Halaqah 44: Landasan Ke Dua Ma’rifatu Dinil Islam Bil Adillah: Kadar Minimal Rukun-Rukun Iman

thumbnail-cadangan
Materi HSI pada halaqah ke-44 dari halaqah silsilah ilmiyyah abdullah roy bab Kitab Ushul Ats Tsalatsah adalah tentang landasan kedua ma'rifatu dinil islam bil adillah kadar minimal rukun-rukun iman.

Kita sebutkan di sini kadar minimal dari beriman terhadap Rukun Iman yang 6.

Beriman kepada Allah (أن تؤمن بالله)

Maka kadar yang wajib, (minimal/)yang mencukupi) adalah,
  1. Beriman dengan keberadaan Allah, artinya Allah itu ada dan ini harus ada dalam diri seseorang.
  2. Allah adalah Rabb yang memiliki sifat-sifat Rububiyyah. Kalau ada tapi tidak memiliki sifat Rububiyyah berarti dia kurang dari yang minimal (tidak dinamakan beriman kepada Allah).
  3. Meyakini bahwa Rabb adalah yang disembah (ilaah). Kalau dia meyakini wujud Allah, dan meyakini bahwasanya Dia-lah Allah (Rabb), tapi dia tidak menyembah Allah berarti dia kurang dari kadar wajib.
  4. Dia meyakini bahwasanya yang disembah (Rabb) Dia memiliki nama dan juga sifat. Minimal dia meyakini Allah itu punya nama dan juga punya sifat.

Apa sifat-sifatnya?

Sifat-sifat Allah adalah Istiwaa (استواي)، Yad (الْيَدُ), Ashaabi’ (أَصَابِعُ).
Jika dia tidak bisa menyebutkan sifat-sifat Allah (karena tidak tahu) tapi dia yakin bahwa Allah memiliki nama dan sifat, batal tidak keimanannya? Tidak.

Karena kadar minimalnya dia meyakini bahwa Allah itu mempunyai nama dan juga sifat. Masalah perinciannya dia tidak tahu (karena belum belajar) maka itu tidak sampai membatalkan keimanannya. Tapi kalau dia sudah pernah mendengar sebelumnya dan sudah terpatri di dalam hatinya bahwa Allah mempunyai nama dan sifat.

Misalnya, ketika sedang membaca Al-Qur’an, Allah mengatakan : وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ – kemudian dia tahu, “Oh di antara nama Allah adalah ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ”. Ketika dia sudah mendengar, maka dalam keadaan demikian dia harus meyakini bahwa diantara nama Allah adalah ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ .

Dan diantara sifat Allah adalah istiwaa.

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه:5]

Dalam keadaan sudah mendengar maka kewajiban dia untuk meyakini bahwa Allah memiliki sifat Al Istiwaa, dan ini kadar minimal dari beriman kepada Allah.

Beriman dengan Malaikat-Nya (وملائكته)

Beriman dengan malaikat-malaikat-Nya
Kadar minimalnya adalah,
  1. Meyakini bahwasanya Malaikat adalah makhluk. Mereka ada dan mereka adalah makhluk Allah, bukan sekedar hayalan semata atau cerita fiktif semata.
  2. Meyakini ada diantara mereka yang ditugaskan menurunkan wahyu kepada para Nabi.
Dia meyakini, “Oh di sana ada Malaikat yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu.” Ini sudah cukup. Kalau ditanya siapa namanya dan dia tidak tahu maka jangan dihukumi dia orang yang keluar agama Islam.

Karena dia sudah memiliki kadar minimal, jika dia tidak tahu nama Malaikat itu, itu bukan termasuk kadar minimal. Kalau dia tahu nama Malaikat itu, maka ini tambahan (tambahan ilmu). Setelah datang ilmu, maka kewajiban dia untuk meyakini yang demikian.

Setelah datang ilmu bahwasanya Malaikat yang menyampaikan wahyu adalah Jibril, maka kewajiban kita adalah beriman. Oleh karena itu ketika kita mengetahui namanya maka keimanan kita harus bertambah. Harus berbeda antara orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

Sama-sama memiliki kadar minimal. Orang awam, dia punya kadar minimal. Seorang penuntut ilmu ketika dia tahu sebuah ilmu, berarti bertambah keimanannya.

Misalnya, nama Malaikat yang menyampaikan wahyu adalah Jibril, nama lainnya adalah Ruhul Qudus, Ruhul Amin. Dia memiliki sifat Amin dan sifat Qudus, jauh dari dosa, dia bisa menjelma sebagai manusia, dan seterusnya.

Tentunya berbeda keimanan seorang thalabul ilmi dengan seorang awam. Semakin dia banyak menuntut ilmu diharapkan semakin banyak keimanan.

Beriman dengan Kitab-Kitab-Nya (وكتبه)

Maka kadar minimalnya adalah,
  1. Meyakini bahwasanya Allah menurunkan kitab kepada siapa yang Allah kehendaki diantara para Rasul. Allah menurunkan kitab kepada siapa yang Allah kehendaki diantara para Rasul, Jadi dia punya keimanan yang global. Allah menurunkan kitab ke dunia ini kepada Rasul (utusan) bukan kepada sembarang orang. Allah berikan kepadanya kitab di dalamnya ada perintah dan larangan.
  2. Meyakini bahwasanya kitab-kitab tadi digunakan oleh mereka untuk menghukumi diantara manusia karena di dalamnya ada hukum Allah. Mereka menghukumi ini boleh ini tidak, ini halal ini haram, ini wajib ini sunnah dari kitab-kitab tersebut. Jadi secara global dia meyakini kitab-kitab tersebut di dalamnya ada hukum Allah.
  3. Meyakini bahwasanya kitab-kitab sebelum Al-Qur’an telah dihapus dengan Al-Qur’an.
Ini adalah kadar minimal dari beriman dengan Kitab.
Masalah dia tidak tahu tentang kitab Taurat, Injil, Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, itu bukan termasuk kadar minimal. Itu adalah tambahan pengetahuan.

Tapi minimal dia meyakini Allah menurunkan kitab dan kitab-kitab itu untuk menghukumi diantara manusia, dilakukan oleh para Rasul. Dan meyakini bahwasanya Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah naasikhoh (penghapus) terhadap kitab-kitab sebelumnya.

Beriman dengan Rasul-Rasul-Nya (ورسله)

Kadar minimalnya adalah,
  1. Meyakini bahwasanya Allah mengutus para Rasul untuk berdakwah. Allah mengutus (ada utusan) ini keyakinan yang termasuk kadar minimal.
  2. Rasul tersebut mendakwahkan kepada Tauhid.
  3. Rasul yang terakhir adalah Muhammad, tidak ada Rasul setelah Beliau.
Adapun tentang siapakah perincian para Rasul, nama-nama, dan sifat-sifat serta kekhususan para Rasul,maka ini adalah kadar tambahan.

Beriman dengan Hari Akhir (اليوم الآخر)

Kadar minimalnya adalah,
  1. Meyakini bahwasanya Allah akan membangkitkan. Maksudnya Allah akan menghidupkan orang yang sudah meninggal. Minimal meyakini bahwa Allah akan membangkitkan manusia. Kalau sampai keyakinan ini tidak ada, maka dia keluar dari agama Islam.
  2. Meyakini bahwasanya Allah akan membalas. Jadi mereka bukan dibangkitkan lalu dihidupkan kembali setelah itu dibiarkan begitu saja. Tetapi mereka akan dibalas.لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى [النجم:٣١]
  3. Dibalas dengan Surga atau Neraka. Berarti harus meyakini adanya Surga dan Neraka. Nomor 3 ini bisa dimasukkan ke dalam nomor 2.
Adapun perincian yang terjadi di sana, ini adalah kadar tambahan yang kalau kita ketahui secara terperinci akan berpengaruh terhadap keyakinan seseorang.
Jika kita tahu perincian apa yang terjadi di hari akhir adalah tambahan ilmu dan tambahan keimanan.

Beriman dengan Takdir (وبالقدر خيره شره)

Kadar minimalnya adalah,
  1. Beriman bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu yang baik maupun yang buruk sejak dahulu.
  2. Tidaklah terjadi di dunia ini kecuali dengan kehendak-Nya. Ini adalah kadar minimal dari beriman dengan takdir.
Sehingga diharapkan kita mengetahui tentang keadaan diri kita. Dan sebagai seorang da’i, seorang mu’allim, kita harus memiliki target, memiliki kebijaksaan di dalam mendakwahi orang lain.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Ushul Ats Tsalatsah]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Posting Komentar