dahulu, tapi Allah subhanahu wa taala mengutus para rasul mengingatkan manusia atas perjanjian tersebut

۝ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…
[QS An Nahl 36]

Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya menyembah kalian kepada Allah dan menjauhi Thagut. Ini adalah isi perjanjian yang Allah ambil dari mereka, Allah utus para utusan dan jumlah mereka luar biasa banyak disebutkan dalam hadits jumlah mereka ada 124.000, 300 lebih diantaranya adalah sebagai Rasul dan Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah menurunkan kitab kecuali untuk mengingatkan manusia juga tentang Tauhid,

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ۝ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ
[QS Hud 1,2]

Kitab yang diqaskan ayat-ayatnya dan diperinci dari Allah subhanahu wa ta’ala apa tujuannya?

أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ

Supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Tauhid, Islam ini adalah janji yang sudah Allah ambil dari kita semuanya ini adalah hikmah diciptakannya Jin dan juga manusia hikmah diutusnya para Rasul hikmah diturunkan kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita sebagai seorang muslim membenarkan Misaq tersebut jangan kita seperti orang-orang yang mendahulukan akalnya bagaimana dan bagaimana dikeluarkan semuanya dari tulang sulbi adab, berupa semut atau berupa dzar kecil-kecil seperti semut, ini ucapan orang-orang yang kurang akal bukan orang yang cerdas akalnya adaupun orang yang shahih akalnya maka dia menyadari, akalnya menyadari bahwasanya akal dia itu penuh dengan kekurangan itu orang yang benar akalnya, kalau memang itu kabar yang Shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka akal yang shahih akan mendengarkannya, akal yang shahih menyadari bahwasanya dirinya adalah penuh dengan kekurangan.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url