Halaqah 64: Tidak Benar Keimanan tentang Rukyatullah bagi Sesiapa yang Membayangkan dengan Keraguan dan Mentakwil dengan Akal

Halaqah yang ke-64 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang tidak benar keimanan tentang rukyatullah bagi sesiapa yang membayangkan dengan keraguan dan mentakwil dengan akal.

Masih pembicaranya tentang masalah Ar Rukyat, beliau mengatakan rahimahullah,

وَلَا يَصِحُّ الْإِيمَانُ بِالرُّؤْيَةِ لِأَهْلِ دَارِ السَّلَامِ لِمَنِ اعْتَبَرَهَا مِنْهُمْ بِوَهْمٍ، أَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍ، إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِ بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ

Beliau mengatakan, dan tidak sah tidak shahih tidak benar keimanan dengan adanya Rukyat yaitu rukyatullah Yaumal Qiyamah bagi para penduduk surga.

Darussalam ini adalah nama lain dari Surga, Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan

لَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ

Dar Assalam artinya adalah negeri keselamatan, surga adalah negeri keselamatan tidak ada di sana kesusahan sedikitpun enggak ada orang yang sakit tidak ada orang yang capek tidak ada orang yang mengeluarkan kotoran semuanya adalah kenikmatan semuanya adalah kebaikan tidak benar keimanan terhadap rukyah yaitu melihatnya penduduk surga kepada Allah subhanahu wa ta’ala di hari kiamat

لمن اعتبرها منهم بوهم

Siapa yang tidak sah keimanannya bagi orang yang menganggap bahwasanya ruqyah ini adalah wahm/khayalan saja, Ahlu Sunnah mengatakan bahwasanya Rukyat ini adalah Haq dan tidak sah keimanan seseorang yang mengingkari rukyat dan mengatakan bahwasanya itu hanyalah khayalan saya persangkaan saja

أَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍ

Atau dia mentakwilnya, yang pertama dia menolak mentah-mentah itu yang kedua mengatakan ia melihat tapi dimaknai dan ditakwilkan demikian dan demikian, melihat tapi dengan mata hatinya, jadi ada yang mengikari benar-benar rukyatullah Yaumal Qiyamah dan ada diantara mereka yang mengingkari tapi dengan cara yang halus yaitu dengan cara mentakwilnya.

Tidak benar keimanan yang seperti itu tidak benar, kalau memang kita adalah orang yang beriman maka seharusnya apa yang datang dari Allah dan juga RasulNya ini kita harus menerima dan kita harus berserah diri itu yang harusnya ada di dalam diri seseorang muslim dan juga muslim

۞وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ
۞إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

۞ كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
إنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كما ترون هذا القمر لَيْلَةَ البَدْرِ
لا تُضَامُونَ في رُؤْيَتِهِ

Maka harus Istislam /benar-benar menyerahkan diri oleh orang-orang

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Allah subhanahu wa ta’ala nafikan keimanan dari seseorang sampai dia menjadikan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagai hakim yang memberikan keputusan kemudian dia tidak menemukan di dalam dirinya rasa berat terhadap apa yang sudah diputuskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan dia berserah diri kepada Allah dengan sebenar-benar penyerahan diri,

إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِ

kenapa tidak dibenarkan yang demikian?
Karena mentakwil rukyatullah dan bukan hanya mentakwil rukyatullah, mentakwil seluruh makna Allahualam disini adalah mentakwil seluruh sifat yang disandarkan kepada rububiyah Allah , mentakwil rukyat atau dia mentakwil seluruh makna yang disandarkan kepada Allah, mentakwil sifat yang disandarkan kepada Allah,

بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ

Ini adalah meninggalkan takwil dan berpegang teguh dengan menyerahkan diri dan di atasnya agama Al mursali, di atasnya agama seluruh para Rasul.

Jadi cara memanai rukyat ini maksudnya,

إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِ

karena cara memaknai takwil atau menafsirkan cara memahami cara memahami ruqyat dan seluruh sifat yang disalurkan kepada Allah itu bagaimana? caranya dengan cara meninggalkan takwil, maksudnya adalah takwil yang dipahami oleh orang-orang ahlul kalam, jadi perlu dibedakan di sini takwil yang pertama

إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ

dengan takwil yang ada pada ucapan beliau

بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ

Takwil di sini adalah takwil yang dipahami oleh ahlul kalam yaitu memalingkan sebuah kalimat dari maknanya yang shahih kepada makna yang lain, seperti Al istiwa ditakwil dengan istila, ini maksudnya jadi cara untuk memahami cara untuk memaknai melihat Allah dan juga cara untuk memahami seluruh sifat yang disandarkan kepada Allah adalah dengan cara meninggalkan takwil yang tercela yang menjadi kebiasaan orang-orang ahlu Kalam,

وَلُزُوم التَّسْلِيمِ

Caranya adalah dengan melazimi, berpegang teguh dengan Al Taslim /penyerahan diri , takwil ini berarti belum menyerahkan masih mengutak-atik mencari-cari adapun berpegang teguh dengan menyerahkan diri itu menerima dengan seluruh dalil yang sampai kepada kita menerima dalil yang di dalamnya ada penyebutan sifat Allah & meyakini bahwasanya sifat-sifat Allah tidak sama dengan sifat-sifat makhluk.

Ini adalah termasuk penyerahan diri jadi kalau kita perhatikan maka ahlussunnah wal jamaah mereka adalah orang-orang yang benar-benar menyerahkan diri kepada Allah berbeda dengan ahlul kalam

وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ

Dan di atasnya lah agama seluruh para Rasul yang telah diutus oleh Allah subhanahu wa Ta’Ala kepada manusia maka agama mereka adalah satu yaitu apa Al Islam, apa makna Islam? penyerahan diri

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ

Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
[QS Al Imran 85]

Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam maka tidak diterima darinya dan diakhirat dia termasuk orang² yang merugi.

Yaitu adalah agama para Rasul agama Islam

الأنبياءُ إخوَةٌ لعَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

Para Nabi mereka adalah saudara ibu-ibu mereka berbeda tapi agama mereka satu yaitu Islam.

Apa makna Islam Islam artinya adalah menyerahkan diri, jadi termasuk penyerahan diri kita termasuk konsekuensi dari keislaman kita adalah menerima seluruh apa yang datang dari Allah dan juga RasulNya termasuk diantaranya adalah penyebutan sifat-sifat Allah kemudian juga tentang rukyatullah Yaumal Qiyamah

وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ،

Berarti di sini ada penguatan kembali tentang keharusan beriman dengan rukyatullah.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url