Halaqah 141: Permasalahan yang Berkaitan dengan Penamaan dan Hukum dalam Islam

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-141 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqidah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masuk kita pada pembahasan yang baru yang berkaitan dengan masā’ilul iman, pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan masalah iman atau disebut dikalangan para ulama dengan masā’ilu al-asma’i wal ahkam, permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan asma yaitu nama, apakah seseorang dinamakan mukmin atau muslim atau kafir atau dinamakan orang yang kurang keimanannya, adapun al-ahkam maka yang dimaksud adalah hukum dia di akhirat apakah dia masuk ke dalam surga atau masuk kedalam neraka.

Beliau mengatakan

وَمِنْ أُصُولِ الفرقة الناجية

Dan termasuk pokok-pokok pondasi-pondasi yang dimiliki oleh kelompok yang selamat (golongan yang selamat yaitu ahlusunnah wal jama’ah), yang dengannya mereka beda dengan yang lain dengan pokok-pokok akidah ini mereka beda dengan aliran aliran yang sesat yang menyimpang dari as-shiratal mustaqim

أَنَّ الدِّينَ وَالإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ

diantara pondasi yang membedakan antara mereka dengan aliran-aliran sesat bahwa agama dan iman ini adalah ucapan dan juga perbuatan, yang dimaksud dengan الدِّينَ disini adalah iman itu sendiri, ad-dīn yaitu Islam dan juga Iman sini dengan makna yang sama karena Iman pada hakikatnya adalah agama itu sendiri, Iman disana ada ushul ada rukun-rukun iman, iman kepada Allāh ﷻ iman kepada malaikat dan seterusnya maka itu adalah inti dari agama itu sendiri.

أَنَّ الدِّينَ وَالإِيمَانَ

Bahwasanya agama dan keimanan

قَوْلٌ وَعَمَلٌ

agama ini Islam ini terdiri dari ucapan dan perbuatan, bukan hanya ucapan saja dan bukan hanya perbuatan saja, agama Islam ini adalah ada yang berkaitan dengan ucapan dan ada yang berkaitan dengan perbuatan dan semuanya adalah masuk dalam agama Islam.

Dan juga iman terdiri dari perkataan dan juga perberbuatan, ada iman yang berupa apa yang ada di dalam hati dan ada iman yang berupa amalan dan ucapan beliau rahimahullāh قَوْلٌ وَعَمَلٌ datang ucapan yang seperti ini dari sebagian salaf, mereka mengatakan bahwasanya iman adalah ucapan dan juga perbuatan. Kemudian beliau memperinci apa yang dimaksud dengan ucapan dan juga perbuatan disini, karena sebagaimana yang kita tahu bahwasanya iman adalah

اعْتِقَاد بِالجَنَانِ وقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالأَرْكَانِ

keyakinan dengan hati dan ucapan dengan lisan dan amalan dengan anggota badan, sementara di sini beliau mengatakan ucapan dan juga perbuatan, keyakinan dengan hati tidak disebutkan oleh beliau, perinciannya adalah setelahnya

قَوْلٌ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ

yang dimaksud dengan قَوْلٌ disini mencakup dua perkara yaitu ucapan hati dan juga ucapan lisan

وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ

dan amalan hati amalan lisan dan amalan anggota badan, berarti عَمَلُ perinciannya terbagi menjadi tiga, dan inilah cara untuk menjamak ucapan sebagian salaf ketika mereka memperinci atau memberikan definisi tentang iman ada diantara mereka yang mengatakan qaulun wa amalun ada yang mengatakan qaulun wa amalun wa’tiqad ada yang mengatakan qaulun wa amalun wa’tiqad wal mutaba’ah.

Kalau kita memperhatikan dan merenungkan maka tidak ada di sana pertentangan antara sebagian ucapan mereka dengan ucapan yang lain tentang masalah Iman ini, ucapan mereka qaulun wa amalun ini adalah dengan global perinciannya adalah seperti yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah disini, karena ucapan itu mencakup ucapan hati yang maksud dengan ucapan hati adalah tasdiqul qalbi wa iqanuhu yaitu hati kita membenarkan dan meyakini maka itulah yang dimaksud dengan ucapan hati.

Adapun ucapan lisan maka yang dimaksud adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, ini kita ingat supaya kita bisa membedakan antara ucapan lisan dengan amalan lisan, kalau ucapan hati adalah membenarkan meyakini dalam hati adapun ucapan lisan maka diucapkan dengan mengatakan asyhadu alla ilaha illallāh wa asyhadu anna muhammadan rasulullāh. Dari sini berarti Iman mencakup tasdiq dan keyakinan dalam hati dan masuk di dalamnya ucapan seseorang dengan dua kalimat syahadat.

Dan amalan hati adalah gerakan hati, menghadap kepada Allāh ﷻ dengan mengikhlaskan dengan mencintai bertawakal cinta kepada Allāh ﷻ berharap kepada Allāh ﷻ, berarti di sini ada gerakan hati kepada Allāh ﷻ makanya dinamakan dengan amalu alqalb, kalau para ulama mengatakan amalan-amalan hati apa saja ada tawakal ada rasa mengharap kepada Allāh ﷻ ada rasa takut kepada Allāh ﷻ ada kecintaan kepada Allāh ﷻ ada keikhlasan kepada Allāh ﷻ berarti di sini ada harokah ada gerakan kepada Allāh ﷻ dengan hati, bedakan disini antara perkataan hati dengan amalan hati, perkataan hati adalah tasdiq meyakini membenarkan, adapun amal maka disini ada gerakan.

وَاللِّسَانِ

dan amalan lisan, tadi disebutkan ucapan lisan mengucapkan syahadatain sekarang ada amalan dari lisan, para ulama menjelaskan yang dimaksud dengan amal lisan adalah amal sholeh yang tidak dikerjakan kecuali dengan lisan, contoh misalnya membaca Al-Qur’an kemudian juga membaca dzikir tasbih tahmid takbir berdoa, ucapan lisan itu terbatas pada dua kalimat syahadat. Jadi yang dimaksud dengan amalan lisan adalah amalan atau amal sholeh yang tidak dikerjakan kecuali dengan lisan.

وَالْجَوَارِحِ

Dan amalan anggota badan, yaitu amal sholeh yang tidak dikerjakan kecuali dengan anggota badan bukan dengan lisan contohnya seperti ruku sujud dan amalan-amalan yang lain yang tidak dikerjakan kecuali dengan anggota badan seperti misalnya seseorang berjalan ke mesjid dengan tujuan untuk melakukan shalat, safar untuk melakukan haji safar untuk melakukan jihad fī sabilillāh, dilakukan dengan anggota badan, berarti ucapan sebagian salaf qaulu wa amalun tafsirnya adalah dengan ucapan Syaikhul Islam

قَوْلٌ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ، وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ

Sehingga tidak ada di sana ada pertentangan antara yang mengatakan qaulun wa amalun dengan sebagian salaf yang mengatakan qaulun wa amalun wa’tiqad, karena i’tiqad masuk dalam qaulun qalb, ada yang mengatakan qaulun wa amalun wa niyyah, niat masuk dalam amalu al-qalb.

Tentang amalu al-jawārih maka yang dimaksud dengan amalan disini ada dua macam, ada al-fi’lu amalan dan dia adalah dengan cara melakukan sebuah perbuatan, kemudian yang kedua adalah at-tark yaitu meninggalkan dan dua-duanya dinamakan dengan amal. Orang meninggalkan perzinahan ini termasuk amal al-jawārih, jadi amal di sini jangan dibayangkan hanya melakukan perbuatan saja rukuk sujud dan seterusnya tapi seseorang meninggalkan maka ini juga termasuk amalan yaitu amalannya meninggalkan, orang yang meninggalkan kemaksiatan maka ini adalah bagian dari iman.

Dari sini kita tahu bagaimana para salaf dahulu mereka diberikan hikmah oleh Allāh ﷻ, ucapan mereka sedikit tetapi ternyata mengandung makna yang luar biasa.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar