Halaqah 50: Penjelasan Beberapa Ayat yang Menunjukkan Sifat Datang Bagi Allah (Bagian 2) (QS Al An’am 158, QS Al Fajr 21-22, & QS Al Furqon 25)

thumbnail-cadangan
Halaqah yang ke-50 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala memiliki sifatul Maji’ wal Ityan, artinya adalah sifat datang bagi Allah subhanahu wata'ala. Diantara ayat yang beliau datangkan disini adalah firman Allah subhanahu wata'ala

هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن تَأْتِيهُمُ الْمَلآئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ

Tidaklah mereka menunggu kecuali akan datang kepada mereka malaikat, sekali lagi ini orang-orang kuffar yang mereka mendustakan para Rasul, yang kufur tidaklah mereka menunggu kecuali nanti akan datang malaikat, yaitu malaikatul maut, malaikat Al-maut yang akan mencabut nyawa mereka

أَوْ يَأْتِيَ رَبُّك

Atau datang Allah subhanahu wata'ala, disini syahidnya, yaitu datang Allah subhanahu wata'ala di masyhar yaitu tempat pengumpulan mereka

أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّك

Atau datang kepada mereka sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah subhanahu wata'ala.

Jadi di sini di sebutkan tiga, datang malaikat dan ini adalah perkara yang mengerikan juga, malaikatul maut ketika akan mencabut nyawa orang yang kafir apakah sama dengan ketika dia mencabut nyawa orang yang beriman, beda. Ketika mereka mencabut nyawa orang kafir maka dengan adzab, di bawakan kain kafan dari neraka, dicabut nyawa mereka dengan adzab, dengan susah seperti mencabut bulu yang ada di kulit sehingga mereka merasakan pedihnya ketika nyawa mereka dicabut, mereka tidaklah menunggu kecuali datangnya malaikatul maut tersebut atau datang Allah subhanahu wata'ala di hari kiamat untuk menghisab mereka, ini juga lebih pedih lagi atau tidaklah mereka menunggu kecuali datangnya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah subhanahu wata'ala

يَوۡمَ يَأۡتِي بَعۡضُ ءَايَٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفۡسًا إِيمَٰنُهَا
[Surat Al-An’am Ayat 158]

Hari di mana datang sebagian tanda kekuasaan Allah subhanahu wata'ala tidak akan bermanfaat sebuah jiwa keimanan mereka, seandainya dia melihat tanda kekuasaan tadi maka kemudian dia beriman maka tidak akan bermanfaat. Disebutkan di dalam hadits bahwasanya yang dimaksud dengan tanda kekuasaan tadi adalah terbitnya matahari dari arah tenggelamnya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنَ الْمَغْرِبِ

Tidak akan datang hari kiamat sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya

فَإِذَا طَلَعَتْ فَرَآهَا النَّـاسُ آمَنُوا أَجْمَعُوْنَ
لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا.

Ketika dia terbit dari arah tenggelamnya, biasanya dia dari timur kemudian ke arah barat kemudian ketika akan terbit dia minta izin dulu kepada Allah subhanahu wata'ala tapi saat itu oleh Allah subhanahu wata'ala disuruh kembali, disuruh kembali dari arah tenggelam dia, manusia menunggu ini ke mana matahari tidak muncul-muncul, biasanya jam sekian dia sudah terbit ini tidak keluar, tiba-tiba muncul dari arah barat, jadi ini adalah perkara yang besar, selama ini manusia selama ribuan tahun matahari terus terbit dari timur, ini terbit dari barat maka menggoncangkan manusia mereka beriman semuanya.

فَذَلِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا

Itu adalah waktu dimana sudah tidak bermanfaat iman seseorang, kalau sebelum terbitnya matahari dari arah tenggelamnya tadi mereka tidak beriman, setelah terbit dari arah tenggelamnya dia beriman, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala

لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ

yang dia sebelumnya tidak beriman

أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا
[Al-An’aam: 158]

atau orang yang ketika sebelumnya dia sudah beriman, kalau sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya dia sudah beriman, setelah terbit dari arah tenggelamnya dia baru beramal sholeh, sebelumnya dia orang-orang beriman tapi belum beramal sholeh, ketika sudah terbit dari arah tenggelamnya dia baru beramal sholeh maka ini juga tidak akan bermanfaat, tidak akan di terima oleh Allah subhanahu wata'ala karena baru tahu sekarang, baru beriman setelah dia melihat maka ini tidak bermanfaat bagi orang tersebut. Yang mereka tunggu yaitu orang-orang kuffar adalah seperti ini, kalau mereka beriman ketika datang tanda kekuasaan tadi maka tidak akan lagi bermanfaat bagi mereka

كَلاَّ إِذَا دُكَّتِ الأَرْضُ دَكًّا دَكًّا وَجَاء رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

Sekali-kali tidak apabila bumi diguncangkan dengan segoncang-goncangnya, دُكَّتِ artinya adalah zulzilat, yaitu digoncangkan digempakan oleh Allah subhanahu wata'ala dengan دَكًّا دَكًّا yaitu dengan segoncang-goncangnya, dan ini menunjukkan bahwasanya keguncangan saat itu berulang kali, diguncangkan oleh Allah subhanahu wata'ala berulang kali bukan hanya sekali, dan lebih besar dan lebih dahsyat dari gempa yang pernah dirasakan oleh seseorang atau manusia di dunia, karena diguncangkan sebenar-benarnya oleh Allah subhanahu wata'ala sebagaimana dalam ayat yang lain

إِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا

Kalau di sini

إِذَا دُكَّتِ الأَرْضُ دَكًّا دَكًّا

guncangan yang sangat, kemungkinan ini adalah perkara yang sangat menakutkan, kemudian

وَجَاء رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

Dan akan datang Robb mu, yaitu ke Padang Mahsyar dengan maji’ atau datang yang sesuai dengan keagungan Allah subhanahu wata'ala, dan Al-Maji’ itu maknanya hampir sama dengan Al-Ityan, dan para ulama ketika mereka menjelaskan tentang sifat datang maka mereka seperti menyamakan antara sifat Al-Ityan dengan Al-Maji’, sehingga seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Aqidah Wasitiyah ini menggabungkan jadi satu, sifat Al-Ityan dan juga Al- Maji’, jadi ini adalah dua kata yang hampir sama satu dengan yang lain meskipun ada sebagian yang mereka membedakan, tentunya secara bahasa ada yang membedakan, ada yang mengatakan bahwasanya Al-Ityan ini adalah datang dengan cara yang mudah tapi kalau Al-Maji’ ini umum.

Dan dalam Al-Quran Allah subhanahu wata'ala banyak seperti menyamakan antara kalimat ataa dengan jaa’a, Allah subhanahu wata'ala mengatakan dalam Al-Quran ataa amrullah, dalam ayat yang lain jaa’a amrullah, sebagian ayat Allah subhanahu wata'ala mengatakan ataahum nasruna, dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata'ala mengatakan jaa’ahum nasruna, jadi hampir sama antara Al-Ityan dengan Al-Maji’. Sehingga dalil tentang Al-Ityan yaitu kedatangan Allah subhanahu wata'ala dan juga dalil tentang Al-Maji’ ini di jadikan satu menunjukkan juga tentang sifat datang bagi Allah subhanahu wata'ala yaitu Al-Maji’ dan juga Al-Ityan.

Kemudian di sana ada hadits yang menunjukkan tentang samanya dua makna ini, di dalam sebuah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan (ini hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim)

إذا تلقاني عبدي بشبر تلقيته بذراع وإذا تلقاني بذراع تلقيته بباع وإذا تلقاني بباع جئته أتيته بأسرع

Apabila hamba-Ku mendatangi-Ku dengan شبر yaitu satu jengkal, تلقيته بذراع maka Aku akan menyambutnya dengan satu hasta, kalau dia datang kepada-Ku dengan satu hasta maka Aku pun akan menyambutnya dengan satu باع, yaitu lebih dekat lagi, dan kalau dia menyambut-Ku atau mendatangi-Ku dengan satu ba’,

جئته أتيته بأسرع

Aku akan mendatanginya dengan lebih cepat. Disini disebutkan جئته أتيته dan sebagian seperti Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah menerangkan bahwasanya ini adalah penguatan karena maknanya sama, ja’a dengan itiyan ini maknanya sama, ketika Allah subhanahu wata'ala mengatakan

جئته أتيته

Aku mendatangi dia Aku mendatangi dia, berarti menunjukkan taukid, menguatkan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala lebih dekat dan lebih cepat, maka tidak ada isykal disini dan apa yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disini menunjukkan bahwasanya makna antara Al-Ityan dengan Al-Maji’ ini adalah hampir sama yaitu datang. Kemudian

وَالْمَلَكُ

Dan malaikat, dan Al-Malak disini adalah lil jins (yaitu jenis), jadi maksudnya bukan satu malaikat tapi jenis malaikat, semua malaikat mereka datang saat itu

صَفًّا صَفًّا

Mereka bershaf-shaf, ada yang mengatakan bahwasanya malaikat pada langit yang pertama ini berada di shaf yang pertama, kemudian malaikat yang di langit yang kedua di shaf yang kedua mengitari manusia dan jin yang dikumpulkan oleh Allah subhanahu wata'ala di padang mahsyar, Allahua’lam ada yang mengatakan demikian.

Kemudian ayat yang terakhir di sini adalah

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاء بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنزِيلاً

Dan di hari dimana langit akan terpecah, تَشَقَّق artinya adalah tanfathir yaitu terpecah, terbelah, بِالْغَمَامِ dengan ghomam, ghomam adalah awan yang putih tadi. Ketika Allah subhanahu wata'ala turun maka diantara pemandangan yang terjadi saat itu adalah terbelahnya langit, kemudian terbelah dengan awan yang putih.

وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ

Dan turun para malaikat

تَنزِيلاً

Dengan sebenar-benar turun, mereka akan turun dan akhirnya mereka bershaf-shaf sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Fajr.

Jadi ayat ini sebenarnya tidak berkaitan dengan sifat Allah subhanahu wata'ala cuma dia adalah keladziman dari sifat Allah subhanahu wata'ala Al-Maji’, jadi kalau kita lihat tidak ada di situ penyebutan Al-Maji’ atau Al-Ityan, di situ hanya disebutkan apa yang terjadi saat itu, yaitu terbelahnya langit dan terbelah dengan awan dan turunnya malaikat dengan sebenar-benar turun sebagaimana ini disebutkan dalam ayat yang lain yaitu Firman Allah subhanahu wata'ala dalam surat Al-Baqarah

هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ

Ini jelas disebutkan tentang turunnya Allah subhanahu wata'ala

وَالْمَلآئِكَةُ

Dan datangnya malaikat. Di sini juga disebutkan turunnya malaikat, cuma tidak disebutkan di sini sifat Allah subhanahu wata'ala Al-Maji’ atau Al-Ityan, didatangkan oleh muallif di sini karena ada yang mengatakan ini adalah keladziman dari turunnya atau datangnya Allah subhanahu wata'ala.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar