Halaqah 66: Allah Ta’ala Terbebas Dari Batasan-Batasan

Halaqah yang ke-66 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang Allah ta'ala terbebas dari batasan-batasan.

Beliau mengatakan rahimahullah,

وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ وَالْغَايَاتِ، وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

Maha Tinggi Allah dari batasan²,

Allah subhanahu wa ta’ala adalah yang maha sempurna tidak dibatasi

وَالْغَايَاتِ

Dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Suci dari tujuan²,

ada yang menafsirkan disini dari hajah/ kebutuhan Allah subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha Kaya tidak membutuhkan kita, makhluk dari yang paling kecil sampai yang paling besar (Arsy) yaitu semuanya merekalah yang membutuhkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala,

اَللّٰهُ الصَّمَدُ‌

Dialah yang Ashomad/ seluruh makhluk itu bergantung kepada Allah dan Dialah Al-Ghani yang maha kaya yang tidak butuh dengan makhluk,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
[QS Fatir 15]

Allah menciptakan kita bukan karena butuh kepada kita tapi kitalah yang butuh kepada Allah,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
[QS adz dzariat 56,57]

Aku tidak menginginkan diri mereka rezeki dan Aku menciptakan mereka bukan karena Aku menginginkan mereka memberikan makan kepadaKu. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha memberikan rezeki.

وَالْأَرْكَانِ

Dan Maha Tinggi Allah subhanahu wa ta’ala dari Al-Arkan,

وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ

Ini maknanya hampir sama yaitu anggota badan yang tersusun dari darah daging tulang, Maha Suci Allah dari yang demikian, Allah Subhana wa ta’ala tidak sama dengan makhluk dan bukan berarti di sini beliau mengingkari sifat tangan bagi Allah sifat kaki bagi Allah sifat jari bagi Allah sifat wajah bagi Allah bukan demikian maknanya, tapi yang beliau ingkari di sini adalah kalau yang dimaksud Arkan A’dho disini adalah anggota badan seperti anggota badan manusia yang terdiri dari daging tulang darah maka Maha Suci Allah dari yang demikian, adapun Allah subhanahu wa ta’ala memiliki wajah dan kita menetapkan yang demikian, Allah subhanahu wa ta’ala tangan, memiliki kaki, memiliki jari, maka ketika kita menetapkan bukan berarti kita menyerupakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk bukan berarti kita meyakini Allah memiliki Arkan, ardho dan juga adhawat, karena kita tetapkan itu semua dan kita meyakini bahwasanya tangan, kaki, wajah, Allah tidak sama dengan wajah makhluk,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Jadi yang maksud dari Al imam Abu Jafar ath Thohawiy di sini yang diingkari oleh beliau adalah

وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ

Yang maknanya adalah anggota badan yang dimiliki oleh manusia yang terdiri dari darah daging dan juga tulang, dan istilah-istilah ini ini mungkin banyak di zaman beliau ini istilah-istilah yang dipakai oleh orang-orang Ahlu Kalam, maka kita ahlussunnah mengingkari tentunya

الْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ

Dengan makna seperti ini, kita tidak meyakini yang demikian, kita mengingkari kalau yang mereka maksud dengan

الْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ

Ini adalah anggota badan seperti yang dimiliki oleh manusia maka jelas kalau yang dimaksud kita mengingkari yang demikian – الْغَايَاتِ – kalau yang dimaksud adalah hajat maka kita mengingkari.

Oleh di sini beliau sampaikan oleh Abu Ja’far Ath thohawiy Maha Suci dari yang demikian, kita tidak meyakini bahwasanya Allah punya

الْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ

Tapi kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allah punya wajah yang tidak sama dengan makhluk itu yang kita tetapkan kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allah memiliki kaki yang tidak sama dengan makhluk, sesuai dengan keagungan Allah itu yang dimiliki oleh Ahlussunnah. Jadi beliau mendatangkan istilah-istilah ahlul Kalam di sini karena mungkin saat itu memang tersebar ilmu kalam ini dan beliau menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka bukan berarti beliau termasuk ahlu Kalam menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka ya karena terkadang kalau tidak menggunakan istilah mereka tidak sampai maklumat ini kepada mereka sehingga terpaksa sekarang seseorang menggunakan istilah-istilah mereka supaya mereka memahami ucapan kita bukan berarti Al Imam Abu Ja’far tawawi beliau mendukung Ahlu Kalam karena kita tahu beliau termasuk ahlussunnah wal jamaah

لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

Allah subhanahu wa ta’ala tidak diliputi oleh arah yang enam (depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah) karena enam arah ini makhluqah ini adalah makhluk maka Allah subhanahu wa taala tidak nih diliputi oleh makhluk,

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ

Dialah Allah subhanahu wa taala yang Akbar Dialah yang Maha Besar, tidak diliputi tidak dikuasai dan tidak dikelilingi oleh enam arah. Karena enam arahnya adalah jihad yang makhluqoh

كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

Seperti makhluk² yang diciptakan – الْمُبْتَدَعَاتِ – Al mujada artinya sesuatu yang baru dan yang dimaksud adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah, maka Allah subhanahu wa taala tidak seperti makhluk.

Dan ini juga istilah yang sering dipakai oleh ahlul Kalam dan ini bukan berarti beliau menafikan Ulu’ullah, bukan berarti beliau menafikan ketinggian Allah, karena yang menafsirkan di sini adalah al-jihat al-makhluqah, adapun Ulu’ullah ketinggian Allah subhanahu wa ta’ala maka ini bukan termasuk jihat Al makhluqllah, bukan termasuk arah-arah yang makhluk, ketinggian Allah subhanahu wa taala telah tetap dengan dalil² yang banyak,

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ

Apakah kalian merasa aman dengan yang ada di langit,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Ini semua menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang memiliki sifat Al Uluw, Allah subhanahu wa ta’ala berada diatas, jadi yang beliau nafikan di sini adalah Al jihat yang makhluqah, makanya beliau mengatakan,

كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

Seperti makhluk-makhluk atau seperti seluruh makhluk.

Jadi beliau tidak mengingkari Jihatululw bagi Allah subhanahu wa ta’ala.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url