Halaqah 142: Pondasi Iman dan Sekte yang Menyelisihinya

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-142 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqidah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan rahimahullāh

وَأَنَّ الإيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

Dan bahwasanya Iman bertambah dengan ketaatan dan dia berkurang dengan kemaksiatan, ini termasuk pondasi aqidah ahlussunnah wal jama’ah.

Disana ada murji’ah yang mereka mengatakan bahwasanya amalan ini bukan termasuk iman, mereka berpecah pecah dan bergolong-golongan di dalam masalah mendefinisikan Iman yang jelas mereka bersatu menyelisihi ahlussunnah wal jama’ah bahwasanya amalan ini bukan termasuk iman sehingga mereka dinamakan dengan al-murji’ah dari kata al-irja’ yang artinya adalah takhir yaitu mengakhirkan amalan dari iman menyingkirkan amalan dari Iman.

Golongan-golongan al-murji’ah secara umum ada tiga golongan, golongan yang pertama mengatakan bahwasanya iman itu hanyalah apa yang ada di dalam hati (qaulu al-qalb), jadi hanya sekedar tasdiq membenarkan meyakini maka itu sudah dinamakan dengan iman, dalil mereka diantara yang paling besar adalah mereka mengambil pengertian iman dari bahasa, al-iman itu secara bahasa kata mereka membenarkan ‘engkau tidak membenarkan kami meskipun kami jujur’ sehingga kalau iman itu adalah tasdiq (membenarkan) berarti yang namanya ucapan yang namanya amalan itu bukan termasuk iman karena secara bahasa yang dimaksud dengan iman adalah tasdiq (qaulu al-qalb).

Ada sebagian mereka yang memasukkan amalul qalb, jadi qaulul qalb dengan amalul qalb dimasukkan dalam masalah iman, jadi mereka sendiri berbeda-beda, ada yang mengatakan qaulul qalb saja dan ada yang menambahkan amalul qalb, adapun ucapan lisan dan juga perbuatan lisan maka ini bukan termasuk iman menurut mereka.

Diantara yang mengatakan bahwasanya Iman hanyalah qaulul qalb (ucapan hati) saja itu adalah Jahm ibn Shafwan yang mendirikan sekte Al-Jahmiyyah dan orang-orang yang mengikuti dia mengatakan bahwasanya iman itu hanyalah qaulu al-qalb saja dan ini yang paling parah, seorang melakukan apa saja dia mau bersujud kepada selain Allāh ﷻ dia mau berdoa kepada selain Allāh ﷻ tapi kalau dia yakin tentang Allāh ﷻ membenarkan adanya Allāh ﷻ maka sudah cukup, amalan yang dia lakukan itu tidak memudharati keimanannya selama dia memiliki tasdiq maka keimanannya sama dengan keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq keimanan Umar tidak ada bedanya antara dia dengan keimanan mereka karena sama-sama memiliki tasdiq, dan menurut mereka tasdiq ini semua orang sama tidak ada tingkatan-tingkatannya.

Golongan yang kedua adalah yang mengatakan bahwasanya iman itu adalah apa yang diucapkan oleh lisan, apa yang ada dalam hati berupa tasdiq dan juga amalan hati maka ini bukan termasuk Iman, apa yang dilakukan oleh anggota badan ini juga bukan termasuk iman, dan yang memiliki aqidah seperti ini adalah al-karramiyyah pengikutnya Muhammad ibn Karram dan tidak diketahui ada seseorang yang memiliki pendapat seperti ini sebelum mereka, mereka berpandangan bahwasanya iman itu hanyalah apa yang diucapkan oleh lisan (mengucapkan syahadat) saja, berarti amalul lisan seperti tilawatul Qur’an dan doa menurut mereka itu bukan termasuk iman, iman adalah qaulul lisan saja.

Kemudian kelompok yang ketiga mengatakan bahwasanya iman adalah tasdiqul qalbi (qaulul qalb) dan qaulul lisan (ucapan lisan yaitu syahadat) dua perkara itu saja, berarti menggabungkan antara kelompok yang pertama tadi yaitu ucapan Jahm ibn Shafwan dan juga ucapan Muhammad ibn Karram, menggabungkan dua-duanya yaitu qaulul lisan dan juga qaulul qalb dan inilah yang masyhur dari yang dinamakan dengan murji’atul fuqoha, mereka meyakini keyakinan ini tapi mereka adalah fuqoha (ahli fiqih) dan mereka adalah ahli ibadah, mereka meyakini bahwasanya iman adalah qaulul qalb dan juga qaulul lisan namun mereka adalah termasuk ahli ibadah dan ini yang tidak dimiliki oleh kelompok yang pertama dan kelompok yang kedua, kelompok yang ketiga ini mereka adalah fuqoha dan mereka adalah ahli ibadah cuma mereka salah di dalam memberikan definisi iman dan mengatakan bahwasanya iman adalah tasdiqul qalb dan qaulu al-lisan.

Dan tentunya yang paling parah adalah yang pertama yaitu yang mengatakan bahwasanya Iman hanyalah ucapan yang ada di dalam hati (membenarkan) karena kelaziman dari ucapan ini parah, kelazimannya bahwasanya makhluk seperti iblis dan firaun berarti mereka ini adalah makhluk yang sempurna keimanannya, mereka membenarkan didalam hati mereka, Allāh ﷻ mengatakan tentang firaun

وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ….
[An-Naml:14]

hati mereka meyakini, berarti ada qaulul qalb disana firaun memiliki qaulul qalb, dan didalam ayat yang lain

لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ
[Al-Isra’:102]

sungguh engkau telah mengetahui wahai fir’aun, tidaklah menurunkan tanda-tanda kekuasaan tersebut kecuali Allāh ﷻ yang menciptakan langit dan juga bumi sebagai tanda-tanda yang nyata, apakah firaun sempurna keimanannya tentunya tidak, Allāh ﷻ telah mengatakan

ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ٤٦
[Ghafir]

mereka adalah termasuk yang dikabarkan oleh Allāh ﷻ masuk ke dalam neraka jahannam, kalau mereka adalah sempurna keimanannya tentunya tidak akan dimasukkan oleh Allāh ﷻ ke dalam jahannam bahkan mereka termasuk penduduk surga, ini menunjukkan rusaknya dan parahnya paham jahmiyyah.

Iblis memiliki tasdiq, dia membenarkan Allāh ﷻ mengenal Allāh ﷻ sehingga di dalam Al-Qur’an bagaimana dia mengatakan

رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي

dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ yang menciptakan dia dan menciptakan Adam dan dia meyakini bahwasanya akan ada di sana hari pembalasan makanya dia minta diundurkan sampai mereka dibangkitkan, dia meyakini hari kebangkitan dan dia tahu bahwasanya dia akan masuk ke dalam jahannam, berarti dia punya keyakinan (tasdiq), apakah dikatakan bahwasanya iblis adalah makhluk yang sempurna keimanannya tentunya tidak maka ucapan ini atau pendapat ini adalah memiliki kelaziman yang bathil dan sebuah ucapan yang memiliki konsekuensi yang bathil menunjukkan tentang kebathilan ucapan tadi.

Setelahnya yang parah adalah al-karramiyyah yang mengatakan bahwasanya iman adalah ucapan lisan karena kelazimannya orang-orang munafiq mereka adalah orang-orang yang sempurna keimanannya, orang-orang munafiq mereka mengucapkan syahadatain, Allāh ﷻ mengatakan

إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ

bersyahadat mereka didepan Nabi ﷺ, kami bersaksi bahwasanya engkau adalah Rasulullāh, apakah mereka adalah orang yang sempurna keimanannya? sepakat kita bahwasanya orang-orang munafik adalah orang-orang yang kuffar

إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ١٤٠
إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ ١٤٥
[An-Nisa’]

justru mereka berada di kerak yang paling bawah dari neraka, mereka lebih parah daripada orang-orang kafir karena orang-orang munafik lebih berbahaya tinggal di negeri Islam mengetahui rahasia-rahasia kau muslimin, kemudian yang kedua karena mereka mendengar Al-Qur’an mendengar hadits tapi ternyata itu semua tidak menjadikan mereka beriman, kalau orang-orang kafir yang asli mereka tidak sebanyak orang-orang munafik dalam mendengarkan Firman Allāh ﷻ, mungkin pernah sekali dua kali. Kemudian yang selanjutnya adalah ucapan murji’atul fuqaha yang mengatakan iman adalah keyakinan yang ada di dalam hati dan ucapan yang diucapkan oleh lisan.

Iman menurut ahlus sunnah wal jama’ah adalah qaulun wa amalun, dalil bahwasanya iman adalah ucapan dari hati seseorang diantaranya yang dibawakan oleh para ulama ahlussunnah wal jama’ah bahwasanya iman adalah keyakinan dan juga pembenaran adalah Firman Allāh ﷻ

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ
[Al-Hujurat:15]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman mereka adalah orang yang beriman kepada Allāh ﷻ Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, tidak ragu-ragu berarti dia memiliki al-yaqin ini adalah sifat orang yang beriman, ini menunjukkan bahwasanya ucapan hati adalah bagian dari iman, sifat orang yang beriman diantaranya adalah dia tidak ragu-ragu tentang keimanan dia, dia yakin dengan keimanannya. Adapun perkataan lisan dalilnya di antaranya adalah Firman Allāh ﷻ

قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٦
[Al-Baqarah]

Katakanlah kami beriman kepada Allāh ﷻ, menunjukkan bahwasanya Iman diantaranya adalah yang berupa perkataan lisan, kami beriman kepada Allāh ﷻ semakna dengan syahadat yang kita ucapkan Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh ﷻ.

Kemudian dalam hadits Nabi ﷺ mengatakan

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dan bahwasanya aku adalah Rasulullāh, sampai mereka beriman, ciri mereka beriman dan pintu masuk mereka beriman ketika mereka bersyahadat

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَني رَسُوْلُ اللهِ

ini adalah dalil qaulu al-lisan. Adapun amalan hati maka ini banyak sekali, tawakkal

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٢٣
[Al-Ma’idah]

Dan hanya kepada Allāh ﷻ hendaklah kalian bertawakkal kalau kalian adalah benar-benar orang-orang yang beriman, kemudian juga

فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٧٥
[Āli-Imran]

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا ١١٠
[Al-Kahfi]

ar-roja’, tawakkul, al-mahabbah

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ
[Al-Baqarah:165]

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ

menunjukkan bahwasanya amalan-amalan hati ini juga termasuk bagian dari keimanan.

Kemudian amalu al-lisan (amalan lisan) ini juga termasuk bagian dari keimanan, Allāh ﷻ mengatakan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا ٤١
وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا ٤٢
[Al-Ahzab]

Wahai orang-orang yang beriman lakukanlah perbuatan ini yaitu ingatlah Allāh ﷻ dengan dzikran katsiran yaitu dengan tasbih tahmid takbir dan bertasbihlah kepada Allāh ﷻ diwaktu pagi maupun diwaktu petang, menunjukkan bahwasanya amalan lisan ini adalah termasuk bagian dari iman

وَالْجَوَارِحِ

dan amalan-amalan jawārih, maka ini termasuk iman juga karena Allāh ﷻ mengatakan misalnya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱرۡكَعُواْ وَٱسۡجُدُواْۤ وَٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُواْ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ۩ ٧٧

menunjukkan diantara sifat orang yang beriman adalah rukuk dan sujud dan itu adalah termasuk amalan anggota badan, dan Allāh ﷻ mengatakan

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١
ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢
[Al-Mu’minun]

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yang di sebutkan sifat-sifatnya bagaimana ketika mereka shalat, mereka menginfakkan hartanya dan mereka

وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥

mereka menjaga kemaluan mereka dari perzinahan, dan ini adalah termasuk meninggalkan dan mereka

عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣

berpaling dari perkara-perkara yang sia-sia, mereka menjalankan amanah mereka menjaga janji mereka, ini menunjukkan tentang amalan-amalan al- jawārih sehingga ahlussunnah wal jama’ah mereka mengumpulkan itu semuanya dan mengambil kesimpulan bahwasanya iman adalah qaulun wa ‘amalun berbeda dengan murji’ah yang mereka mengeluarkan amalan dari iman.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar