Halaqah 18: Nama-Nama Allah Subhanahu wata'ala yang Nafiyyah dan Mutsbittah & Sifat-Sifat Allah Subhanahu wata'ala yang Manfiyyah dan Mutsbattah yang Ada Dalam QS Al- Ikhlas (Bagian 2)

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Allah subhanahu wata’ala mengatakan

اللَّهُ الصَّمَد

Allah subhanahu wata’ala, kembali di sini di sebutkan nama Allah subhanahu wata’ala Lafdzul Jalalah yang mengandung sifat Al-Uluhiyah, Ash-Shomad ini adalah penetapan nama diantara nama-nama Allah subhanahu wata’ala. Di sana ada beberapa makna yang disebutkan oleh para ulama tentang makna Ash-Shomad, ada yang mengatakan bahwasanya Ash-Shomad di sini adalah Dzat yang menjadi tempat tumpuan yang lain di dalam hajat-hajat mereka, dan Allah subhanahu wata’ala Dia-lah Ash-Shomad, yaitu makhluk-makhluk-Nya mereka di dalam menunaikan hajat-hajat mereka kembalinya kepada Allah subhanahu wata’ala. Kenapa kembalinya kepada Allah subhanahu wata’ala, karena Allah subhanahu wata’ala Dia-lah yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan.

Dalam keadaan sakit mereka kembali kepada Allah subhanahu wata’ala karena Allah subhanahu wata’ala Dia-lah yang memberikan penyembuhan, dalam keadaan mereka fakir kembali kepada Allah subhanahu wata’ala karena Allah subhanahu wata’ala Dia-lah yang Maha Kaya, dalam keadaan mereka menuntut ilmu kembali kepada Allah subhanahu wata’ala karena Allah subhanahu wata’ala Dia-lah yang memiliki ilmu yang sangat luas, yang memberikan ilmu, ketika mereka butuh ampunan kembali kepada Allah subhanahu wata’ala karena Dia-lah yang bisa mengampuni. Seluruh makhluk kembali kepada Allah subhanahu wata’ala untuk bisa menunaikan hajat-hajat mereka. Berarti disini kita memahami bahwasanya ketika kita menetapkan nama Allah subhanahu wata’ala Ash-Shomad berarti ada kandungan menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allah subhanahu wata’ala.

Di sana ada tafsir dari Abdullah bin Abbas Radiallahu Ta’ala Anhu, turjumanul Qur’an ketika beliau menafsirkan nama Allah subhanahu wata’ala Ash-Shomad ini. Abdullah Bin Abbas mengatakan

السيد الذي قد كمل في شؤدده

Apa yang dimaksud dengan Ash-Shomad, kata beliau Dia adalah As-Sayyid, Dia-lah yang terkemuka yang paling depan, Dia adalah Tuan yang telah sempurna di dalam شؤدده (pertuanannya) artinya adalah dia adalah Tuan yang paling sempurna

والشريف الذي قد كمل في شرفه

Dan Dia adalah yang paling mulia yang sempurna kemuliaannya

والعظيم الذي قد كمل في عظمته

Dan yang Maha Besar yang sempurna di dalam kebesarannya

والحليم الذي قد كمل في حلمه

Dan Dia adalah Dzat yang Halim (Pemurah) yang telah sempurna didalam حلمه

والغني الذي قد کمل في غناه

Dan Dia adalah yang Maha Kaya yang telah sempurna kekayaannya dan seterusnya.

Ash-Shomad di sini ketika kita menetapkan Ash-Shomad bagi Allah subhanahu wata’ala dan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala Dia-lah Dzat yang kembali kepada-Nya makhluk didalam menunaikan hajat- hajat mereka, kita telah menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allah subhanahu wata’ala didalam Ash-Shomad. Berarti disini ada Itsbat, kita menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allah subhanahu wata’ala, seluruh sifat-sifat yang jelek, yang buruk, dinafikan dari Allah subhanahu wata’ala dan seluruh sifat yang sempurna kita tetapkan untuk Allah subhanahu wata’ala, mMaka Ash-Shomad ini adalah Al-Asma Al-Mutsbitah.

Sampai disini kita memahami bahwasanya surat Al-Ikhlas ini mengandung nafi dan juga Itsbat, ada nama yang mutsbitah ada nama yang nafiyah.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Allah subhanahu wata’ala tidak melahirkan, yaitu Allah subhanahu wata’ala tidak memiliki anak, bantahan kepada orang-orang musyrikin dan juga ahlul kitab yang mereka menishbahkan anak kepada Allah subhanahu wata’ala, orang yahud mengatakan uzair ibnullah, orang nasaroh mengatakan al-masih ibnullah, orang-orang musyrikin mengatakan mala’ikah banatullah, Allah subhanahu wata’ala adalah Dzat yang tidak melahirkan dan ini adalah perincian dari yang sebelumnya.

Allah subhanahu wata’ala Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang semisal dengan Allah subhanahu wata’ala, karena ketika melahirkan berarti yang namanya anak itu semisal dengan asalnya. Maka ini adalah diantara penjelasan dari, yang pertama adalah Allah subhanahu wata’ala itu adalah Ahad dan bisa juga dia adalah penjelasan dari Allahush Shomad juga karena Allahush Shomad, Allah subhanahu wata’ala Dia-lah yang makhluk kembali kepadanya dalam berbagai urusan dan juga hajat mereka. Allah subhanahu wata’ala tidak butuh dengan makhluk tapi makhluk yang butuh kepada Allah subhanahu wata’ala, makhluk yang memiliki hajat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Kemudian

لَمْ يَلِدْ

Allah subhanahu wata’ala tidak melahirkan karena ketika seandainya Allah subhanahu wata’ala melahirkan berarti Allah subhanahu wata’ala butuh kepada anak tersebut, padahal Allah subhanahu wata’ala Dia-lah Ash-Shomad, makhluk yang butuh kepada Allah subhanahu wata’ala bukan Allah subhanahu wata’ala yang butuh kepada makhluk. Ketika seorang ayah dan seorang ibu ingin memiliki anak, dia merasa butuh dengan anak yang akan akan mewarisi dia yang akan membantu dia dan seterusnya. Allah subhanahu wata’ala Dia tidak melahirkan, Dia tidak butuh, Dia-lah yang Maha Kaya, Dia tidak membutuhkan anak.

Demikian pula firman Allah subhanahu wata’ala

وَلَمْ يُولَد

Dan Allah subhanahu wata’ala Dia tidak dilahirkan, ini juga menjelaskan Allahu Ahad Allahush Shomad. Allah subhanahu wata’ala tidak dilahirkan, Dia bukan seorang anak yang dilahirkan oleh ibunya karena kalau di sana ada orang tua bagi Allah subhanahu wata’ala maka berarti ada yang serupa dengan Allah subhanahu wata’ala padahal Allah subhanahu wata’ala Dia-lah yang Ahad, dan kalau Allah subhanahu wata’ala memiliki orang tua berarti dia butuh kepada yang lain padahal Allah subhanahu wata’ala Dia-lah Ash-Shomad. Diperinci oleh Allah subhanahu wata’ala di sini dan asalnya yang namanya nafyi dalam Al-Qur’an adalah penafian yang global bukan penafian yang terperinci, tapi di sini diperinci oleh Allah subhanahu wata’ala untuk membantah sebagian munharifin, orang-orang yang menyimpang yang mereka meyakini bahwasanya Allah subhanahu wata’ala memiliki anak.

Berarti ini nafyi, ini adalah sifat yang manfiyyah. Allah subhanahu wata’ala tidak memiliki anak, Allah subhanahu wata’ala tidak beranak dan Allah subhanahu wata’ala tidak dilahirkan. Berarti di sini ada sifat yang manfiyyah, dan ini juga kaidah yang harus kita pahami bahwa ketika Allah subhanahu wata’ala menafikan dari diri-Nya sebuah sifat maka konsekuensinya kita harus menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat yang di nafikan tadi. Disini Allah subhanahu wata’ala menafikan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala memiliki anak atau Allah subhanahu wata’ala melahirkan dan Allah subhanahu wata’ala juga menafikan dari diri-Nya bahwasanya Allah subhanahu wata’ala memiliki orang tua.

Berarti di sini yang perlu kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari keduanya, yaitu kita tetapkan kesempurnaan ke Esaan Allah subhanahu wata’ala, menetapkan Ahadiyah Allah subhanahu wata’ala. Ini kaidah yang harus kita pahami kalau Allah subhanahu wata’ala menafikan sebuah sifat dari diri-Nya kita harus menetapkan kesempurnaan sifat yang kebalikan dari sifat yang dinafikan tadi. Ketika Allah subhanahu wata’ala menafikan dari diri-Nya anak dan juga orang tua berarti kita tetapkan kesempurnaan keesaan Allah subhanahu wata’ala, berarti di sini ada sifat manfiyah didalam surat Al-Ikhlas ini.

Demikian pula ini

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Sifat kesempurnaan yang bisa kita tetapakan di sini adalah sifat ghina yaitu bahwasanya Allah subhanahu wata’ala tidak butuh dengan yang lain. Tadi kita sebutkan, yang melahirkan dan dilahirkan itu berarti butuh dia kepada yang lain, ketika dinafikan berarti kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat tadi, selain kesempurnaan sifat ke-Esaan, yaitu kesempurnaan ke-Esaan Allah subhanahu wata’ala, juga menunjukkan kesempurnaan tidak butuhnya Allah subhanahu wata’ala dengan yang lain, kesempurnaan kekayaan Allah subhanahu wata’ala.

Kemudian Allah subhanahu wata’ala mengatakan

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang menjadi kufuwan lahu yaitu bagi Allah subhanahu wata’ala. Kunfuan artinya adalah musawiyah, yang sama serupa dengan Allah subhanahu wata’ala, tidak ada. Berarti Allah subhanahu wata’ala di sini menafikan adanya sesuatu yang serupa dengan Allah subhanahu wata’ala. Kalau ayat sebelumnya dinafikan anak dan anak adalah cabang, kemudian Allah subhanahu wata’ala menafikan orang tua dan orang tua adalah asalnya, baik cabang maupun asalnya dinafikan oleh Allah subhanahu wata’ala, demikian pula yang sebanding ini juga dinafikan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Maka di sini ada nafyul kufu, disini Allah subhanahu wata’ala menafikan al-kufu yaitu yang serupa dengan Allah subhanahu wata’ala maka konsekuensinya kita tetapkan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala Dia-lah yang Maha Sempurna dalam ke-Esaan-Nya dan Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang serupa dengan Allah subhanahu wata’ala baik didalam sifat-Nya, dalam Dzat-Nya, dalam apa yang Dia lakukan.

Berarti jelas di dalam surat Al-Ikhlas ini Allah subhanahu wata’ala menyebutkan an-nafyu dan juga itsbat, ada nama-nama yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan dia mengandung sifat, ada nama yang nafia karena di dalamnya ada kandungan makna menafikan dari Allah subhanahu wata’ala sesuatu yang semisal dengan Allah subhanahu wata’ala, baik nama baik sifat maupun dzat-Nya.

Jadi kalau kita ulang lagi di dalam surat Al-Ikhlas ini nama-nama yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala, Lafdzul Jalalah, kemudian nama Al-Ahad, kemudian Ash-Shomad, tiga nama. Kemudian di sini ada sifat yang Allah subhanahu wata’ala tetapkan (mutsbatah), Lafdzul Jalalah mengandung sifat-sifat Uluhiyah, kemudian Al-Ahad, sifat Al-Ahadiyah ini terkandung dalam nama Allah subhanahu wata’ala Ahad, ada lagi dalam Ash-Shomad sifat Ash-Shomadiyyah yaitu sifat bahwasanya Allah subhanahu wata’ala Dia-lah yang dibutuhkan oleh makhluk dalam hajat-hajat mereka ini namanya sifat Ash-Shomadiyyah, sifat Al-Ahadiyah yaitu sifat ke-Esaan. لَمْ يَلِدْ itu sifat manfiyah tersendiri, لَمْ يُولَد itu sifat manfiyah tersendiri.

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Berarti Allah subhanahu wata’ala menafikan dari diri-Nya anak, menafikan dari diri-Nya orang tua dan menafikan dari diri-Nya sesuatu yang setara atau sesuatu yang sama dengan Allah subhanahu wata’ala. Itulah nama dan juga sifat yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al-Ikhlas.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar