Halaqah 81: Penjelasan Umum dan Pembahasan Dalil Atsar Ibnu Wadhah

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-81 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Fadhlul Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

Beliau mengatakan

بَابُ مَا جَاءَ أَنَّ اللَّهَ احْتَجَزَ التَّوْبَةَ عَلَى صَاحِبِ البِدْعَةِ

Bab apa-apa yang datang bahwasanya Allah subhanahu wata'ala menghalangi tobat dari pelaku atau orang yang melakukan bid’ah.

Beliau mengatakan

وَذَكَرَ ابْنُ وَضَّاحٍ، عَنْ أَيُّوبَ قَالَ: كَانَ عندنا رَجُلٌ يَرَى رَأْيًا فَتركهُ

Ibnu Wadhah menyebutkan di dalam kitab beliau Al-Bida wan Nahyu Anha, disebutkan oleh Ibnu Wadhah di dalam kitab ini bahwasanya dari Ayyub yaitu seorang ahli hadits

قَالَ: كَانَ عندنا رَجُلٌ يَرَى رَأْيًا فَتركهُ

Dahulu disisi kami ada seseorang yang dia memiliki sebuah رَأْي, maksud beliau يَرَى رَأْيًا maksudnya adalah dulu mengamalkan sebuah bid’ah, dia mengamalkan sebuah bid’ah dan dia memandang ini adalah perkara yang baik, رَأْيًا disini maksudnya adalah pendapat yang menyelisihi Islam.

فَتركهُ

Kemudian laki-laki tersebut meninggalkannya, artinya meninggalkan bid’ah yang pertama tadi يَرَى رَأْيًا فَتركهُ, kemudian dia meninggalkannya tidak melakukan bid’ah yang pertama tadi.

فأتيت محمد بن سيرين

Maka aku pun mendatangi Muhammad ibn Sirin

فقلت: أشعرت أن فلاناً ترك رأيه؟

Aku berkata kepada Muhammad ibn Sirin, yaitu Ayub tadi berkata kepada Muhammad ibn Sirin, ‘Apakah engkau menyadari/merasa bahwasanya si Fulan telah meninggalkan pendapatnya yang pertama (meninggalkan bid’ah yang pertama)’, ini yang dikatakan oleh Ayyub kepada Muhammad ibn Sirin, apakah engkau mengetahui bahwasanya si Fulan telah meninggalkan pendapat yang pertama yaitu meninggalkan bid’ah yang selama ini dia pandang itu adalah baik. Apa yang dikatakan oleh Muhammad ibn Sirin

قال: انظر إلى ماذا يتحول؟

Beliau mengatakan lihatlah wahai Ayyub kepada apa dia berpindah, artinya disini Muhammad ibn Sirin ketika dikabarkan oleh Ayub bahwasanya si fulan telah meninggalkan bid’ahnya yang pertama beliau tidak langsung membenarkan bahwasanya dia meninggalkan bid’ah yang pertama kemudian menuju kepada sunnah tapi Muhammad ibn Sirin mengingat hadits Nabi ﷺ yang isinya sulit bagi orang yang sudah melakukan bid’ah untuk kembali kepada sunnah, di tutup pintu taubat dan disulitkan taubat atasnya sehingga ketika dikabari si fulan telah meninggalkan pendapatnya tidak langsung Muhammad ibn Sirin membenarkan bahwasanya dia kembali kepada sunnah, meninggalkan bid’ah dan kembali kepada sunnah beliau bertanya lihatlah kepada apa dia berpindah.

إن آخر الحديث أشد عليهم من أوله.

Karena akhir hadits ini yang akan disebutkan oleh beliau ternyata dia lebih dahsyat atas mereka daripada awalnya kemudian beliau membacakan haditsnya

يمرقون من الإسلام ثم لا يعودون إليه

Mereka menjauh dari Islam kemudian mereka tidak kembali kepada Islam, dan akhirul hadits adalah

ثم لا يعودون إليه

Yang pertama mereka menjauhi Islam, menjauhi petunjuk Nabi ﷺ dan juga jalannya. Al muru’ minal islam ini adalah perkara yang besar, syadid atas mereka orang-orang ahlul bid’ah, mereka adalah meninggalkan Islam dan orang tadi yang diceritakan oleh Ayub ini adalah orang khawarij.

Di sini Muhammad ibn Sirin langsung mengingat hadits yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ, maka awal hadits menceritakan bahwasanya mereka menjauhi Islam, akhir haditsnya ini lebih dahsyat daripada yang pertama, apa lebih dahsyat, lebih dahsyatnya di sini mereka tidak akan kembali kepada Islam dan ini perkara yang besar. Seandainya mereka menjauh bisa kembali itu adalah ringan yang demikian. Tapi menjauh kemudian mereka tidak bisa kembali itu perkara yang besar makanya Muhammad ibn Sirin mengatakan

إن آخر الحديث أشد عليهم من أوله

Ucapan beliau ثم لا يعودون إليه ini perkara yang lebih besar lebih dahsyat atas mereka dari pada yang pertama karena tidak kembali kepada Islam. Kalau menjauh akhirnya kembali lebih ringan tapi ini menjauh dan tidak akan kembali maka Muhammad bin sirin memahami dari ucapan Nabi ﷺ

ثم لا يعودون إليه

Bahwasanya orang yang sudah terfitnah dengan fitnah Khawarij tadi, sulit bagi dia untuk kembali kepada jalan yang benar, antum mau ceramah antum mau dinasehati dan seterusnya semuanya sudah mabuk dengan pemikiran dia.

يمرقون من الإسلام ثم لا يعودون إليه

Kemudian mereka tidak kembali kepada Islam, sehingga benar apa yang diucapkan oleh Muhammad bin sirin انظر إلى ماذا يتحول, lihat kepada sesuatu apa dia berubah, sulit bagi dia untuk kembali kepada sunnah, biasanya berubah dari satu bid’ah ke bid’ah yang lain, meninggalkan bid’ah yang pertama kemudian dia berpindah kepada kebid’ahan yang lain adapun kembali kepada sunnah maka ini jarang diantara ahlul bid’ah yang mereka kembali kepada sunnah biasanya dari satu bid’ah ke bid’ah yang lain.

Kita lihat apa yang dibawakan oleh Ibnu Wadhah di dalam Al-Bida wan Nahyu Anha.

عَنْ أَيُّوبَ قَالَ: كَانَ رَجُلٌ يَرَى رَأْيًا فَرَجَعَ عَنْهُ، فَأَتَيْتُ مُحَمَّدًا

Ada seseorang yang dia berpendapat dengan sebuah pendapat kemudian dia kembali, yaitu kembali kepada sunnah kemudian aku mendatangi Muhammad

فَرِحًا بِذَلِكَ أُخْبِرُهُ

Karena Ayyub di sini bergembira, Alhamdulillah si fulan seorang khawarij kembali kepada sunnah maka beliau mengabarkan kepada Muhammad.

فَقُلْتُ: أَشَعَرْتَ أَنَّ فُلَانًا تَرَكَ رَأْيَهُ الَّذِي كَانَ يَرَى؟

Apakah engkau tahu bahwasanya si Fulan telah meninggalkan pendapatnya yang pertama dulu, maka Muhammad ibnu sirin mengatakan

انْظُرُوا إِلَى مَا يَتَحَوَّلُ

lihat kepada apa dia berubah

إِنَّ آخِرَ الحَدِيثِ أَشَدُّ عَلَيْهِمْ مِنْ أَوَّلِهِ: يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلَامِ لَا يَعُودُونَ فِيهِ

keluar dan menjauh dari Islam kemudian mereka tidak kembali kepada Islam.

Ada juga atsar dari Ali bin Abi Tholib

ما كان رجل على رَأْي من بِدْعَة فَتركهُ إلا إلى ما هو شر منه

Tidak ada seseorang yang dulu berada di atas sebuah bid’ah, dia memang يَرَى رَأْيًا, menganggap itu adalah perbuatan yang baik kemudian dia meninggalkannya kecuali dia meninggalkan itu kepada sesuatu yang lebih jelek daripada itu.

Abi Amr Asy-Syaibani beliau mengatakan () tidaklah seorang yang melakukan bid’ah berpindah kecuali kepada sesuatu yang lebih jelek daripada bid’ah itu sendiri.

Maka ini adalah pemahaman para salaf di dalam memahami hadis Nabi ﷺ, Allah subhanahu wata'ala menghalangi taubat dari orang yang melakukan bid’ah, ini dipahami oleh Muhammad Ibnu sirin dan kisah ini jelas menunjukkan sulitnya orang yang sudah gandrung dengan bid’ah kemudian dia kembali kepada sunnah Nabi ﷺ.

وَسُئِلَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ عَنْ مَعْنَى ذَلِكَ

Maka Al-Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang makna yang demikian, ذَلِكَ disini kembali kepada hadis Nabi ﷺ yang dijadikan oleh muallif sebagai judul. Apa makna Allah subhanahu wata'ala menghalangi taubat dari orang yang melakukan bid’ah, kata beliau

فَقَالَ: «لَا يُوَفَّقُ لِلتَّوْبَةِ».

Maksud dari dihalangi dari taubat adalah لَا يُوَفَّقُ orang tersebut tidak diberikan taufik, tidak diberikan kemudahan untuk bertobat kepada Allah subhanahu wata'ala, tapi mungkin dia bertobat tapi sulit dia untuk bertobat, karena dia sudah merasa di atas jalan yang benar tapi kalau ditanya tentang mungkin, mungkin. Baik secara dalil maupun secara kenyataan banyak orang yang sebelumnya dia melakukan bid’ah dan dia kemudian bertobat dan kembali kepada sunnah.

Tapi kalau dibandingkan antara orang yang sebelumnya di atas bid’ah kemudian mengikuti sunnah dibandingkan dengan orang-orang yang di atas bid’ah dan tidak mengikuti sunnah maka jauh lebih banyak orang yang melakukan bid’ah dan terus dia melakukan bid’ah dan tidak kembali kepada sunnah.

Mungkin ada yang bertanya ana dulu termasuk sohibul bid’ah yang lain juga mengatakan ana juga demikian, loh kok banyak ternyata yang masuk kepada sunah. Kita katakan perbandingan antum dibandingkan dengan mereka yang berada terus diatas bid’ah maka antum jauh lebih sedikit, kita jauh lebih sedikit. Makanya Alhamdulillah,

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (kebaikan) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.”

Sebenarnya sulit bagi orang yang melakukan bid’ah untuk bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala, sebagaimana dalam hadits Allah subhanahu wata'ala menghalangi tobat bagi orang yang melakukan bid’ah, kalau kita bisa terlepas dari penjara bid’ah tadi maka ini adalah keutamaan dan karunia Allah subhanahu wata'ala yang sangat besar bagi kita.

Kita bisa dilepaskan, dilapangkan dada kita untuk menerima sunnah dan meninggalkan bid’ah dengan sangat mudah dan dinampakkan oleh Allah subhanahu wata'ala tentang kejelekan bid’ah-bid’ah tadi dan kesalahannya dan dimudahkan kita untuk bertemu dengan orang orang yang mengikuti sunnah maka ini adalah fadlullah yang sangat besar yang mengharuskan kita untuk terus bersyukur kepada Allah subhanahu wata'ala dan memuji Allah subhanahu wata'ala atas nikmat hidayah ini.

Ini adalah nikmat yang mewajibkan kita untuk bersyukur maka kita harus bersyukur dan diantara caranya adalah bersungguh-sungguh dalam pertama menuntut ilmu di dalam sunnah ini kemudian yang kedua bersungguh-sungguh dalam mengamalkan Islam dan juga Sunnah ini, ini di antara bentuk rasa syukur kita kepada Allah subhanahu wata'ala karena dikeluarkan dari kungkungan bid’ah tadi, penjara bid’ah tadi kemudian dikeluarkan kita ke alam yang bebas alam yang terang benderang di bawah naungan sunnah Nabi ﷺ.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Fadhlul Islam]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar