Halaqah 15: Penjelasan Pokok Keempat Kitab Ushulussittah (Bagian 2)

thumbnail-cadangan
Materi HSI pada halaqah ke-14 dari halaqah silsilah ilmiyyah abdullah roy bab Kitab Ushulussittah adalah tentang penjelasan pokok keempat kitab Ushulussittah bagian 2. Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْـرًا يُـفَـقِـهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikannya dirinya faqih (memahami) agamanya.”

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada dirinya diinginkan oleh Allah menjadi orang yang beruntung.

Ciri-cirinya apa?
⇒ Allah akan menjadikan dirinya memahami agamanya.

Yang dimaksud dengan fiqih disini adalah ilmu agama dan ini menunjukkan tentang keutamaan menuntut ilmu agama.

Dijadikan dia semangat menuntut ilmu, dijadikan dia mudah untuk memahami agamanya, inilah orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sebaliknya orang yang tidak Allah kehendaki kebaikan maka dijadikan dia tidak memahami agamanya.

Dan dalil-dalil yang lain apabila kita menemukan lafadz ilmu didalam Al Qur’an maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam maka ketahuilah bahwasanya ilmu tersebut maksudnya adalah ilmu agama (bukan ilmu yang lain).

Karena sebagian, apalagi dizaman sekarang menganggap semua pengetahuan dinamakan dengan ilmu, sehingga ilmu-ilmu duniapun dianggap itu ilmu yang dimaksud didalam Al Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Padahal para ulama telah menjelaskan bahwasanya ilmu agama itulah yang dimaksud didalam Al Qur’an dan juga hadits, adapun ilmu-ilmu dunia meskipun dinamakan ilmu oleh sebagian manusia maka itu bukan yang dimaksud didalam Al Qur’an dan juga hadits.

Ilmu dunia apabila digunakan untuk kebaikan, manfaat bagi manusia maka seseorang diharapkan mendapatkan pahala, namun apabila ilmu dunia digunakan untuk mudharat (merusak) maka tentunya orang yang menyebarkannya (mengajarkannya) bukan mendapatkan pahala akan tetapi justru mendapatkan dosa.

Ini perbedaan antara ilmu agama yang dimaksud didalam Al Qur’an dan juga hadits dengan ilmu-ilmu dunia.

Dan yang dimaksud dengan ulama adalah orang yang berpegang teguh dengan Al Qur’an dan juga sunnah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan mengilmui keduanya.

Setelah kita mengetahui apa itu ilmu berarti kita mengetahui siapa itu ulama (yaitu) orang yang membawa Al Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Merekalah para ulama dan merakalah yang telah dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam Al Qur’an, bahwasanya mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena ilmu yang dia miliki, ilmu yang ada didalam Al Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.
  • Merekalah yang paling mengetahui dan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Merekalah yang paling takut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya adalah para ulama.”(QS. Fathir: 28)

Kenapa demikian?
  • Karena mereka paling mengenal apa yang ada didalam Al Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam,
  • Karena mereka mengenal siapa Allah dan apa hak nya.
  • Karena mereka mengenal siapa Rasūlullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan apa hak nya.
  • Karena mereka mengenal tentang agama Islam ini.
  • Karena mereka mengenal pondasi agama ini dan apa cabangnya, sehingga merekalah yang disifati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai hamba-hamba Nya yang sangat takut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan didalam hadits Rasūlullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Para ulama adalah pewaris para nabi”(Hadits shahih riwayat At Tirmidzi)

Ini menunjukkan bahwasanya ulama adalah orang yang mengetahui apa yang datang dari para nabi.

Apa yang datang dari mereka?

Yang datang dari mereka adalah apa yang dikatakan oleh Allah dan apa yang dikatakan oleh rasūl Nya.

Dan tugas mereka (para ulama) adalah mewarisi apa yang datang dari para nabi, (artinya) mewarisi (mengambil dari mereka) apa adanya dan menyampaikan kepada yang setelahnya.

Jadi tugas ulama bukan menambah apa yang datang dari para nabi dan bukan mengurangi apa yang datang dari nabi atau merubah-rubah maknanya. Tugas mereka (para ulama) adalah mewarisi para nabi.

Inilah yang dinamakan dengan ulama yang datang didalam Al Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Dan ini terkadang samar bagi sebagian orang, sehingga mereka tidak bisa membedakan siapa ulama dan siapa yang bukan ulama.

Karena berlalunya masa, berlalunya waktu banyaknya fitnah, banyaknya subhat sehingga sebagian saudara kita tidak bisa membedakan mana yang disebut dengan ulama dan mana yang bukan ulama.

Wallahu Ta’ala A’lam
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Ushulussittah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar