Halaqah 65: Siapa yang Tidak Menghindari Penafian dan Tasybih Maka akan Tergelincir
Halaqah yang ke-65 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang siapa yang menghindari penafian dan tasybih maka akan tergelincir.
Beliau mengatakan rahimahullah,
Dan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari menafikan dan juga menyerupakan maka dia akan tergelincir.
Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari 2 perkara ini maka dia akan tergelincir apa yang pertama?
√ menjaga diri dari menafikan, yaitu menta’til datang dalil yang berisi tentang sifat Allah kemudian dia mengingkari dan sudah berlalu bahwasanya ta’til disini bisa ta’til kulliun (seluruhnya dia ta’til) baik nama maupun sifat Allah, atau terkadang namanya ditetapkan tapi dia ingkari sifat Allah atau terkadang nama dia ditetapkan sebagian sifat dia tetapkan, tapi sebagian sifat yang lain dia ta’til/ingkari, maka ini juga masuk An-Nafia, ada ta’tilunkuliun ada ta’tilunjuziun dan ini semuanya bertentangan dengan Firman Allah azza wa jalla
Wahai orang² yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah dan juga RasulNya.
Al imam Syafi’i mengatakan,
Demikian seharusnya seorang muslim bukan malah menafi yaitu mengingkari, menta’til.
Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya nafia maka dia akan zalla maka dia akan tergelincir masuk kedalam ta’til, masuk golongan muatillah, padahal Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih tahu tentang DiriNya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dialah yang lebih tahu tentang diri Allah daripada kita bagaimana seseorang berani menafikan apa yang ditetapkan oleh Allah dan juga RasulNya
Dan Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari tasbih yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk maka dia juga tergelincir, karena ini bertentangan dengan firman Allah
Tidak ada yang menyerupakan Allah sesuatu apapun, kalau dia menyerupakan Allah berarti dia bertentangan dengan ayat ini dan juga firman Allah,
Firman Allah
Dan ayat² yang lain, ayat² tasbih yang isinya adalah mensucikan Allah dari seluruh kekurangan dan tasbih yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk ini adalah mensifati Allah dengan sifat kekurangan, karena makhluk tempat kekurangan, kalau kita mensifati atau menyerupakan Allah dengan makhluk berarti kita mensifati Allah dengan sifat kekurangan, ini adalah penghinaan terhadap Allah sehingga beliau mengatakan -زَلَّ- dia akan tergelincir baik yang mengingkari maupun orang yang menyerupakan, baik ta’til maupun tasbih , an-nafii ini keterlaluan karena dia mengingkari, mengingkari dengan maksud untuk menyucikan Allah tasbih juga keterlaluan karena dia menetapkan, dia menetapkan bagi Allah sifat tapi kebablasan, keterlaluan karena dia menetapkan dan selanjutnya dia menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk . Ahlussunnah wal jamaah mereka berada diantara keduanyan
Muatillah ingin mentanjih tapi akhirnya dia menta’til musabihat mereka ingin menishbat akhirnya mereka menyerupakan, ini kesesatan dan penyimpangan adapun ahlussunnah wal jamaah maka Alhamdulillah mereka mentanjih / mensucikan Allah tanpa harus mereka menta’til kita katakan Allah subhanahu wa ta’ala tidak memiliki sifat kekurangan sedikit dan seluruh sifat Allah yang Allah kabarkan kepada kita adalah sifat kesempurnaan kita menyucikan Allah di sini dari seluruh sifat kekurangan Allah subhanahu wa taala memiliki sifat rahmah dan itu adalah Rahmah yang sempurna, Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat ilmu dan itu adalah ilmu yang sempurna, Alhamdulillah kita menyucikan Allah tanpa kita menta’til & kita meng isbat kita menetapkan tanpa kita mentasbih kita tetapkan karena Allah subhanahu wa taala memiliki pendengaran Allah memiliki penglihatan dan itu semua tidak serupa dengan penglihatan dan pendengaran makhluk,
Jadi di sini beliau ingin membantah muatilah dan juga musabihat
Dan tidak mungkin dia akan sampai kepada penyucian yang sebenarnya.
Mensucikan Allah bukan dengan cara mentaatil seperti yang dilakukan oleh muatillah, mensucikan Allah bukan dengan cara mentasbih karena orang-orang musabihat di antara alasan mereka loh kita kan harus menetapkan apa yang Allah tetapkan kalau Allah menetapkan dia beristiwa ya kita tetapkan istiwa dan yang kita tahu adalah istiwa makhluk berarti istiwa Allah sama dengan istiwa makhluk , ini baik muatillah maupun musabihat mereka tidak sampai kepada Tanzih yaitu mensucikan Allah dengan sebenar-benar pensucian, cara untuk mentanjih disebutkan dalam firman Allah
Tidak ada yang serupa dengan Allah sedikitpun dan Dia adalah Dzat yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.
Menetapkan tanpa kita menyerupakan, menetapkan sifat dan kita meyakini bahwasanya sifat tersebut tidak sama dengan sifat makhluk sedikitpun itu Tanzih yang benar
karena sesungguhnya Rabb kita jala wa ala disifati dengan sifat-sifat keEsaan yaitu Maha Esa dalam hal apa Maha Esa dalam rububiyah, Maha Esa dalam nama dan juga sifat Allah, Maha Esa dalam uluhiyah sebagaimana telah berlalu di awal kita ini, maka Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang Maha Esa disifati dengan sifat-sifat keEsaan termasuk diantaranya adalah di dalam masalah nama dan juga sifat Allah, Allah subhanahu wa ta’ala Maha Esa di dalam nama dan juga sifatnya tidak ada yang serupa dengan
Tidak ada yang serupa dengan Allah seorangpun
Allah subhanahu wa ta’ala man’ut (maknanya hampir sama dengan mausuf) ada naab ada was , man’utun disifati bil Utin fardaniyah (dengan sifat-sifat fardaniyah) Al fardinayah maknanya hampir sama dengan wahdaniyah disifati dengan sifat² keEsaan ini menguatkan saja apa yang disebutkan sebelum jadi kalau Allah subhanahu wa taala disifati dengan sifat-sifat keEsaan maka tidak boleh menta’til dan juga tidak boleh mentasbih
yaitu tidak ada di antara makhlukNya yang bersifat dengan sifat-sifat Allah
Tidak ada seorang bariyyah pun seorang makhluk yang serupa dengan Allah subhanahu wa ta’ala ini jadi juga menguatkan pernyataan beliau sebelumnya, intinya di dalam ini dalam paragraf ini ingin menyampaikan kepada kita tentang wahdaniyatullah di dalam masalah namun ada juga sifatnya.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
Beliau mengatakan rahimahullah,
وَمَنْ لَمْ يَتَوَقَّ النَّفْيَ وَالتَّشْبِيهَ زَلَّ
Dan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari menafikan dan juga menyerupakan maka dia akan tergelincir.
Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari 2 perkara ini maka dia akan tergelincir apa yang pertama?
√ menjaga diri dari menafikan, yaitu menta’til datang dalil yang berisi tentang sifat Allah kemudian dia mengingkari dan sudah berlalu bahwasanya ta’til disini bisa ta’til kulliun (seluruhnya dia ta’til) baik nama maupun sifat Allah, atau terkadang namanya ditetapkan tapi dia ingkari sifat Allah atau terkadang nama dia ditetapkan sebagian sifat dia tetapkan, tapi sebagian sifat yang lain dia ta’til/ingkari, maka ini juga masuk An-Nafia, ada ta’tilunkuliun ada ta’tilunjuziun dan ini semuanya bertentangan dengan Firman Allah azza wa jalla
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
Wahai orang² yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah dan juga RasulNya.
Al imam Syafi’i mengatakan,
آمَنْتُ باللهِ، وبما جاء عن اللهِ على مُرادِ اللهِ، وآمَنتُ برَسولِ اللهِ وبما جاء عن رَسولِ اللهِ على مُرادِ رَسولِ اللهِ
Demikian seharusnya seorang muslim bukan malah menafi yaitu mengingkari, menta’til.
Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya nafia maka dia akan zalla maka dia akan tergelincir masuk kedalam ta’til, masuk golongan muatillah, padahal Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih tahu tentang DiriNya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dialah yang lebih tahu tentang diri Allah daripada kita bagaimana seseorang berani menafikan apa yang ditetapkan oleh Allah dan juga RasulNya
وَالتَّشْبِيهَ
Dan Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari tasbih yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk maka dia juga tergelincir, karena ini bertentangan dengan firman Allah
… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ
Tidak ada yang menyerupakan Allah sesuatu apapun, kalau dia menyerupakan Allah berarti dia bertentangan dengan ayat ini dan juga firman Allah,
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Firman Allah
هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
فَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الأمْثَالَ
Dan ayat² yang lain, ayat² tasbih yang isinya adalah mensucikan Allah dari seluruh kekurangan dan tasbih yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk ini adalah mensifati Allah dengan sifat kekurangan, karena makhluk tempat kekurangan, kalau kita mensifati atau menyerupakan Allah dengan makhluk berarti kita mensifati Allah dengan sifat kekurangan, ini adalah penghinaan terhadap Allah sehingga beliau mengatakan -زَلَّ- dia akan tergelincir baik yang mengingkari maupun orang yang menyerupakan, baik ta’til maupun tasbih , an-nafii ini keterlaluan karena dia mengingkari, mengingkari dengan maksud untuk menyucikan Allah tasbih juga keterlaluan karena dia menetapkan, dia menetapkan bagi Allah sifat tapi kebablasan, keterlaluan karena dia menetapkan dan selanjutnya dia menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk . Ahlussunnah wal jamaah mereka berada diantara keduanyan
نافع تنجه بلا تعطيل و إثبات بلا تشبيه
Muatillah ingin mentanjih tapi akhirnya dia menta’til musabihat mereka ingin menishbat akhirnya mereka menyerupakan, ini kesesatan dan penyimpangan adapun ahlussunnah wal jamaah maka Alhamdulillah mereka mentanjih / mensucikan Allah tanpa harus mereka menta’til kita katakan Allah subhanahu wa ta’ala tidak memiliki sifat kekurangan sedikit dan seluruh sifat Allah yang Allah kabarkan kepada kita adalah sifat kesempurnaan kita menyucikan Allah di sini dari seluruh sifat kekurangan Allah subhanahu wa taala memiliki sifat rahmah dan itu adalah Rahmah yang sempurna, Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat ilmu dan itu adalah ilmu yang sempurna, Alhamdulillah kita menyucikan Allah tanpa kita menta’til & kita meng isbat kita menetapkan tanpa kita mentasbih kita tetapkan karena Allah subhanahu wa taala memiliki pendengaran Allah memiliki penglihatan dan itu semua tidak serupa dengan penglihatan dan pendengaran makhluk,
… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
Jadi di sini beliau ingin membantah muatilah dan juga musabihat
ولم يصب التنزيه
Dan tidak mungkin dia akan sampai kepada penyucian yang sebenarnya.
Mensucikan Allah bukan dengan cara mentaatil seperti yang dilakukan oleh muatillah, mensucikan Allah bukan dengan cara mentasbih karena orang-orang musabihat di antara alasan mereka loh kita kan harus menetapkan apa yang Allah tetapkan kalau Allah menetapkan dia beristiwa ya kita tetapkan istiwa dan yang kita tahu adalah istiwa makhluk berarti istiwa Allah sama dengan istiwa makhluk , ini baik muatillah maupun musabihat mereka tidak sampai kepada Tanzih yaitu mensucikan Allah dengan sebenar-benar pensucian, cara untuk mentanjih disebutkan dalam firman Allah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
Tidak ada yang serupa dengan Allah sedikitpun dan Dia adalah Dzat yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.
Menetapkan tanpa kita menyerupakan, menetapkan sifat dan kita meyakini bahwasanya sifat tersebut tidak sama dengan sifat makhluk sedikitpun itu Tanzih yang benar
فَإِنَّ رَبَّنَا – جَلَّ وَعَلَا – مَوْصُوفٌ بِصِفَاتِ الْوَحْدَانِيَّةِ
karena sesungguhnya Rabb kita jala wa ala disifati dengan sifat-sifat keEsaan yaitu Maha Esa dalam hal apa Maha Esa dalam rububiyah, Maha Esa dalam nama dan juga sifat Allah, Maha Esa dalam uluhiyah sebagaimana telah berlalu di awal kita ini, maka Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang Maha Esa disifati dengan sifat-sifat keEsaan termasuk diantaranya adalah di dalam masalah nama dan juga sifat Allah, Allah subhanahu wa ta’ala Maha Esa di dalam nama dan juga sifatnya tidak ada yang serupa dengan
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Tidak ada yang serupa dengan Allah seorangpun
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ
مَنْعُوتٌ بِنُعُوتِ الْفَرْدَانِيَّةِ،
Allah subhanahu wa ta’ala man’ut (maknanya hampir sama dengan mausuf) ada naab ada was , man’utun disifati bil Utin fardaniyah (dengan sifat-sifat fardaniyah) Al fardinayah maknanya hampir sama dengan wahdaniyah disifati dengan sifat² keEsaan ini menguatkan saja apa yang disebutkan sebelum jadi kalau Allah subhanahu wa taala disifati dengan sifat-sifat keEsaan maka tidak boleh menta’til dan juga tidak boleh mentasbih
لَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِ
yaitu tidak ada di antara makhlukNya yang bersifat dengan sifat-sifat Allah
لَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِ
Tidak ada seorang bariyyah pun seorang makhluk yang serupa dengan Allah subhanahu wa ta’ala ini jadi juga menguatkan pernyataan beliau sebelumnya, intinya di dalam ini dalam paragraf ini ingin menyampaikan kepada kita tentang wahdaniyatullah di dalam masalah namun ada juga sifatnya.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]