Halaqah 24: Penjelasan Kaidah Ke Tiga Kitab Al Qawa’idul Arba’ (Bagian 4)

thumbnail-cadangan
Materi HSI pada halaqah ke-24 dari halaqah silsilah ilmiyyah abdullah roy bab Kitab Qawaidul Arba adalah tentang penjelasan kaidah ketiga kitab Qawaidul Arba' bagian 4.

وَدَلِيلُ الأَشْجَارِ وَالأَحْجَارِ

Dan dalil bahwasanya di sana ada orang yang menyembah pohon demikian pula batu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

أَفَرَءَیۡتُمُ ٱللَّـٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ ۝ وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰۤ
[Surat An-Najm 19 – 20]

“Apa pendapat kalian tentang Al Latta, ‘Uzza, dan juga Manaah?”

Ini adalah tiga diantara sesembahan-sesembahan orang-orang musyrikin Quraisy.
1. Al Latta
Dahulu adalah orang yang shalih. Diantara amal shalihnya adalah memberi makan orang-orang yang sedang berhaji. Ketika dia meninggal dunia, maka diagung-agungkan oleh orang-orang musyrikin Quraisy.

2. Al ‘Uzza
Bentuknya adalah sebuah pohon yang besar, yang diagung-agungkan oleh orang-orang Quraisy.

3. Manaah
Adalah sebuah batu besar.

Menunjukkan bahwasanya di sana ada yang mengagungkan pohon dan juga batu. Ada diantara orang-orang musyrikin yang menyembah orang-orang shalih, menyembah batu, dan menyembah pohon.

وَحَدِيُث أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Dan diantara dalilnya adalah hadits Abu Waaqid Al Laitsiy radhiyallahu ‘anhu.

Beliau berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى حُنَيْنٍ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍ،

“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke arah Hunain.”

Dan ini terjadi setelah dibukanya kota Mekkah pada tahun 8 Hijriyah. Banyak diantara orang-orang musyrikin Quraisy yang mereka masuk ke dalam agama Islam. Yang sebelumnya musyrik, ketika dibuka kota Mekkah mereka masuk ke dalam agama Islam.

Setelah dibukanya kota Mekkah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju ke kota Hunain. Bersama Beliau, orang-orang Islam baik yang lama maupun yang baru. Dan di sini Abu Waaqid, dia menceritakan, ‘Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam ke arah Hunain,”

وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍ،

“Dan kami baru saja masuk ke dalam agama Islam.”

Artinya, bekas-bekas jahiliyyah (kesyirikan) sebagian masih ada di dalam diri mereka.

وَلِلِمُشْرِكِينَ سِدْرَةٌ،

“Dan orang-orang musyrikin memiliki sebuah pohon.”

يَعْكُفُونَ عِنْدَهَا وَيُنَوِّطُونَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ،

“Mereka beri’tikaf di sekitar pohon tersebut dan menaruh senjata-senjata mereka di pohon tersebut.”

Abu Waaqid menceritakan bahwasanya orang-orang musyrikin dahulu mereka memiliki sebuah pohon, yang mereka sering beri’tikaf (berdiam diri) di pohon tersebut, mengagungkan pohon tersebut selain Allah, di samping itu mereka juga menaruh senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Tujuannya adalah untuk mencari barokah,supaya senjata tersebut ketika digunakan untuk berperang, membawa barokah dan membawa kemenangan.

Dan ini menunjukkan bahwasanya perilaku seperti ini adalah termasuk perilaku orang-orang musyrikin.

Kemudian beliau mengatakan,

يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ،

“Pohon tersebut dinamakan (dikenal di kalangan orang-orang musyrikin) dengan ذَاتُ أَنْوَاطٍ

فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ

“Maka ketika kami menuju Hunain, melalui (menemui) sebuah pohon.”

فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ

“Kemudian Kami berkata, ‘Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami sebuah ذَاتُ أَنْوَاطٍ (dzaatu anwaath) sebagaimana orang-orang musyrikin memiliki dzaatu anwaath.

Mereka meminta kepada Rasulullah supaya diberikan pohon yang di situ mereka beri’tikaf dan menaruh senjata-senjata mereka di situ. Ucapan ini diucapkan oleh mereka karena mereka baru saja masuk ke dalam agama Islam.

Tentunya lain antara orang yang sudah lama masuk dan belajar agama Islam dengan orang yang baru saja masuk ke dalam agama Islam.

Oleh karena itu tidak heran apabila di sini sebagian sahabat yang baru saja masuk Islam, mereka meminta kepada Rasulullah supaya dibuatkan dzaatu anwaath.

Kemudian beliau mengatakan,

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الله أكبر

“Allah Maha Besar.”

Allah Maha Besar dari apa yang kalian ucapkan.
Kalian telah mengucap sesuatu yang besar, yaitu syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian beliau mengatakan,

إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى
اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ

“Ini adalah jalan-jalan orang-orang sebelum kalian. Kalian telah mengatakan, Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan sesuatu yang pernah dikatakan oleh Banu Israil kepada Musa ‘alaihissalam.”

Ucapan kalian ini persis dengan yang dikatakan oleh Banu Israil kepada Musa.

Apa yang mereka katakan?
Banu Israil ketika diselamatkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam dari cengekaraman Fir’aun dan tentaranya, dikeluarkan dari Mesir dan Allah menyelamatkan mereka, dari laut. Setelah menyeberang lautan, mereka mengatakan,

ٱجۡعَل لَّنَاۤ إِلَـٰهࣰا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةࣱ
[Surat Al-A’raf 138]

“Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sesembahan, sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.”

Mereka ingin memiliki sesembahan yang bisa dilihat, yang bisa mereka sentuh, sebagaimana mereka melihat ini diantara orang-orang musyrikin.

Orang-orang Banu Israil tinggal bersama orang-orang musyrikin, melihat orang-orang musyrikin menyembah sesuatu yang bisa dilihat, sehingga mereka meminta kepada Nabi Musa untuk membuatkan Tuhan yang mereka akan sembah, sebagaimana orang-orang musyrikin memiliki Tuhan.

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya ada diantara orang-orang musyrikin, yang mereka menyembah kepada pohon.

Sehingga dengan ini kita mengetahui apa yang dikatakan oleh Al Muallif (pengarang), semuanya berdasarkan dalil.

Ketika beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِينَ فِي عِبَادَاتِهِمْ

Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul dan diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di tengah-tengah manusia yang mereka berbeda-beda di dalam ibadahnya.

Kenapa hal ini beliau kemukakan kepada kita?
Supaya kita tahu bahwasanya seseorang yang menyembah orang shalih sekalipun, maka ini termasuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini termasuk kesyirikan. Karena sebagian menganggap, yang dilarang adalah apabila kita menyembah kepada berhala, batu, atau matahari. Tapi kalau kita berdo’a, menyembah kepada orang-orang yang shalih, maka ini tidak masalah.

Kita katakan, ucapan ini adalah ucapan yang tidak benar dan bertentangan dengan dalil dari Al Qur’an dan juga Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Qawa'idul Arba']
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar