Halaqah 125: Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud (Bagian 3 Selesai)

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-125 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Fadhlul Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

Atsar yang terakhir yang disebutkan oleh beliau didalam bab ini, dan ini adalah atsar yang terakhir dalam kitab ini yaitu atsar dari Abdullah bin Mas’ud.

Abdullah bin Mas’ud mengatakan

وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ

Kemudian beliau memberikan nasehat, karena beliau tahu ini adalah perbuatan bid’ah

وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ

Celaka kalian wahai umatnya Muhammad

مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ

Sungguh cepat kehancuran kalian, kemudian beliau menyebutkan bagaimana cepatnya

هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ

mereka para sahabatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di antara kalian mutawafirūn mereka masih banyak sekali, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa Al Asy’ari dan juga para sahabat yang lain, mutawafirūn ada di sekitar kalian yang kalian tahu bahwasanya mereka pernah bertemu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, harusnya tergerak hati kalian untuk bertanya kepada mereka karena mereka adalah orang yang paling tahu tentang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ

dan ini pakaian-pakaian beliau belum rusak, pakaian Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam belum rusak menunjukkan waktu yang sangat sebentar antara kematian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan kejadian saat itu, para sahabat belum pada meninggal mutawafirūn masih banyak, berarti jarak antara kejadian tadi dengan meninggalnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah jarak yang sebentar

وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ

dan bejana bejana beliau, gelas beliau atau yang digunakan untuk masak belum pecah, masih pada utuh, ini menunjukkan tentang masih pendeknya jarak antara kematian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan kejadian saat itu, kok sudah terjadi bid’ah, ini sangat keterlaluan

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ

Kemudian beliau memberikan nasehat kepada mereka, dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya

إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ

Ini adalah dakwah beliau ingin mengingatkan mereka, dan lihat bagaimana pemahaman Abdullah bin Mas’ud dan bagaimana beliau membuat kata-kata yang tidak akan bisa mereka menjawabnya, seandainya mereka berusaha menjawabnya pasti di sana ada jawaban yang lain dari Abdullah bin Mas’ud yang intinya bahwasanya mereka salah, dan yang seperti ini adalah hibah dari Allah subhanahu wata'ala, membuat sebuah pertanyaan dan konsekuensi dari dua pertanyaan ini baik jawaban yang pertama maupun jawaban yang kedua menunjukkan tentang kesalahan dia

إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kalian ini berada di sebuah cara sebuah millah yang lebih benar, lebih mendapatkan petunjuk daripada millahnya Muhammad, itu pilihan yang pertama, karena yang kalian lakukan ini belum pernah kami lihat, yaitu kami para sahabat belum pernah melihat ini dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sekarang kami mengikuti Beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Apakah kalian ini di atas cara yang lebih baik daripada caranya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, itu yang pertama, atau yang kedua

مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ

atau kalian ini sedang membuka pintu kesesatan, disuruh memilih antara dua ini, atau sedang membuka pintu kesesatan, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apa yang belia bawa ini adalah petunjuk bagi manusia, kalau mereka menjawab jawaban yang pertama tidak mungkin, kalau sampai mereka mengatakan iya petunjuk kami lebih baik daripada petunjuknya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam maka tidak mungkin itu diucapkan oleh mereka. Berarti tidak tersisa kecuali pilihan yang kedua dan ini tidak mungkin mereka mengucapkan juga, akhirnya mereka tidak bisa mengucapkan kecuali mengatakan, kan niat kami baik

قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ! مَا أَرَدْنَا إِلَّا الخَيْرَ

Akhirnya mengatakan demi Allah subhanahu wata'ala wahai Abu Abdurrahman niat kami baik, tidaklah kami menginginkan kecuali kebaikan saja, itu saja yang kita inginkan, kita hanya ingin menunjukkan cinta kami kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kami ingin memperbanyak dzikir kepada Allah subhanahu wata'ala, kan niat kami baik, tidak mungkin mereka menjawab salah satu diantara pilihan tadi, apa yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud dengan pemahaman beliau

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Dan berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, dia tidak mendapatkan kebaikan, kita masing-masing punya keinginan tapi tidak semua keinginan baik yang kita inginkan kita dapatkan. Ada orang ingin mendapatkan jabatan tertentu, dia ingin, punya keinginan tapi belum tentu dia kesampaian, ada orang ingin menjadi ulama tapi belum tentu dia kesampaian, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi dia tidak mendapatkan kebaikan tersebut, ini kalimat yang mereka pun juga memahami, iya betul tidak semua orang yang menginginkan sesuatu kemudian dia mendapatkan sesuatu tersebut, berarti kaidah ini ingin beliau sampaikan kepada mereka, kalian menginginkan kebaikan tapi kalian tidak mendapatkan kebaikan tersebut, kalian ingin mendapatkan pahala tapi kalian tidak mendapatkan pahala tersebut, karena cara yang kalian lakukan tidak sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Ini adalah kata-kata yang sangat halus dari Abdullah bin Mas’ud, dengan kata-kata ini orang yang berakal maka dia akan memahami, dan ini menunjukkan bahwasanya niat yang baik itu tidak cukup, sebagaimana telah berlalu

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Ada a’malnya, tidak cukup dengan hanya memiliki niat yang baik saja, Allah subhanahu wata'ala melihat niat yang baik dan juga dzhahirnya

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا: أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ القُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ

Di saat itu beliau ingat apa yang pernah diceritakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pernah cerita kepada kami bahwasanya ada sebuah kaum, yaitu kelak akan datang sebuah kaum yang mereka membaca Al-Quran dan tidak sampai bacaan Quran tadi ke tenggorokan mereka, sudah kita sebutkan hadit- haditsnya.

Abdullah bin Masud dan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara umum, kalau Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan sesuatu yakin bahwasanya itu akan terjadi, mereka ingat-ingat terus, pas kejadian ini mereka langsung ingat apa yang mereka dengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, jangan-jangan ini, jangan-jangan yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam itu adalah ini, orang yang membaca Al-Quran tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka, yaitu tidak dipahami dengan hatinya tapi mereka hanya memperbanyak tilawahnya secara lisannya saja

، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي

Demi Allah subhanahu wata'ala aku tidak tahu, karena beliau tidak bisa meyakinkan yang demikian, mungkin sebagian besar dari mereka adalah dari kalian, yaitu sebagian besar yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tadi, membaca Al-Quran tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka, itu adalah dari kalian. Ini adalah firasat dari Abdullah bin Mas’ud, beliau juga tidak menjazm, beliau tidak memastikan, beliau mengatakan la adri aku tidak tahu mungkin sebagian besar dari mereka adalah dari kalian, karena beliau melihat, ini ada Abdullah bin Mas’ud, ada Abu Musa Al Asy’ari dan ada para sahabat yang lain kok berani-beraninya melakukan bid’ah, melakukan amalan yang tidak pernah di lakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ

Kemudian Abdullah bin Mas’ud meninggalkan mereka, beliau hanya sebagai seorang ulama kewajiban beliau hanya sekedar menyampaikan adapun menta’zir, menghukum maka ini adalah haknya Abu Musa Al Asy’ari, kalau memang beliau mau menta’zir.

ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ

Akhirnya beliau meninggalkan mereka

فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ

Berkata ‘Amr ibn Salamah, ini adalah yang mengikuti kejadian tadi, muridnya dari Abdullah bin Mas’ud

رَأَيْت عَامَّةَ أُولَئِكَ الحِلَقِ

Aku melihat seluruhnya orang-orang yang menghadiri majelis tadi, yang menghadiri halaqah-halaqah tadi menunjukkan ‘Amr ibn Salamah beliu juga mungkin orang kufah, sehingga beliau juga mengenal orang-orang tadi, mungkin ada diantara mereka yang tetangganya atau yang pernah membeli di sana dan seterusnya, beliau melihat siapa-siapa yang datang saat itu, beliau menceritakan aku melihat semua mereka ini ternyata mereka ini

يُطَاعِنُونَا

ternyata mereka memerangi kami dengan senjata mereka, melukai kami berusaha untuk membunuh kami

يَوْمَ النَّهْرَوَانِ

di hari nahrawan, ini adalah peperangan besar antara Ali bin Abi Thalib dengan orang-orang khawarij, itu dinamakan dengan nahrawan

مَعَ الخَوَارِج

ternyata mereka memerangi kami bersama orang-orang khawarij, adapun ‘Amr ibn Salamah maka beliau bersama Ali bin Abi Tholib dan juga tentaranya memerangi orang-orang khawarij tadi.

Dari sini diambil pelajaran, ternyata bid’ah yang kecil awalnya hanya sekedar bid’ah amaliah, lama-kelamaan, apa lagi di situ keadaan seperti yang tadi kita sebutkan belum lama, para sahabat masih banyak dan mereka tidak mau bertanya menunjukkan tentang khubutsnya mereka, buruknya hati mereka, betapa parahnya penyakit yang ada di dalam hati mereka, tidak ada penghormatan terhadap para sahabat, akhirnya terus mereka melakukan bid’ah amaliah tadi sampai akhirnya membawa mereka kepada bid’ah I’tiqadiah, bersama orang-orang khawarij mengkafirkan Ali bin Abi Tholib.

Awalnya meremehkan sahabat, akhirnya mengkafirkan seorang sahabat dan mengkafirkan orang-orang yang bersama Ali bin Abi Tholib, sehingga mereka bersama orang-orang khawarij, dan ini menunjukkan dari bid’ah yang kecil tadi akhirnya menghalalkan darah orang lain. Dan demikian syaithan, diajak untuk melakukan bid’ah lama-kelamaan di berikan wahyu diberikan was-was, bahwasanya orang yang tidak melakukan seperti yang anda melakukan berarti dia keluar dari agama Islam, kalau dia keluar dari agama Islam maka halal darahnya.

Dan demikian ahlul bid’ah awalnya adalah dari bid’ah yang kecil kemudian merembet dan berkembang menjadi bid’ah yang yang besar. Ini tentunya tahdzir dari bid’ah itu sendiri, jangan kita meremehkan, ah kan cuma mengikuti tahlilan saja tidak masalah, kan cuma menghadiri maulid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saja, tidak bisa kita meremehkan yang demikian, dari bid’ah yang kecil itulah dikawatirkan nanti akan berkembang menjadi bid’ah yang besar.

Disini beliau mengatakan Wallahu a’lam bishshawab shallallahu ala muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam tasliman katsiran ila yaumiddīn, dan Allah-lah yang lebih mengetahui tentang kebenaran dan semoga shalawat atas Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, keluarganya dan para sahabatnya dan juga keselamatan dengan keselamatan yang banyak sampai hari kiamat.

Dengan demikian kita menyelesaikan kitab yang sangat bermanfaat ini yaitu Fadhlul Islam, semoga Allah subhanahu wata'ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan membalas Mu’allif Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dengan balasan yang lebih baik. Wallahu ta’ala a’lam.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy Bab Kitab Fadhul Islam]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar